SEJARAH

Legenda Desa Jatimalang Klirong, Asal Nama Diambil dari ‘’Pohon Jati’’ yang Terhubung dengan Masjid Demak

13611
×

Legenda Desa Jatimalang Klirong, Asal Nama Diambil dari ‘’Pohon Jati’’ yang Terhubung dengan Masjid Demak

Sebarkan artikel ini
Foto ; Kantor Desa Jatimalang Klirong Kebumen (Dok: Desa Jatimalang Klirong)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jatimalang merupakan salah satu desa di Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Desa ini memiliki khasanah sejarah menarik dan unik, yakni asal nama dipilih dari Legenda Pohon Jati yang memiliki kontribusi bagi Masjid Agung Demak.

Dikutip dari lama situs resmi Desa Jatimalang menyebutkan, asal usul nama desa dibuktikan dengan berbagai legenda mashur atau cerita rakyat yang populer secara turun temurun. Cerita ini diyakini oleh warga Jatimalang maupun warga umum sebagai kejadian asli yang benar-benar terjadi.

Bahkan dari berbagai cerita terdapat legenda tingkat nasional yang berkembang sampai saat ini. Desa Jatimalang dihubungkan erat dengan Masjid Agung Demak yang didirikan Raden Patah dan para Wali Songo pada tahun saka 1401 (1479 M).

Hadirnya Tokoh Kesatria Pangeran Tedjokusumo

Selain itu sejarah keberadaan Jatimalang juga tidak terlepas dari pengaruh Mataram Islam. Dimana, kala itu adanya kehadiran tokoh kesatria pejuang nasional anti kolonial yakni Pangeran Tedjokusumo alias Panembahan Malang Taruna. Ia anak Adipati Mertowongso salah satu cucu Panembahan Senopati yang turut dalam sejarah babad alas dan tinggal di Jatimalang hingga akhir hayatnya.

Legenda kesaktian Ki Sapu Angin pelaku babad alas yang konon memiliki ilmu sepi angin dan keahlian berbagai pengobatan supranatural melengkapi cerita sejarah Jatimalang secara lengkap.

Sejarah Desa Jatimalang tidaklah hanya sebagai cerita fiksi tanpa bukti dari mulut kemulut. Namun sebagaian telah didokumentasikan dengan rapih oleh generasi pendahulu keturunan leluhur Jatimalang.

Bukti sejarah itu telah dikemas dalam bentuk manuskrip, buku diary (catatan pribadi) maupun media jurnal umum cetak. Selain dari data tulis juga didukung  berbagai peninggalan baik yang berupa situs, artefak dan legasi yang terawat dengan baik.

Oleh karenanya dalam penulisan sejarah ini, penulis tidak mengalami kesulitan yang signifikan dikarenakan tinggal mengkonstruksi data sehingga menjadi narasi sejarah yang akurat dan otentik sesuai dengan kemanfaatanya.

Selain melalui observasi data lapangan khususnya pada artefak dan studi dokumentasi, penulis juga melakukan Fokus Group Discussion bersama para tokoh dan pemangku sejarah.

Tujuan dilakukanya penulisan sejarah Jatimalang ini selain diperuntukan melengkapi khazanah dokumenter profiling desa yang telah ada, juga sebagai dasar pemikiran dalam menentukan kebijakan “Hari Jadi Desa Jatimalang” sebagaimana tuntutan regulasi Peraturan Desa (Perdes) yang selama ini belum terwujud.

Diharapkan naskah sejarah singkat ini dapat menjadi petunjuk bagi generasi lebih lanjut dalam memperkaya pemahaman desa Jatimalang maupun dalam menteladani para tokoh pelaku sejarah.

Nama Desa Jatimalang Diambil dari Pohon Jati

Sebutan kata “Jatimalang” yang dipilih sebagai nama desa bagi tokoh lokal adat. Dimana, pada saat itu menyimpan misteri mendalam bagi generasi muda yang tidak memiliki keterkaitan dan pemahaman sejarah.

Lebih-lebih bagi generasi digital yang hidup dalam era internet dan robotik. Nama suatu desa dalam khazanah sosiologis-antropologis tidak terlepas dari kontek sejarah lokal yang mempengaruhi. Nama pada dasarnya merupakan simbol dari gambaran keadaan yang ada.

