SEJARAH

Sejarah Tradisi Tenongan dan Wayangan di Wonosari Kebumen, Warisan Leluhur yang Masih Terjaga

229
×

Sejarah Tradisi Tenongan dan Wayangan di Wonosari Kebumen, Warisan Leluhur yang Masih Terjaga

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Kabupaten Kebumen dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi budaya warisan leluhur. Salah satu tradisi yang hingga kini masih lestari adalah Tradisi Tenongan dan Wayangan yang hidup di Dusun Wonosari, Desa Wonosari, Kecamatan Kebumen.

Tradisi ini biasanya digelar dalam rangka Merdi Bumi atau Sedekah Bumi, sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan desa.

Dalam tradisi Tenongan, masyarakat membawa tenong atau wadah makanan berbentuk bulat yang berisi berbagai hidangan khas. Uniknya, tenong-tenong tersebut harus dibawa oleh para perempuan dari masing-masing keluarga menuju lokasi yang telah ditentukan, biasanya di tempat yang akan dijadikan lokasi pagelaran Wayang Kulit.

Setelah seluruh tenong terkumpul, warga kemudian menggelar doa bersama untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT. Usai doa, makanan yang dibawa dalam tenong tersebut dimakan bersama-sama oleh masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Tokoh ulama setempat, K. Sukirman, S.Pd, menjelaskan bahwa tradisi perempuan membawa tenong merupakan kebiasaan turun-temurun yang sudah ada sejak lama.

“Tradisi ini mengandung pesan moral bahwa seorang istri hendaknya berbakti kepada suami serta menjaga keharmonisan keluarga,” jelasnya.

Menariknya, tradisi tenongan di Dusun Wonosari tidak hanya dilaksanakan saat Sedekah Bumi. Tradisi ini juga kerap dilakukan dalam momentum keagamaan seperti perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, sebagai bentuk mempererat silaturahmi antarwarga.

Asal Usul Tradisi Wayangan

Selain tenongan, masyarakat Wonosari juga memiliki tradisi pagelaran wayang kulit yang erat kaitannya dengan sejarah desa.

Menurut keterangan Riyanto, salah satu tokoh masyarakat Dusun Wonosari, tradisi wayangan ini konon bermula sekitar tahun 1800-an.

Kala itu terdapat seorang pendatang bernama Abi Sara, sosok yang dikenal baik, jujur, dan rendah hati. Ia memiliki keinginan untuk memiliki wilayah kekuasaan di daerah tempat ia tinggal.

Untuk mendapatkan petunjuk, Abi Sara kemudian berdoa memohon kepada Allah SWT. Dalam perjalanan spiritualnya, ia mendapat petunjuk untuk menuju sebuah pegunungan yang dikenal dengan nama Kebajangan guna menemui sosok bernama Nawang Wulan.

Dalam pertemuan tersebut terjadi sebuah perjanjian. Nawang Wulan bersedia membantu mewujudkan keinginan Abi Sara dengan syarat harus menyediakan sesaji atau caos. Sebagai balasannya, Abi Sara berjanji jika kelak keinginannya memiliki wilayah kekuasaan tercapai, ia akan mengadakan syukuran berupa pertunjukan wayang setiap kali menggelar hajatan desa.

Setelah memenuhi syarat tersebut, keinginan Abi Sara akhirnya terwujud. Ia memperoleh wilayah kekuasaan dengan cara membuka hutan, yaitu membakar dedaunan dan pepohonan. Wilayah yang terbakar dan berhenti dengan sendirinya kemudian menjadi batas daerah kekuasaannya.

Setelah kawasan tersebut menjadi lahan terbuka, Abi Sara menanaminya dengan berbagai tanaman. Konon, tanaman-tanaman itu tumbuh sangat subur. Karena itulah wilayah tersebut diberi nama Wanasari atau Wonosari, yang berasal dari kata Wono berarti hutan atau pegunungan, dan Sari yang berarti subur.

Tradisi wayangan hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat Dusun Wonosari. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, setiap wilayah memiliki danyang atau penjaga bumi yang berbeda-beda. Di wilayah Wonosari dipercaya dijaga oleh sosok Danyang Ronggeng, yang identik dengan suasana keramaian dan hiburan rakyat.

Sepeninggal Abi Sara, kepemimpinan wilayah tersebut kemudian dilanjutkan oleh Abi Yasa, dan selanjutnya oleh Tumenggung Kertabahu, yang konon merupakan keturunan Kerajaan Mangkunegaran Surakarta. Hingga kini, makam Tumenggung Kertabahu masih terawat dengan baik di wilayah Dukuh Wonosari.

Tradisi Tenongan dan Wayangan pun terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Wonosari sekaligus simbol kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada sejarah desa.

Sumber; Website Resmi Desa Wonosari


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.