KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Benerkulon, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang memadukan legenda, sejarah, serta dinamika kehidupan masyarakat dari masa ke masa. Berawal dari kawasan hutan belantara, desa ini tumbuh menjadi wilayah yang sarat nilai budaya dan sejarah lokal.
Asal Usul Desa: Kisah Kyai Anggur dan Kyai Rohman
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Desa Benerkulon dahulu merupakan hutan lebat. Hingga suatu ketika, datang dua tokoh sakti dan bijaksana, yakni Kyai Anggur dan Mbah Kyai Rohman, yang merupakan abdi dari Raden Baribin, putra Kerajaan Mataram.
Keduanya membuka lahan sekitar 150 hektare, yang kemudian dibagi menjadi tiga pedukuhan, yaitu Dukuh Grembul, Dukuh Granayan, dan Dukuh Benerpasar. Dari sinilah cikal bakal Desa Benerkulon mulai terbentuk.
Perjalanan spiritual juga menjadi bagian penting dari sejarah desa. Mbah Kyai Rohman dikisahkan menunaikan ibadah ke Tanah Suci Mekkah. Sepulangnya, beliau dikenal dengan nama KH Abdurrohman. Namanya kemudian diabadikan menjadi Masjid Baiturohman yang hingga kini masih berdiri di Desa Benerkulon.
Sementara itu, Kyai Anggur dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Petilasan Mbah Kyai Anggur. Setiap tahun, masyarakat setempat menggelar pentas wayang kulit di lokasi tersebut sebagai bagian dari tradisi sedekah bumi atau “memetri bumi” yang dilaksanakan pada bulan Suro.
Konflik dan Penamaan Desa
Legenda juga mencatat adanya konflik antara Raden Baribin dengan utusan Kerajaan Mataram bernama Gondrek Jogo Yudo. Utusan tersebut datang untuk meminta Raden Baribin kembali ke Mataram, namun ditolak.
Perselisihan berujung perkelahian selama 12 hari. Dalam pertempuran tersebut, Gondrek Jogo Yudo tewas terkena tombak. Sebelum meninggal, ia berpesan agar wilayah tersebut diberi nama “Bener”.
Seiring waktu, wilayah tersebut kemudian terbagi menjadi dua bagian, yaitu Benerwetan (sebelah timur) dan Benerkulon (sebelah barat).
Perjalanan Sejarah: Dari Masa Sulit hingga Pembangunan
Selain legenda, Desa Benerkulon juga memiliki catatan sejarah panjang yang menggambarkan berbagai peristiwa penting:
- 1943: Terjadi kelaparan dan wabah penyakit kulit
- 1947–1948: Masa penjajahan Belanda II
- 1950–1951: Pemberontakan AOI
- 1964–1965: Dampak peristiwa G30S/PKI
- 1970: Wabah demam melanda masyarakat
- 1973: Paceklik, bantuan beras bulgur, serta longsor di wilayah RW II
- 1980–1981: Bantuan sapi dan ayam, serta mulai dirintis kesenian wayang kulit dan kuda kepang
- 1982: Bantuan ternak dan dampak letusan Gunung Galunggung
- 1984: Pembangunan balai desa secara swadaya
- 1986: Banjir besar di RW 01
- 1988: Pembangunan akses jalan dan longsor di Prapatan
- 1995–2004: Berbagai bantuan pemerintah, termasuk modal usaha, perumahan, hingga ternak, meski beberapa mengalami kendala akibat penyakit
Sejarah ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Benerkulon telah melalui berbagai tantangan, mulai dari bencana alam, wabah penyakit, hingga masa penjajahan, sebelum akhirnya berkembang seperti saat ini.
Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa
Perjalanan panjang Desa Benerkulon juga tidak lepas dari peran para pemimpin desa, mulai dari Lurah Sawijoyo hingga Kepala Desa Edi Rusiyanto yang menjabat periode 2019–2025.
Kepemimpinan yang silih berganti ini menjadi bagian penting dalam pembangunan desa, baik dari segi infrastruktur, sosial, maupun budaya.
Menjaga Warisan, Merawat Tradisi
Hingga kini, masyarakat Desa Benerkulon tetap menjaga tradisi leluhur, seperti sedekah bumi dan pertunjukan wayang kulit. Tradisi tersebut bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol rasa syukur serta upaya melestarikan budaya lokal.
Desa Benerkulon menjadi contoh bagaimana legenda dan sejarah dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman, membentuk identitas masyarakat yang kuat dan berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.
Sumber:
Website resmi Desa Benerkulon
https://benerkulon.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/71
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