Demikian pula dengan nama “Jatimalang” yang disematkan sebagaimana pilihan nama desa bagi warga masyarakat. Nama desa pada dasarnya merupakan simbol yang menggambarkan dari dialektika percaturan peristiwa yang mengiringinya pada zamanya.

Menurut sejarah, awal mulai terbentuknya nama desa karna adanya pohon jati  yang konon sangat besar dan memiliki kontribusi bagi Masjid Agung Demak.

Jika dikaitkan dalam era saat ini nama memiliki sangat penting guna melihat harapan kedepan. Untuk itu, penulusuran nama desa Jatimalang menjadi penting untuk dipahami oleh generasi penerus.

Inspirasi dari mana dan apa artikulasi dibalik nama tersebut. Nama desa dipahami sebagai petunjuk awal akan isi dari peradaban yang ada.

Disamping itu nama menjadi bagian dari strategi cara untuk melakukan branding desa yang bersifat ikonik, distinctif dan unik bagi warga masyarakat Jatimalang pada saat itu tentunya. Melalui nama inilah pembaca dapat mengetahui pembeda Jatimalang dengan desa lain karena memiliki latar sosio alam dan budaya yang yang berbeda.

Terjadinya penamaan desa Jatimalang dipicu dari tuntutan regrouping kebijakan “Blengketan” desa oleh pemerintah Hindia Belanda dan dengan diterbitkanya undang undang desa Indlandsche Gemeente Ordonnantie (IGO) yang berlaku di Jawa Madura pada tahun 1924.

Melalui regulasi inilah pertama kali diatur persyaratan desa yang harus memiliki kepala desa, pamong desa dan rapat desa. Blengketan desa di Jatimalang dilakukan dengan cara menggabungkan 4 grumbul kelurahan (sebutan nama desa lain) dalam dua pedukuhan Alas Malang dan Karangjati menjadi satu kesatuan wilayah hukum, budaya dan politik dalam wadah yang disebut desa Jatimalang.

Jadi blengketan itu menjadi tonggak lahirnya desa Jatimalang dan menjadi momentum kembalinya kesatuan teritorial desa seperti keadaan pada awal babad alas. Empat grumbul kelurahan telah dihapus yakni Alas Malang, Kuwarasan, Jetis dan Dukuh.

Padahal sebelumnya masing-masing telah memiliki kepemimpinan dengan sebutan lurah secara adat pasca digantikanya Demang Sosrowiguno sebagai pemimpin yang membawaih 4 grumbul.

Proses pemberian nama Jatimalang berdasarkan keterangan yang dapat dihimpun dari berbagai tokoh sejarah desa bukanlah suatu yang mudah. Perhelatan sesama warga masyarakat berjalan sangat dinamis khususnya antara dukuh Karangjati dan Alas Malang.

Hal ini diketahui dengan adanya tarik ulur nama antara nama Alas Malang yang sudah sangat populer dimasyarakat dan nama Karangjati sebagai nama regrouping Jetis dan dukuh. Tarik ulur keduanya sangat kuat yang berusaha memasukan nama sesuai dengan kekhasan dukuh.

Dengan kondisi seperti itu kemudian generasi sepuh tokoh adat diminta melakukan istikharoh minta petunjuk pada Sang Kuasa sehingga suasana menjadi kondusif. Tak hanya itu, pemimpin adat lokal pada saat itu juga aktif melakukan konsultasi dengan pejabat atasan.

Alhasil nama “Jatimalang” telah dipilih dan disepakati oleh warga masyarakat sebagai nama desa dengan mengakomodir dari nama Dukuh Karang Jati dengan mengambil kata “Jati”. Sedangkan Dukuh Alas Malang dengan mengambil kata “Malang” sehingga menjadi satauan kata “Jatimalang”.

Menurut hemat penulis nama Jatimalang diambil dari dua suku kata yakni kata “jati dan malang”. Selanjutnya masyarakat memberikan penafsira bahwa kata jati merupakan sinonim dari pohon jati yang ada disepanjang didukuh Karangjati dan Alas Malang.

Sedangkan kata malang disini bisa bersinonim dengan masifnya pohon jati secara liar, dimana ranting, daun dan akarnya malang malang.

Tafsir yang kedua nama malang sinonim dengan nama tokoh nama depan dari pejuang kesatria anti kolonial yang turut babad alas  yang bernama Panembahan Malang Taruna.

