Pemerintahan

Agrominafiber Apresiasi Keseriusan Warga Binaan Rutan Kebumen, Produksi Serat Pisang Ditargetkan 3 Ton per Bulan

445
×

Agrominafiber Apresiasi Keseriusan Warga Binaan Rutan Kebumen, Produksi Serat Pisang Ditargetkan 3 Ton per Bulan

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com — Program pemberdayaan warga binaan melalui pelatihan pengolahan serat pelepah pisang di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kebumen mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Program kolaborasi PT Agrominafiber Jawa Indonesia ini tak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dengan target produksi mencapai 3 ton per bulan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pemasaran PT Agrominafiber Jawa Indonesia, Profita Hermawan, saat melakukan kunjungan dan evaluasi program di Rutan Kelas IIB Kebumen, Senin (26/1/2026).

Profita mengapresiasi keseriusan dan komitmen tinggi para warga binaan yang mengikuti pelatihan perdana pengolahan serat pelepah pisang. Menurutnya, antusiasme peserta terlihat jelas dari proses produksi yang dilakukan dengan penuh ketelitian dan tanggung jawab.

“Alhamdulillah, dari workshop pertama kami sudah melihat hasil nyata. Warga binaan bekerja dengan sangat serius, tidak asal-asalan. Dari sisi kualitas, sebagian besar produk juga sudah cukup rapi,” ujar Profita.

Selama proses pendampingan, warga binaan mendapatkan bimbingan langsung dari tim teknis Agrominafiber. Pendampingan difokuskan pada peningkatan kerapian produk, penguasaan teknik produksi, serta pengelolaan bahan baku secara optimal dengan prinsip zero waste product.

Saat ini, sekitar 60 persen hasil produksi telah memenuhi standar kualitas perusahaan, sementara sisanya masih memerlukan pemantapan teknik agar kualitasnya konsisten.

“Kami tidak berhenti di pelatihan saja. Pendampingan akan terus dilakukan secara berkala, biasanya dua minggu sekali tim kami melakukan pengecekan untuk memastikan kualitas tetap terjaga,” jelasnya.

Sebagai bentuk komitmen, PT Agrominafiber telah menyalurkan sekitar 1 ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu pascapelatihan. Ke depan, distribusi bahan baku ini akan ditingkatkan secara bertahap sesuai kapasitas produksi warga binaan.

Dalam skala bisnis, kebutuhan bahan baku PT Agrominafiber saat ini mencapai 15 ton, dengan target produksi rutin 3 ton per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku direncanakan akan dipasok dari hasil produksi warga binaan Rutan Kebumen.

“Ini masih tahap awal, baru berjalan satu hingga dua minggu. Tentu masih ada yang perlu diperbaiki. Karena itu, pemantauan rutin terus kami lakukan bersama para pendamping,” imbuh Profita.

Pada bulan pertama, produksi ditargetkan mampu mencapai 3 ton, termasuk hasil awal pelatihan yang semula berfungsi sebagai media pembelajaran, namun tetap memiliki nilai jual dan berorientasi pada pasar global.

Sementara itu, upaya pembinaan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rutan Kelas IIB Kebumen juga mendapat perhatian dari pihak eksternal. Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menerima kunjungan asesor Pertapener Aggregator Pertamina, Imam Subhan dan Hamid Bima, di ruang kerjanya, Senin (26/1/2026).

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama antara Rutan Kebumen dengan Inotex Foundation dan PT Agrominafiber Jawa Indonesia, yang didukung oleh program Sampoerna Untuk Indonesia.

“Bismillah, Alhamdulillahirrahmanirrahim. Meski kerja sama ini belum genap satu bulan, responsnya sangat positif. Bahkan, dari pihak Agromina melihat prospeknya sangat baik, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial,” ungkap Pramu Sapta.

Menurutnya, keseriusan para mitra ditunjukkan dengan kehadiran asesor dari Pertamina untuk memastikan program berjalan sesuai standar dan berkelanjutan.

“Kami melihat ini bukan sekadar program jangka pendek. Harapannya, kegiatan ini memberi dampak nyata, tidak hanya selama warga binaan menjalani masa pidana, tetapi juga saat mereka kembali ke masyarakat,” tambahnya.

“Serat pelepah pisang hasil olahan warga binaan Rutan Kebumen, bukti bahwa pembinaan kemandirian mampu melahirkan produk ramah lingkungan bernilai jual tinggi.”

Profita Hermawan menegaskan, program ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi tinggi yang ramah lingkungan dan diminati pasar ekspor.

“Kami ingin warga binaan terlibat langsung dalam rantai produksi global. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi pembukaan akses ekonomi,” jelasnya.

Pada tahap awal, pihak Rutan melakukan asesmen ketat terhadap warga binaan yang terlibat, meliputi aspek perilaku, jenis perkara, serta kesiapan mengikuti program, guna menjaga kualitas dan keberlanjutan kegiatan.

“Ke depan, kami berharap semakin banyak warga binaan yang terlibat aktif, sehingga mereka memiliki bekal keterampilan yang bermanfaat setelah bebas nanti,” pungkas Pramu Sapta.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.