SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Bocor Kebumen: Dari Masjid Tertua hingga Kisah Perang dan Legenda Keraton

331
×

Jejak Sejarah Desa Bocor Kebumen: Dari Masjid Tertua hingga Kisah Perang dan Legenda Keraton

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Bocor di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang selama ini belum banyak terungkap. Terletak sekitar 10 kilometer di selatan Kota Kebumen dan berada di jalur alternatif Cilacap–Yogyakarta, desa ini ternyata memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah kawasan selatan Jawa Tengah.

Sejumlah situs sejarah serta cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadikan Desa Bocor sebagai salah satu wilayah yang menarik untuk ditelusuri. Salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri hingga kini adalah Masjid Nurul Huda, yang dibangun pada tahun 1819 M. Masjid tersebut dikenal sebagai salah satu masjid tertua di wilayah selatan Kebumen dan kerap dikaitkan dengan peristiwa sejarah pada masa Perang Diponegoro.

Selain peninggalan fisik, Desa Bocor juga disebut dalam berbagai kisah sejarah dan legenda. Dalam cerita lisan masyarakat, desa ini muncul dalam kisah Bupati Gamawijaya yang berkaitan dengan berdirinya Kabupaten Ambal, serta cerita Joko Sangkrip yang berhubungan dengan kemunculan tokoh Tumenggung Arumbinang, pendiri Kabupaten Kebumen dan tokoh penting di Kerajaan Kartasura.

Tak hanya dalam cerita rakyat, nama Bocor juga tercatat dalam berbagai sumber sejarah tertulis. Dalam Babad Parahyangan, wilayah ini disebut sebagai tempat kekuasaan Pangeran Bocor, seorang tokoh dari Galuh Pakuan yang mengungsi setelah kalah dalam konflik keluarga. Sementara dalam Babad Pasir, Bocor menjadi tempat pengungsian seorang bupati dari Banyumas yang melarikan diri setelah kerajaannya diserang oleh Kesultanan Demak.

Seiring perjalanan sejarah, Desa Bocor juga dikenal sebagai wilayah perdikan yang dikuasai oleh Ki Ageng Bocor, seorang pengikut setia Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang yang turut mendukung berdirinya Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati.

Bahkan dalam catatan sejarah, Sunan Amangkurat I juga disebut pernah singgah di wilayah Bocor ketika melakukan pelarian menuju Batavia setelah mengalami kekalahan dalam pemberontakan Trunojoyo.

Melihat banyaknya potensi sejarah yang tersebar dalam bentuk situs, arsip, maupun cerita tutur, tokoh masyarakat Desa Bocor bersama perangkat desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) berinisiatif menyusun sejarah desa secara lebih sistematis.

Untuk mendukung upaya tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengadakan pelatihan penelusuran arsip dan sumber lisan pada 28 Agustus 2009. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 15 peserta yang terdiri dari perangkat desa dan anggota BPD.

Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pengetahuan tentang cara mencari arsip sejarah, teknik menggali sumber lisan dari para tokoh masyarakat dan sesepuh desa, serta metode menyusun kerangka sejarah desa. Dari kegiatan tersebut juga terbentuk panitia khusus yang bertugas menelusuri berbagai sumber sejarah terkait Desa Bocor.

Para peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan, terutama saat berdiskusi mengenai cara menemukan arsip pendirian desa maupun teknik mencatat cerita lisan yang disampaikan oleh para tetua desa.

Upaya penyusunan sejarah desa ini dinilai penting, tidak hanya untuk melestarikan warisan sejarah, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap identitas desanya. Dengan memahami sejarahnya sendiri, masyarakat diharapkan semakin memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga dan mengembangkan potensi desa.

Desa Bocor sendiri juga memiliki legenda menarik mengenai asal-usul namanya. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu terdapat seorang bupati dari Keraton Surakarta yang memberontak kepada rajanya dan menetap di wilayah tersebut. Ia kemudian dikalahkan setelah rahasia kekuatannya terbongkar oleh seorang putri keraton yang dikirim untuk merayunya. Dari peristiwa terbongkarnya rahasia itu, wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama “Bocor”.

Menurut cerita masyarakat, tokoh bernama Mbah Kopek kemudian menjadi cikal bakal penduduk yang menata wilayah tersebut hingga berkembang menjadi Desa Bocor seperti sekarang.

Seiring waktu, desa ini dipimpin oleh sejumlah kepala desa yang silih berganti hingga saat ini, mencerminkan perjalanan panjang pemerintahan desa dan dinamika kehidupan masyarakat setempat.

Dengan kekayaan sejarah yang dimiliki, Desa Bocor memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan sejarah lokal bagi generasi mendatang.

Sumber: Website resmi Desa Bocor

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.