Dari adanya perbedaan penafsiran, masyarakat umumnya memahami sebagaimana dalam cerita rakyat yang melekat dipahami malang diambil dari ranting, daun dan akar yang malang malang dari pohon ikonik jati khususnya yang ada didukuh Karangjati.

Kendati pada saat pemberian nama Jatimalang  yang tersisah hanya cerita rakyat dan situs bekas bekas pohon jati didekat Balai Desa Jatimalang, namun warga sangat yakin jika pohon jati itu dulu benar-benar ada dan keramat.

Demikian pula dengan masyarakat seputar kecamatan Klirong juga mengakui adanya pohon jati besar tua dan rantingya bercabang cabang (malang-malang) kemana mana dan sangat jauh.

Hal ini dapat dibuktikan melalui artefak, beberapa waktu yang belum lama ketika menggali sumur pada saat membangun Balai desa Jatimalang. Seorang penggali  terpentok oleh akar jati yang sangat keras dan sulit dipotong sampai sekarang.

Hal serupa dialami warga sekitar hingga akhirnya penggalian sumur tidak bisa diteruskan. Secara kebetulan sumur ini berjarak kurang lebih 100 M dari asal pohon jati. Akar itu diyakini bagian dari akar pohon jati.

Dari sejarah dua ikon Karangjati dan Alas Malang ini diharapkan warga masyarakat dan keturunanya nanti antara warga Dukuh Alas Malang dan Dukuh Karangjati secara sosial harus guyub rukun lan sepadha sayekti, mulo aja tukar padu sepapadane rowang. Desa Jatimalang harus dipegangi sebagai tumpah darah yang harus maju dan bekembang tidak kalah dengan desa yang lain.

Pesan moral itulah yang menjadi harapan leluhur (faunding fathers) dari nama desa Jatimalang. Oleh karenanya walaupun pada awalnya terjadi tarik ulur namun setelah disepakati bersama masyarakat menyatakan sudah tidak mempermasalahkan nama Jatimalang dan menyatakan taslim.

Bahkan mereka menilai nama desa Jatimalang sudah sangat tepat, walaupun saat ini sudah tidak lagi ditemukan pohon jati disekitar lokasi dimana pohon jati itu dulu tumbuh baik di Karangjati maupun di Alas Malang.

Generasi muda penerus sangat bangga dengan kata Jatimalang karena bermakna heroik. Sehingga pada perkembanganya banyak digunakan sebagai nama pada suatu organisasi atau orang. Contoh misalkan nama Karang Taruna pemuda desa Jatimalang  bernama “Taruna Jati”.

Pada versi lain pohon atau kayu jati dianggap memiliki mistis atau keramat. Selain secara fakta kayu jati itu sangat keras dibandingkan kayu kayu yang lain. Dengan kualitas kayu jati yang keras dan tahan lapuk, seringkali masyarakat menyebut kayu jati sebagai sejatining kayu.

Dalam dimensi  mitos religi jawa kuno bahkan kayu jati dinamai kayu suci. Konon pohon jati yang ada dinusantara awalnya berasal dari Gujarat India yang dibawa ketanah Jawa.

Kayu Jati disebut kayu suci karna memang kualitasnya bisa bertahan berabad-abad. Tak hayal jika banyak diburu masyarakat untuk dimanfaatkan dalam pembangunan mesjid, rumah bandung dan benda media lain seperti warangka keris dan gambang.

Bahkan salah satu peninggalan Ki Sapu Angin yang berupa gambang terbuat dari kayu jati panca lodra. Benda itu  saat ini dirawat dan oleh salah satu keturunan leluhur Raden Malang Taruna ke 6 dan keturunan Ki Sapu Angin.

Bila disebut kayu jati sebagi kayu suci maka hal ini singkron dengan legenda  yang mengatakan bahwa pembangunan Masjid Agung Demak (Mesjid tertua dijawa yang didirikan wali songo) tiang atau saka guru masjid berasal dari Kayu Jati tua yang berasal dari desa Jatimalang (Kebumen).

