SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Kedungbulus Prembun: Dari Hutan Belantara hingga Sentra Bengkuang Kebumen

364
×

Jejak Sejarah Desa Kedungbulus Prembun: Dari Hutan Belantara hingga Sentra Bengkuang Kebumen

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kedungbulus, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang berawal dari sebuah wilayah hutan belantara hingga berkembang menjadi desa yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil bengkuang di Kebumen.

Menurut catatan sejarah desa, pada masa lampau wilayah Kedungbulus masih berupa kawasan hutan lebat. Masyarakat yang mendiami wilayah tersebut masih kuat memegang tradisi dan budaya lama, dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Selain itu, agama yang berkembang pada masa itu adalah Hindu dan Buddha.

Dalam kehidupan sosial masyarakat kala itu, berbagai kegiatan sering disertai dengan ritual sesaji atau sajen dalam bahasa Jawa. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan agar setiap hajat masyarakat dapat terlaksana dengan lancar tanpa gangguan.

Perubahan besar terjadi setelah masa penyebaran Islam oleh para Wali Songo. Saat itu datang seorang utusan dari Kerajaan Solo Hadiningrat bernama Syeikh Nur Dawiyah yang bertugas menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kedungbulus dan sekitarnya.

Syeikh Nur Dawiyah kemudian menetap di wilayah tersebut dan melakukan babat alas atau membuka wilayah baru yang kemudian diberi nama Kedungbulus. Nama tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam.

Kata “Kedung” diartikan sebagai tempat yang dalam, sedangkan “Bulus” berasal dari dua suku kata, yaitu “Bu” yang diambil dari kata Qolbu (hati) dan “Lus” yang berarti halus. Secara etimologis, Kedungbulus dimaknai sebagai tempat yang diharapkan memiliki hati yang halus, tidak sombong, serta jauh dari sikap adigang, adigung, adiguna atau kesombongan.

Dalam perjalanan dakwahnya, Syeikh Nur Dawiyah dikenal sebagai ulama yang arif, berilmu tinggi, dan memiliki kharisma yang kuat. Meski demikian, menurut para sesepuh desa, beliau tidak menyukai jika kisah kelebihan dirinya terlalu diceritakan kepada banyak orang.

Hingga kini, makam Syeikh Nur Dawiyah masih dihormati oleh masyarakat sebagai makam leluhur Desa Kedungbulus.

Perjalanan Kepemimpinan Desa

Dalam perjalanan sejarah pemerintahan desa, Kedungbulus telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa sejak masa penjajahan. Beberapa di antaranya adalah Lurah Bethu, Lurah R. Djoyo Dikromo, Nuriyareja, Benureja, hingga Lurah H. Salam.

Memasuki masa Orde Baru, kepemimpinan desa dipegang oleh H. Moch. Khudori, yang tercatat sebagai kepala desa dengan masa jabatan terlama, yakni sekitar 35 tahun. Pada masa itu, posisi Sekretaris Desa dijabat oleh Moch. Zaenudin hingga akhir masa jabatannya pada tahun 2008.

Setelah H. Moch. Khudori purna tugas pada 1988, pemilihan kepala desa dimenangkan oleh Yunus, yang menjabat selama dua periode atau sekitar 16 tahun.

Pada Pilkades tahun 2007, Nasiban terpilih sebagai kepala desa untuk periode 2007–2013. Selanjutnya pada Pilkades 2013, masyarakat kembali memilih pemimpin baru, yakni H. Faiq Hasan, yang memimpin hingga 2019.

Pada pemilihan kepala desa berikutnya yang digelar 19 Juni 2019, H. Faiq Hasan kembali terpilih sebagai kepala desa setelah memenangkan kontestasi melawan Diyah Sulistiyowati.

Struktur Wilayah Desa

Secara administratif, Desa Kedungbulus terbagi menjadi sembilan blok wilayah, yang meliputi kawasan persawahan, lahan kering, permukiman, hingga wilayah pegunungan. Beberapa di antaranya adalah Blok Pandan, Kebaderan, Jembangan Utara dan Selatan, Kedungbulus Wetan, Jombor Selatan dan Utara, hingga Klepu Sawit.

Potensi Alam dan Pertanian

Desa Kedungbulus memiliki posisi yang strategis karena dilalui jalur penghubung antar kabupaten, yakni Kebumen–Wonosobo. Kondisi ini memudahkan akses transportasi dan distribusi hasil bumi masyarakat.

Selain itu, desa ini dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah. Salah satu komoditas unggulan yang terkenal adalah bengkuang, yang selama ini menjadi ciri khas wilayah Prembun.

Bengkuang dari Kedungbulus bahkan menjadi salah satu pemasok utama di Pasar Bengkuang Prembun dan sering dijadikan oleh-oleh khas daerah.

Selain bengkuang, komoditas lain yang menjadi andalan warga adalah tembakau dan kelapa. Pertanian tembakau terutama menjadi sumber penghidupan penting bagi petani lahan kering di desa tersebut.

Dengan potensi sumber daya manusia yang masih menjunjung tinggi nilai adat, tata krama, serta semangat gotong royong, masyarakat Desa Kedungbulus diharapkan mampu terus mengembangkan potensi ekonomi desa dan meningkatkan daya saing hasil bumi mereka.

Sementara itu, berbagai pembangunan infrastruktur desa juga terus dilakukan guna menunjang aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

(Sumber: Website Resmi Desa Kedungbulus)

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.