Wisata

Dr. Ir. Chusni Ansori: Geopark Kebumen Bisa Dongkrak Kesejahteraan, Asal Dikelola dengan Konservasi dan Budaya

1441
×

Dr. Ir. Chusni Ansori: Geopark Kebumen Bisa Dongkrak Kesejahteraan, Asal Dikelola dengan Konservasi dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pariwisata Kebumen, Frans Haidar saat melunching majalah yatra di Ruang Teater Disarpus Kebumen, Rabu (30/7/2025).

KEBUMEN, Kebumen24.com – Geopark bukan sekadar soal pelestarian alam. Lebih dari itu, konsep geopark menyimpan potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal—termasuk di Kabupaten Kebumen. Namun, keberhasilan itu hanya bisa dicapai jika pengelolaan geopark dilakukan secara holistik berbasis konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Dr. Ir. Chusni Ansori, M.T., Peneliti Geologi, Petrologi, dan Geoheritage dari BRIN Kebumen, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) dan peluncuran edisi perdana Majalah Yatra Pariwisata Kebumen, di Kantor Disarpus Kebumen, Rabu (30/7/2025).

Mengangkat tema “Holistic Sistem Geopark untuk Peningkatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat”, kegiatan ini dihadiri para akademisi, pelaku wisata, hingga komunitas geowisata dari berbagai wilayah di Kebumen.

“Geopark bukan proyek instan. Diperlukan proses panjang, kesabaran, dan pendekatan edukatif. Masyarakat tidak bisa langsung menuntut hasil. Maka, edukasi adalah kuncinya,” tegas Dr. Chusni.

Ia mencontohkan keberhasilan Geopark Gunung Sewu di Gunungkidul yang mampu mengangkat wilayah tersebut dari status salah satu daerah termiskin di DIY, menjadi kawasan wisata unggulan nasional. Hal serupa juga terlihat di Langkawi (Malaysia) dan Jeju (Korea Selatan) yang sukses menggabungkan pariwisata, budaya, dan pelestarian geologi secara terintegrasi.

“Kebumen punya potensi besar. Tapi visibilitas, aksesibilitas, dan branding harus diperkuat,” lanjutnya.

Meski begitu, tantangan juga tak sedikit. Mulai dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, keterbatasan akses menuju situs geologi, hingga minimnya informasi publik yang layak menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia mendorong peningkatan kapasitas SDM lokal—terutama pemandu wisata berbasis geowisata—dan penyelenggaraan event budaya berskala nasional atau internasional sebagai bagian dari strategi pengenalan.

“Misalnya Tari Cepet Sewu atau sport tourism khas Kebumen bisa diangkat jadi ikon,” sarannya.

Dr. Chusni juga menekankan pentingnya pendekatan budaya dalam pengelolaan geopark. Bukan dengan pendekatan ilmiah semata yang cenderung kaku dan sulit dipahami masyarakat awam.

“Jangan menggeologikan masyarakat, tapi budayakan geologi,” tandasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pelibatan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan situs geologi untuk meminimalisasi konflik antara kepentingan konservasi dan ekonomi. Keberadaan label UNESCO Global Geopark, menurutnya, bisa menjadi daya tarik kuat jika dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Lebih lanjut, indikator keberhasilan geopark menurutnya bisa diukur secara ilmiah melalui capaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan evaluasi rutin oleh UNESCO setiap empat tahun. Keberhasilan itu mencakup terjaganya lingkungan, tumbuhnya budaya, serta meningkatnya kesejahteraan dan literasi masyarakat.

“Pendidikan, riset, dan industri pariwisata harus bersinergi. Perguruan tinggi melakukan riset dan pengabdian, sedangkan industri pariwisata memasarkan sekaligus meningkatkan kapasitas SDM,” pungkasnya. (K24/*)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.