SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Surobayan Ambal: Dari Sosok Misterius Keturunan Majapahit hingga Dinamika Pemerintahan Desa

448
×

Jejak Sejarah Desa Surobayan Ambal: Dari Sosok Misterius Keturunan Majapahit hingga Dinamika Pemerintahan Desa

Sebarkan artikel ini
GAMBAR ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Surobayan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang sarat nilai budaya dan perjuangan. Berawal dari sosok misterius yang diyakini sebagai keturunan Kerajaan Majapahit, desa ini tumbuh menjadi wilayah yang memiliki identitas kuat hingga saat ini.

Konon, pada masa lampau, datang seorang pendatang yang tidak pernah mengungkapkan identitas aslinya. Ia kemudian menetap dan menjadi tokoh yang dihormati masyarakat setempat. Sosok ini dikenal dengan sebutan Mbah Suroboyo. Peran besarnya dalam membuka wilayah (babad alas) dan membangun kehidupan masyarakat membuat namanya diabadikan sebagai nama desa: Surobayan.

Setelah wafatnya Mbah Suroboyo, masyarakat sepakat menamai wilayah tersebut sebagai Desa Surobayan, meskipun saat itu wilayahnya masih kecil dan belum memiliki kepala desa.

Memasuki tahun 1850-an, sistem pemerintahan desa mulai terbentuk. Kepemimpinan ditentukan melalui penobatan kerajaan, dengan Lurah pertama bernama Wongso Drono. Pada masa ini, sempat terjadi rencana penggabungan wilayah antara Desa Surobayan dan Desa Wedi. Meski awalnya menolak, Wongso Drono akhirnya menerima penggabungan tersebut dengan syarat nama desa tetap Surobayan.

Seiring waktu, kepemimpinan desa terus berganti melalui berbagai mekanisme, dari penunjukan hingga pemilihan demokratis. Nama-nama kepala desa pun tercatat dalam sejarah, mulai dari Surorejo, Niti Diwiryo, hingga kepemimpinan modern oleh Nurkhabib yang masih menjabat hingga sekarang.

Perjalanan Desa Surobayan juga tidak lepas dari berbagai peristiwa penting, baik yang menggembirakan maupun penuh tantangan. Pada tahun 1942, untuk pertama kalinya pemilihan kepala desa dilakukan secara demokratis dan dimenangkan oleh H. Abdul Sukur. Namun, setahun kemudian, desa ini mengalami masa sulit akibat kelaparan dan wabah penyakit.

Selain itu, dampak peristiwa nasional seperti Agresi Militer Belanda II dan Gerakan 30 September juga turut dirasakan oleh masyarakat Surobayan.

Di sisi pembangunan, berbagai kemajuan berhasil dicapai, seperti pembangunan jalan desa secara swadaya pada tahun 1970-an, pendirian puskesmas pada 1980, hingga pembangunan infrastruktur jalan dan irigasi yang terus berlanjut hingga era modern.

Tak hanya itu, Desa Surobayan juga memiliki sejumlah peninggalan bersejarah berupa makam para leluhur yang berjasa dalam membuka wilayah. Di antaranya Makam Mbah Suroboyo, Mbah Lanjar, Mbah Atas Angin, hingga Mbah Nyai Ratu Beruk yang masih terawat dan menjadi bagian penting dari identitas sejarah desa.

Keberadaan situs-situs tersebut menjadi pengingat akan akar sejarah yang kuat sekaligus warisan budaya yang harus dijaga oleh generasi penerus.

Sumber:https://surobayan.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/164


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.