SEJARAH

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Jatisari: Dari Cerita Sesepuh hingga Pembangunan Desa

248
×

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Jatisari: Dari Cerita Sesepuh hingga Pembangunan Desa

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki cerita panjang yang membentuk identitasnya. Begitu pula dengan Desa Jatisari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Meski referensi tertulis mengenai asal-usul desa ini masih sangat terbatas, kisah sejarahnya tetap hidup melalui cerita para sesepuh dan catatan perjalanan pemerintahan desa dari masa ke masa.

Hingga kini, belum ditemukan pustaka resmi yang menjelaskan secara rinci kapan Desa Jatisari terbentuk ataupun legenda yang melatarbelakanginya. Namun, berbagai kisah yang diwariskan secara turun-temurun menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan desa tersebut.

Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa

Berdasarkan penuturan para tokoh masyarakat, perjalanan pemerintahan Desa Jatisari dapat ditelusuri sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Sejumlah kepala desa telah memimpin dan memberi warna tersendiri dalam pembangunan desa.

Kepemimpinan pertama yang tercatat adalah Santika yang menjabat pada tahun 1942 hingga 1955. Setelah itu, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Mad Parlan (1955–1963). Masa kepemimpinan berikutnya dipegang Abdul Latif yang memimpin cukup lama, yakni dari tahun 1963 hingga 1989.

Selanjutnya, Desa Jatisari dipimpin Sri Endang Tusnaeni pada periode 1989–1999. Setelah itu, Budi Utomo menjabat sebagai kepala desa pada tahun 2000–2006, dilanjutkan oleh Iskandar (2006–2010).

Pada tahun 2010–2011, pemerintahan desa dipimpin oleh Moh. Miftachudin sebagai penjabat kepala desa. Kepemimpinan definitif kemudian dipegang Muslichudin pada periode 2011–2017.

Pada tahun 2017 sempat terjadi masa transisi dengan Slamet Riyadi sebagai penjabat kepala desa, sebelum akhirnya Muslichudin kembali dipercaya memimpin Desa Jatisari untuk periode 2017–2023.

Perjalanan Pembangunan dan Tantangan Desa

Seiring berjalannya waktu, Desa Jatisari juga mengalami berbagai peristiwa penting yang menjadi bagian dari dinamika pembangunan desa.

Pada tahun 2010, salah satu persoalan yang sempat menjadi perhatian adalah masalah persampahan yang belum tertangani secara optimal. Namun perlahan, berbagai program pembangunan mulai dilakukan.

Tahun 2011 menjadi awal sejumlah pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jaringan irigasi di Dukuh Wonoboyo, pengaspalan Jalan Bhayangkara dengan bantuan Dinas PU Kebumen, serta pembangunan rabat beton jalan setapak di lingkungan warga.

Selain itu, melalui program bantuan dari pemerintah daerah, beberapa rumah warga yang membutuhkan juga mendapatkan bantuan pembangunan.

Pada tahun-tahun berikutnya, pembangunan terus berlanjut, mulai dari pagar makam Maqbarotul Muslim, pembangunan gudang desa, hingga pengukuran ulang tanah kas desa bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kebumen.

Pengelolaan lingkungan juga mulai diperkuat dengan pembangunan TPST Rukun Asri, termasuk kantor bank sampah, talud, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Di bidang pendidikan dan sosial, Desa Jatisari juga membangun PAUD Cahaya Asri, serta melanjutkan pembangunan sarana pendidikan seperti TK Nurul Iman.

Tantangan Kesehatan dan Bencana

Selain pembangunan, Desa Jatisari juga pernah menghadapi sejumlah tantangan. Pada tahun 2015 misalnya, desa ini sempat dilanda wabah demam berdarah yang membuat pemerintah desa melakukan langkah cepat dengan program fogging.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2020 hingga 2021, Desa Jatisari turut terdampak pandemi COVID-19, sebagaimana banyak wilayah lainnya di Indonesia.

Inovasi dan Kelembagaan Desa

Dalam upaya meningkatkan kemandirian ekonomi, pada tahun 2017 dibentuk BUMDes Jatisari Mandiri yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kepengurusan pada tahun 2019.

Pada tahun 2018 juga digelar Pilkades, di mana Muslichudin kembali terpilih sebagai kepala desa.

Sementara pada tahun 2022, Desa Jatisari membentuk Tim Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Di tahun yang sama, pemerintah desa juga menyalurkan bantuan bagi siswa kurang mampu berupa perlengkapan sekolah.

Perjalanan panjang Desa Jatisari menunjukkan bahwa meskipun sejarah tertulisnya belum sepenuhnya terdokumentasi secara lengkap, semangat pembangunan dan gotong royong masyarakat terus menjadi fondasi utama dalam membangun desa yang lebih maju.

Sumber: Website resmi Desa Jatisari

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com