SEJARAH

Legenda Desa Wonokromo: Jejak Babat Alas Ki Gede Wangsa Kerti yang Masih Dikenang Warga

515
×

Legenda Desa Wonokromo: Jejak Babat Alas Ki Gede Wangsa Kerti yang Masih Dikenang Warga

Sebarkan artikel ini
Exif_JPEG_420

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik tenangnya perbukitan Kecamatan Alian, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul Desa Wonokromo. Cerita ini bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kisah tersebut berawal dari sosok tokoh yang dipercaya sebagai perintis desa, yakni Ki Gede Wangsa Kerti atau yang dikenal masyarakat sebagai Buyut Wangsa Kerti. Dialah tokoh yang diyakini pertama kali membuka hutan belantara di wilayah yang kini menjadi Desa Wonokromo.

Babat Alas di Tengah Hutan Belantara

Berdasarkan cerita masyarakat, pada sekitar abad ke-16 wilayah Wonokromo masih berupa hutan lebat yang dikelilingi perbukitan. Ki Gede Wangsa Kerti datang dan mulai melakukan babat alas untuk membuka permukiman baru.

Dalam pengembaraannya, ia menyusuri aliran sungai hingga tiba di sebuah lembah yang dikenal dengan Kedung Layung. Di tempat itu terdapat sumber mata air yang oleh masyarakat disebut Sumber Bak atau Ngebak. Konon, di lokasi tersebut Ki Gede Wangsa Kerti sempat bertapa.

Dari tempat inilah kehidupan mulai tumbuh, hingga perlahan wilayah tersebut berkembang menjadi permukiman warga.

Kisah Keluarga yang Melahirkan Nama Wonokromo

Ki Gede Wangsa Kerti memiliki tiga anak, yakni Ki Gede Wangsaraga, Rara Wulanjar atau Dewi Lanjar, dan Ki Jinawala atau Ki Wangsareja.

Salah satu kisah yang paling dikenal masyarakat adalah cerita tentang Rara Wulanjar. Ia disebut pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang prajurit Mataram yang merupakan pengikut Pangeran Puger di wilayah Bagelen–Ambal.

Hubungan tersebut diketahui masyarakat dan dianggap sebagai sebuah aib. Setelah peristiwa itu, Rara Wulanjar pergi meninggalkan tempat tersebut dan menghilang di kawasan hutan Pager Ijo dan Joho.

Cerita tentang hubungan yang “konangan” atau ketahuan inilah yang diyakini masyarakat menjadi asal-usul nama Wonokromo.

Dari Hutan Menjadi Desa

Seiring waktu, kawasan yang dahulu berupa hutan mulai berkembang menjadi desa. Saat ini Desa Wonokromo terdiri dari lima dusun, yaitu:

  • Dusun Krajan
  • Dusun Kalidekung
  • Dusun Tinatah
  • Dusun Serang
  • Dusun Watukuwuk

Secara geografis, desa ini berada di kawasan perbukitan dengan aliran sungai yang merupakan cabang dari Sungai Kedung Bener di bagian hulu. Lingkungannya masih relatif asri karena berada di wilayah pinggiran.

Jejak Kepemimpinan dari Masa ke Masa

Dalam catatan sejarah desa, kepemimpinan di Wonokromo sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Beberapa tokoh yang pernah memimpin desa antara lain Ki Senca Leksana (1749–1786), Ki Jayadipa (1786–1818), Ki Ranadipa (1818–1859), hingga masa pemerintahan modern seperti Paryono (2007–2019).

Saat ini kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Suwarno.

Sepanjang perjalanan sejarahnya, masyarakat Wonokromo juga pernah mengalami berbagai peristiwa penting, mulai dari masa penjajahan Belanda, konflik sosial pada pertengahan abad ke-20, hingga masa paceklik dan wabah penyakit.

Wonokromo Hari Ini

Kini Desa Wonokromo memiliki luas wilayah sekitar 833 hektare dan berada di ketinggian sekitar 28 meter di atas permukaan laut.

Secara administratif, desa ini berbatasan dengan Desa Sawangan di sebelah barat, Desa Kaliputih di timur, Desa Pujotirto Kecamatan Karangsambung di utara, serta Desa Tlogowulung di selatan.

Perkembangan teknologi dan akses transportasi membuat masyarakat semakin mudah terhubung dengan daerah lain. Namun di sisi lain, urbanisasi membuat sebagian lahan perbukitan yang dulu digarap warga kini mulai jarang dikelola.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi generasi muda Wonokromo untuk menjaga potensi desa sekaligus merawat sejarah panjang yang diwariskan para leluhur.

Sumber : https://wonokromo.kec-alian.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/119/32


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.