KARANGSAMBUNG, Kebumen24.com – Mencuatnya keluhan warga Desa Pujotirto, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, tentang kondisi air sungai yang keruh dan menghitam akibat limbah pengolahan buah jenitri, akhirnya menemukan titik terang. Dalam forum musyawarah terbuka, Pemerintah Desa bersama warga dan lintas instansi sepakat membangun sumur resapan sebagai solusi awal penanganan limbah tersebut.
Musyawarah berlangsung di Aula Balai Desa Pujotirto, Senin 19 Mei 2025. Hadir perwakilan Forkopimcam Karangsambung, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup Kelautan dan Perikanan (LHKP) Kebumen, Satpol PP, Puskesmas Karangsambung, tokoh masyarakat, para pengrajin jenitri, serta Kepala Desa Pujotirto, Giriyanto.
Sebelumnya, warga Desa Pujotirto mengeluhkan kondisi air sungai yang berubah menjadi keruh dan hitam pekat, diduga akibat limbah dari pengolahan buah jenitri yang dibuang sembarangan tanpa pengelolaan. Fenomena ini muncul beriringan dengan panen raya jenitri yang melimpah tahun ini, namun sayangnya belum ada sistem pengolahan limbah yang memadai untuk mengimbanginya.
Dalam paparannya, perwakilan Dinas LHKP, Guruh Dwiputra, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan lapangan dan mengambil sampel air sungai untuk diuji laboratorium. Meski hasil uji belum keluar, langkah cepat dan terukur dinilai sangat penting.
“Tim dari Dinas LHKP sudah turun ke lokasi dan mengambil sampel air. Namun hasil uji laboratorium masih dalam proses. Meski begitu, langkah penanganan tidak bisa menunggu lama,” kata Guruh.

Ia menjelaskan, dalam musyawarah lintas sektor tersebut disepakati pembangunan kolam pengurai limbah dan sumur resapan sebagai solusi awal. Kolam tersebut nantinya akan difungsikan sebagai tempat penampungan sementara limbah jenitri yang kemudian diberi tambahan tawas untuk mengurangi bau dan kandungan berbahaya sebelum dibuang ke saluran umum.
“Kolam ini akan menyaring zat berbahaya sebelum air masuk ke sungai. Ini solusi teknis awal yang disepakati bersama, dan menjadi tanggung jawab kolektif,” imbuhnya.
Guruh juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat, terutama para pengrajin jenitri, agar tidak lagi membuang limbah langsung ke sungai. Ia memastikan Dinas LHKP siap mendampingi pengrajin dalam menerapkan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
Sementara itu, salah satu pengrajin jenitri, Purwanto, menyambut baik langkah pemerintah. Ia mengaku baru kali ini mendapatkan penyuluhan langsung terkait limbah usahanya.
“Selama ini limbah memang langsung kami buang ke saluran irigasi. Tapi setelah ada penjelasan, kami sadar itu bisa merusak lingkungan. Kami siap mendukung pembangunan sumur dan kolam ini,” ujarnya.
Kepala Desa Pujotirto, Giriyanto, juga memastikan pihak desa akan terus memfasilitasi upaya kolaboratif ini hingga tuntas. Ia berharap sumur percontohan yang akan dibangun bisa menjadi solusi efektif yang dapat direplikasi di titik lainnya.(K24/ILHAM)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















