KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Mangunharjo yang berada di Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang sarat nilai budaya, tradisi, dan perjalanan pemerintahan yang dinamis dari masa ke masa.
Secara geografis, Desa Mangunharjo terletak sekitar 800 meter di sebelah timur pusat Kecamatan Adimulyo. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 156 hektare, yang terdiri dari lahan sawah seluas kurang lebih 118,85 hektare dan daratan sekitar 38,10 hektare. Wilayah ini terbagi dalam 4 RW dan 11 RT, serta berada di dataran rendah yang cukup rawan banjir karena dilalui tiga aliran sungai, yakni Kali Turus, Kali Coex, dan Kali Ketex.
Mayoritas penduduk Desa Mangunharjo berprofesi sebagai petani. Pusat pemerintahan desa berada di wilayah RW 01/02, tepatnya di Dukuh Karangkambang.
Awal Mula dan Asal Usul Nama
Sejarah Desa Mangunharjo berawal dari penggabungan lima padukuhan, yaitu Criwik, Pecangkringan, Bulupayung, Karangkambang, dan Duduhan. Dari kesepakatan para tokoh dan sesepuh di masing-masing wilayah, lahirlah nama “Mangunharjo” yang memiliki makna “membangun keselamatan”. Nama ini mencerminkan harapan masyarakat pada masa itu untuk memperbaiki kondisi wilayah yang masih tertinggal dan penuh rawa.
Padukuhan Criwik dikenal sebagai wilayah tertua di Mangunharjo. Di sana terdapat dua makam yang diyakini sebagai cikal bakal desa, salah satunya tokoh bernama Jeng Ngaten. Selain itu, terdapat sendang yang konon digunakan sebagai tempat pemandian kuda pejabat Keraton Yogyakarta.
Karangkambang memiliki cerita tersendiri, di mana tanah pekarangan yang sering tergenang air membuat wilayah ini disebut “karang yang mengambang”. Di dukuh ini terdapat makam tokoh yang dikenal sebagai Mbah Yasis atau Mbah Pacor.
Sementara itu, Pecangkringan berasal dari banyaknya pohon cangkring di wilayah tersebut pada masa lampau. Tradisi tayuban yang pernah berkembang di wilayah ini bahkan masih dilestarikan hingga kini dan digelar setiap dua tahun sekali sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah.
Bulupayung memiliki kisah yang berkaitan dengan pelarian pasukan dari peperangan pada masa lalu. Mereka beristirahat di bawah pohon rindang yang bentuknya menyerupai payung dengan ranting seperti bulu. Dari situlah nama Bulupayung berasal. Wilayah ini juga dikaitkan dengan tokoh-tokoh seperti Pangeran Trenggono, Nyi Maduretno, Siti Sundari, dan Pangeran Joyo Kusumo yang diyakini sebagai abdi Keraton.
Adapun Duduhan berasal dari kisah seorang pejabat Kerajaan Mataram yang pernah singgah dan duduk beristirahat di wilayah tersebut.
Perkembangan Pemerintahan Desa
Catatan sejarah pemerintahan Desa Mangunharjo mulai terdokumentasi sejak tahun 1882, ketika dipimpin oleh Lurah H. Mohammad Ngumar dengan masa jabatan seumur hidup.
Pada tahun 1942, kepemimpinan dilanjutkan oleh Raden Soekarso yang menjabat selama 42 tahun. Kemudian pada tahun 1984, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Sunarko selama sekitar 9 tahun. Masa ini menjadi tonggak awal penataan sistem pemerintahan desa serta masuknya listrik ke wilayah desa.
Pergantian kepemimpinan kembali terjadi pada tahun 1993 dengan Kepala Desa Kodiran. Masa ini diwarnai dinamika reformasi yang sempat menimbulkan gejolak, meski tidak terbukti secara hukum.
Selanjutnya, Suparno memimpin pada tahun 2001, diikuti Sigit Kurniawan pada tahun 2007. Pada tahun 2013, Suparno kembali menjabat dan melakukan penataan struktur perangkat desa sesuai regulasi pemerintah, dengan pembagian tugas yang lebih sistematis.
Pada tahun 2019, kepemimpinan desa dipegang oleh Margono hingga saat ini. Di era modern ini, sistem pemerintahan desa semakin transparan dan akuntabel, terutama dalam pengelolaan anggaran yang harus disampaikan secara rinci kepada pemerintah dan masyarakat.
Namun, tahun 2019 juga menjadi masa yang penuh tantangan dengan munculnya pandemi COVID-19 yang berdampak besar terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat desa.
Warisan Sejarah dan Harapan Masa Depan
Perjalanan panjang Desa Mangunharjo mencerminkan kekuatan nilai kebersamaan, budaya, dan semangat gotong royong masyarakatnya. Dari wilayah yang dulunya penuh keterbatasan, kini Mangunharjo terus berbenah menjadi desa yang lebih maju, transparan, dan berdaya saing.
Sumber:Website Desa Mangunharjo Adimulyo
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















