SEJARAH

Asal-usul Nama Desa Ngasinan Kebumen: Ternyata Berawal dari Jamuan Para Raja

474
×

Asal-usul Nama Desa Ngasinan Kebumen: Ternyata Berawal dari Jamuan Para Raja

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik nama sebuah desa, sering tersimpan kisah panjang yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakatnya. Hal itu juga berlaku bagi Desa Ngasinan, yang berada di wilayah Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen. Desa ini memiliki cerita unik tentang asal-usul namanya yang dipercaya berasal dari peristiwa pertemuan para tokoh dan raja pada masa lampau.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu kala para tokoh dan raja berkumpul di sebuah pendopo untuk mengadakan pertemuan besar. Dalam pertemuan tersebut digelar sebuah jamuan atau pesta yang dikenal dengan istilah Gembul Bujono, yaitu acara makan bersama yang menyajikan berbagai makanan dan minuman.

Namun ada satu kejadian yang kemudian menjadi asal-usul nama desa ini. Saat para tokoh menikmati minuman yang disajikan, mereka merasakan bahwa minuman tersebut memiliki rasa asin. Dari peristiwa itulah kemudian muncul kesepakatan untuk menamai wilayah tersebut sebagai Desa Ngasinan, yang merujuk pada rasa asin yang dirasakan saat jamuan berlangsung.

Sejak saat itu, wilayah tersebut berkembang menjadi sebuah desa yang kemudian terbagi dalam beberapa pedukuhan, yakni Krajan 1, Krajan 2, Krajan 3, Kalang, dan Sidodadi.

Nama Krajan sendiri diyakini berasal dari kata kerajaan, yang menggambarkan bahwa wilayah tersebut dahulu memiliki kaitan dengan pusat kekuasaan atau tempat berkumpulnya para tokoh penting.

Sementara Pedukuhan Kalang dikenal sebagai wilayah yang dikelilingi oleh sungai dan area persawahan. Adapun Pedukuhan Sidodadi bermula dari kawasan yang hanya memiliki beberapa rumah saja, namun seiring waktu jumlah penduduk terus bertambah hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah pedukuhan.

Seiring terbentuknya desa dan pedukuhan, sistem pemerintahan desa juga mulai berkembang dengan adanya Kepala Desa (Lurah), Sekretaris Desa, perangkat desa seperti kaur dan kasi, serta kepala dusun atau bayan di masing-masing pedukuhan.

Tradisi dan Kearifan Lokal yang Masih Terjaga

Hingga kini, masyarakat Desa Ngasinan masih menjaga berbagai tradisi dan adat istiadat yang menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka.

Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan adalah Syuran atau Memetri Bumi, sebuah ritual syukuran atas hasil bumi dan keselamatan desa. Dalam tradisi ini, masyarakat di wilayah Krajan 1, Krajan 2, dan Krajan 3 biasanya melakukan penyembelihan kerbau sebagai bagian dari ritual. Sementara masyarakat Pedukuhan Kalang dan Sidodadi melaksanakan tradisi serupa dengan menyembelih kambing.

Selain itu terdapat pula tradisi Ruwah atau Nyadran, yaitu slametan untuk mendoakan arwah para leluhur dan keluarga yang telah meninggal dunia. Dalam tradisi ini masyarakat juga mengenal berbagai tahapan doa bagi orang yang wafat, seperti slametan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, mendak, hingga nyewu.

Tradisi keagamaan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Ngasinan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra Mi’raj rutin dilaksanakan di masjid maupun mushola sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Kepedulian sosial juga tampak melalui kegiatan santunan anak yatim yang dilaksanakan setiap bulan. Dana kegiatan ini berasal dari pengumpulan koin dari masyarakat secara rutin.

Di bidang pendidikan keagamaan, anak-anak Desa Ngasinan juga aktif mengikuti kegiatan Madrasah atau TPQ yang dilaksanakan setiap hari sekitar pukul 16.00 WIB di masjid maupun mushola. Sementara para orang tua rutin mengikuti kegiatan yasinan dan tahlil yang digelar seminggu sekali di masing-masing pedukuhan.

Semangat gotong royong juga menjadi ciri khas masyarakat Desa Ngasinan. Setiap ada kegiatan pembangunan desa, warga selalu menunjukkan dukungan dan partisipasi aktif demi kemajuan bersama.

Dengan berbagai tradisi yang masih terjaga hingga saat ini, Desa Ngasinan tidak hanya menyimpan sejarah unik tentang asal-usul namanya, tetapi juga menjadi contoh desa yang tetap mempertahankan nilai kebersamaan, budaya, dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Sumber: Website resmi Desa Ngasinan.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.