SEJARAH

Legenda Desa Jemur: Dari Hutan Belantara hingga Menjadi Permukiman Bersejarah di Kebumen

659
×

Legenda Desa Jemur: Dari Hutan Belantara hingga Menjadi Permukiman Bersejarah di Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik tenangnya suasana pedesaan di wilayah Desa Jemur, tersimpan kisah legenda yang sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan filosofi kehidupan. Konon, wilayah yang kini menjadi salah satu desa di Kecamatan Kebumen itu dahulu merupakan hutan belantara yang mulai dibuka sekitar tahun 1800.

Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, wilayah tengah yang kini dikenal dengan sebutan Clowok pertama kali dibuka oleh tiga tokoh pinujul atau tokoh pembuka desa, yakni Eyang Sang Prabu, Eyang Singa Laksono, dan Eyang Watu. Ketiganya disebut sebagai manfataha qoryah atau orang yang pertama membuka wilayah Desa Jemur dengan cara membakar hutan belantara yang masih sangat lebat pada masa itu.

Pembukaan wilayah tersebut terjadi pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram. Seiring waktu, wilayah yang mulai dihuni itu kemudian berkembang menjadi permukiman kecil yang terus bertambah penduduknya.

Kisah Raden Nalajaya dan Kedung Kracak

Dalam legenda masyarakat, tokoh penting lain yang disebut dalam sejarah awal Desa Jemur adalah Raden Nalajaya. Ia mendapat perintah dari Ki Ageng Kajoran (Mbah Lugu) untuk membuka wilayah di sebelah timur Sungai Luk Ulo.

Saat perjalanan, Nalajaya sempat singgah di wilayah Clowok yang sudah dihuni beberapa orang. Namun karena perintahnya adalah membuka wilayah di timur Luk Ulo, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat dan mulai membuat sebuah parit besar yang kini dikenal sebagai saluran induk Kaligending. Uniknya, panjang parit tersebut konon diukur menggunakan lawe atau benang.

Setelah parit selesai dibuat, Nalajaya melakukan perenungan di sebuah kedung yang dipenuhi bebatuan dan suara gemericik air. Dalam cerita rakyat setempat, tempat itu dipercaya menjadi lokasi pertarungan antara Nalajaya dengan makhluk gaib selama tiga hari tiga malam. Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal dengan nama Kedung Kracak, merujuk pada suara bebatuan dan air yang saling beradu.

Seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut semakin ramai didatangi pendatang yang kemudian menetap, berkeluarga, dan membangun kehidupan baru. Interaksi antara penduduk wilayah tengah, barat, dan daerah sekitar perbukitan akhirnya membentuk satu kesatuan permukiman.

Asal Usul Dukuh Clowok

Di salah satu wilayah desa, terdapat sebuah pohon besar yang sangat terkenal pada masa itu, yang disebut Pohon Clowok. Di bawah pohon tersebut terdapat sumber mata air atau belik yang menjadi sumber kehidupan warga.

Nama pohon itulah yang kemudian diabadikan menjadi Dukuh Clowok, yang dalam administrasi desa saat ini dikenal sebagai Dukuh Sidomukti. Selain itu, wilayah lain seperti Sokawera dan Kedungkracak juga menjadi bagian penting dalam perkembangan awal Desa Jemur.

Di kawasan pegunungan sekitar desa juga dikenal beberapa tempat yang hingga kini masih disebut oleh masyarakat, seperti Watu Ngadeg, Istana Kyai, serta sumber air pegunungan yang dikenal dengan Pancuran Kedungkracak.

Perkembangan Islam dan Peradaban Desa

Perkembangan Desa Jemur tidak lepas dari peran tokoh agama pada masa lampau. Salah satu tokoh yang dikenal adalah Kyai Abdurokhman, yang berdakwah di wilayah Clowok atau Sidomukti. Dari sinilah kehidupan sosial dan peradaban masyarakat mulai berkembang lebih teratur.

Selain itu, perjuangan penyebaran Islam di wilayah ini juga disebut berkaitan dengan tokoh Syekh Abdul Manan, yang bersama Raden Nalajaya turut berperan dalam dakwah Islam di wilayah Jemur, Karangtanjung, hingga Kemangguan di Kecamatan Alian.

Filosofi Nama “Jemur”

Nama Jemur sendiri memiliki kisah filosofis yang menarik. Menurut cerita, para tokoh keturunan Nalajaya yang tinggal di wilayah Clowok, Sokawera, dan Kedungkracak berkumpul untuk menentukan nama daerah mereka.

Mereka melakukan tapa pluat atau pendem, semacam ritual perenungan untuk memohon petunjuk. Dari proses tersebut muncul ilham berupa huruf “ja, da, ma” dengan sandangan layar. Awalnya nama yang hendak dipilih adalah “Jamar”, yang berarti manusia yang ramah (jalma/manungsa kang ramah).

Namun setelah musyawarah panjang, huruf tersebut diolah menjadi “Jemur”. Secara filosofis, huruf “Ja” dimaknai sebagai datang, sedangkan “Ma” dimaknai sebagai manusia atau perkara kehidupan, sementara sandangan layar melambangkan kehidupan atau kejayaan.

Makna tersebut menggambarkan harapan agar wilayah ini menjadi tempat datangnya manusia yang hidup rukun, berkembang, dan berjaya.

Perjalanan Pemerintahan Desa

Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Jemur telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa sejak masa kemerdekaan Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:

  • R. Suwarno (1945–1973)
  • Marboeno (1973–1981)
  • Suwardi (1981–1989)
  • H. Sutarto Ilyas (1989–1997)
  • Basiran (1997–1999) – masa jabatan tidak selesai
  • Muslihun (Pj Kades, 1999–2001)
  • Slamet Susilo (2001–2007)
  • Machasin (Pj Kades, 2007)
  • Akhmad Khaeroni, S.HI (2007–2011) – berhenti karena menjadi CPNS Kemenag
  • Sodikin (Pj Kades, 2011)
  • Eni Budiwati (2011–2017) – kepala desa perempuan pertama
  • Eny Budiwati (2017–2023) – menjabat untuk periode kedua

Hingga kini, Desa Jemur terus berkembang menjadi desa yang memadukan sejarah, budaya, serta nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur.

Sumber: Website desa Jemur


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.