SEJARAH

Mengungkap Sejarah Desa Triwarno: Dari Nyai RMA Smoro Kuning Hingga Kehidupan Modern

481
×

Mengungkap Sejarah Desa Triwarno: Dari Nyai RMA Smoro Kuning Hingga Kehidupan Modern

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Triwarno di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang dan penuh makna. Nama desa ini berasal dari tiga tokoh leluhur yang sangat dihormati: Nyai RMA Smoro Kuning, Mbah Simbarjati, dan Jaga Niti.

Nyai RMA Smoro Kuning, yang berasal dari Kesultanan Demak Bintoro pada masa Raja Brawijaya terakhir, dikenal sebagai tokoh perempuan pemberani. Konon, ia meninggalkan Demak karena belum sepaham dengan ajaran Islam yang baru masuk, serta mengalami pengabaian dari suaminya. Perjalanan Nyai Smoro Kuning berakhir di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Desa Triwarno.

Menurut H. Tukijan, salah satu narasumber, saat Nyai Smoro Kuning tiba, ia membawa seorang pengikut bernama Raden Jaka Bewu. Dalam pertemuan awal dengan masyarakat setempat untuk menentukan pemimpin desa, terjadi peristiwa mistis: daun jati yang dipotongnya memancarkan darah dan berbau amis. Dari peristiwa ini lahirlah nama awal desa, Desa Jatisari, yang kemudian hilang ratusan tahun berikutnya hingga Mbah Simbarjati muncul dan kemudian Jaga Niti memimpin, mengubah nama menjadi Desa Triwarno.

Nama Triwarno sendiri melambangkan ketiga tokoh yang membangun desa. Hingga kini, masyarakat tetap menghormati ketiga leluhur melalui tradisi tahlilan di makam Nyai Smoro Kuning, disertai seni jamjaneng atau karawitan setiap malam 1 Sura. Kewibawaan mereka diakui tidak hanya di desa, tapi juga di berbagai daerah, termasuk DI Yogyakarta.

Selain sejarah leluhur, Desa Triwarno juga memiliki catatan perjalanan modern yang sarat cerita. Beberapa momen penting termasuk:

  • Tahun 1943, wabah penyakit kulit/koreng melanda desa.
  • Tahun 1963, serangan hama tikus menyebabkan kekurangan pangan.
  • Tahun 1974, banjir bandang Sungai Bedegolan gagal panen, namun tanpa korban jiwa.
  • Tahun 1990, listrik masuk desa, membuka era baru pembangunan.
  • Tahun 1996, Desa Triwarno meraih juara I tingkat nasional dalam pembuatan bibit kayu dan buah-buahan.
  • Tahun 2004, pengaspalan jalan poros desa dan bantuan pembelian tanah kas desa memperkuat infrastruktur lokal.

Sejak masa kepemimpinan kepala desa pertama hingga sekarang, Triwarno terus bertransformasi, memadukan nilai-nilai leluhur dengan pembangunan modern.

Sumber lengkap sejarah dan data pembangunan: triwarno.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.