BANJURMUKADAN, Kebumen24.com – Desa Banjurmukadan di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah dan legenda menarik yang hingga kini masih diceritakan dari generasi ke generasi. Nama desa ini dipercaya berasal dari sebuah peristiwa religius yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam pada masa lampau.
Menurut cerita para sesepuh desa, pada zaman dahulu datang seorang tokoh dari Keraton Demak bernama Syeh H. Abdul Halim. Saat tiba di wilayah yang kini menjadi Desa Banjurmukadan, ia menemukan masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan terhadap kekuatan alam.
Dalam kondisi tersebut, Syeh Abdul Halim terus berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar niat baiknya dalam menyebarkan ajaran Islam dapat diterima oleh masyarakat setempat.
Doa tersebut konon dikabulkan dengan sebuah kejadian yang dianggap sebagai keajaiban. Suatu hari, Syeh Abdul Halim menemukan mahkota masjid serta sumber mata air yang muncul secara misterius dan tidak diketahui asal-usulnya.
Peristiwa itu kemudian menjadi titik balik perubahan masyarakat setempat. Syeh Abdul Halim mengumumkan kepada warga agar datang dan membasuh atau “membanjur” muka mereka menggunakan air dari sumber tersebut.
Awalnya sebagian masyarakat mencemooh dan meragukan ajakan tersebut. Namun setelah menyaksikan peristiwa yang dianggap penuh keajaiban, masyarakat perlahan menerima ajaran Islam dan mulai mengikuti dakwah yang disampaikan.
Sejak saat itu, masjid yang berdiri di tempat tersebut diberi nama Masjid Al-Hidayah, sebagai simbol petunjuk dari Allah SWT. Sementara desa tersebut kemudian dikenal dengan nama Banjurmukadan, yang berasal dari kata “banjur” (membasuh) dan “muka”.
Perjalanan Kepemimpinan Desa
Seiring berjalannya waktu, Desa Banjurmukadan berkembang dan dipimpin oleh sejumlah kepala desa yang silih berganti.
Berdasarkan catatan sejarah desa, pada tahun 1910 hingga 1922 kepemimpinan desa dipegang oleh Ronorejo. Selanjutnya pada 1923–1932 dipimpin oleh Ronodibroto, kemudian Mad Sengaja memimpin pada periode 1933–1944.
Setelah masa kemerdekaan Indonesia, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Efendi pada periode 1945–1962, kemudian Sukijo memimpin cukup lama dari 1963 hingga 1986.
Pemilihan kepala desa secara demokratis mulai dilaksanakan pada tahun 1987, yang dimenangkan oleh Sunaryo hingga tahun 1996. Pemilihan berikutnya pada 1997 dimenangkan oleh Sukamto yang menjabat sampai 2003.
Pada periode 2003–2006, jabatan kepala desa sempat dijabat oleh Purwito sebagai pejabat kepala desa. Selanjutnya pada 2007, pemilihan kembali digelar dan dimenangkan oleh Rujito.
Pemilihan kepala desa berikutnya berlangsung pada 2013 dan dimenangkan oleh Lukito. Kemudian pada 2019, masyarakat kembali memilih pemimpin desa dan Ryan Sugi Abdi terpilih sebagai kepala desa.
Hingga kini, kisah asal-usul Desa Banjurmukadan tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat, sekaligus menjadi pengingat perjalanan panjang desa yang bermula dari legenda penyebaran Islam di wilayah pesisir Kebumen.
Sumber: Website Pemerintah Desa Banjurmukadan
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