Ini dapat dibuktikan adanya tulisan Jati dari Kebumen di saka guru tersebut yang tersimpan di musium Mesjid Agung Demak karena telah dipugar. Selain di Demak yang konon dibawa oleh pasukan katak, beberapa desa tetangga juga memanfaatkan kayu jati yang berasal dari desa Jatimalang untuk membuat bedug, Mushola Al Huda, di Dukuh Losari Desa Kedungsari dan saat ini masih digunakan dengan baik.

Dalam perkembangan sejarah masyarakat menyebut pohon jati Jatimalang dengan sebutan “Pohon Jati Panca Lodra”.

Desa Jatimalang resmi dinamai desa Jatimalang terhitung mulai adanya kebijakan dari Pemerintah Hindia Belanda tentang “blengketan” Desa. Hal ini dilakukan Pemerintah Hindia Belanda guna efektivitas dalam administrasi dan penataan desa.

Sebelum terjadinya blengketan pada umumnya desa atau sebutan nama lain merupakan wilayah yang sangat kecil dan masing masing berdiri sendiri. Seperti halnya di Jatimalang dimana pada saat pemblengketan Jatimalang terpecah dalam 4 desa atau gerumbul.

Padahal sebelumnya pada masa awal babad alas grumbul grumbul desa-desa itu merupakan satu kesatuan yang dipimpin oleh Demang secara turun temurun.

Kiranya jelas bahwa pilihan nama  Jatimalang sebagai nama desa bukanlah sekedar nama duplikasi dari daerah lain yang tidak memiliki makna sejarah bagi desa Jatimalang itu sendiri. Kalaupun ditemukan adanya nama yang sama dengan desa daerah lain itu hanyalah terjadi kebetulan saja.

Babad Alas Jatimalang

Babad alas sebagai sebab awal adanya kehidupan manusia disituasi daerah menjadi awal terjadinya dan terbentuknya desa dan kemudian mengembang menjadi negara. Desa sebagai sistem pemerintahan terkecil pada dasarnya merupakan suatu kolektifitas teritorial geografis, ekologi dan eko sistem yang membentuk suatu peradaban.

Oleh karena itu mengetahui jejak genetik sosial maupun biologis masyarakat terentu harus dimulai dari historis babad alas. Ini menjadi peristiwa sejarah yang penting.

Selain itu babad alas merupakan bagian dari kegiatan patriotisme. Sebab arti desa bermakna tumpah darah.

Setiap desa biasanya memiliki sejarah tersendiri dalam pembukaan lahan awal mula sebagai tempat tinggal para leluhur yang tentunya masih sangat sederhana. Pelaku babad alas menjadi pertanyaan sejarah yang umum dan pokok ketika merajut sejarah desa.

Pertanyaan ini wajib dijawab guna memberikan ikatan dengan leluhur dan kesinambungan pada pembangunan desa. Tidak jarang nama pelaku babad alas kemudian diabadikan dalam berbagai nama dalam pembangunan.

Tujuanya untuk mengenang jasa jasa leluhur yang telah berjuang besar mengawali kehidupan sehingga berkembang menjadi desa yang maju, damai dan berprestasi seperti halnya Jatimalang saat ini.

Sebelum adanya peristiwa babad alas Desa Jatimalang konon cerita merupakan alas yang banyak ditumbuhi pohon jati. Pohon Jati tumbuh disepanjang Alas Malang dan Karangjati secara subur.

Karena banyaknya pohon jati yang tumbuh secara liar maka menjadikan daun dan ranting, batangnya malang dan bercabang kemana mana tidak beraturan. Seakan akan alas Jatimalang ini dipenuhi pohon jati.

Dengan adanya tiupan angin yang kencang menjadikan banyak pohon jati yang tumbang batang dan rantingya menghalangi jalan. Selain masih berbentuk alas, tanah Jatimalang juga merupakan semak belukar dan banyak terdapat hewan liar, buas serta dikenal angker atau wingit (hunian setan). Hingga akhirnya tercipta seperti kehidupan saat ini tentunya merupakan peristiwa evolusi sejarah yang panjang.

Permulaan babad alas di Jatimalang dilakukan secara manual menggunakan perlengkapan sederhana oleh Ki Sapu Angin. Kemudian pada perjalanan babad alas datanglah Tumenggung R. Malang Taruna membantu dalam membuka desa.

Malang Taruna yang seorang tumenggung dengan kekuatanya dibantu dengan prajurit bandung bondowoso bersatu padu melakukan babad alas. Sehingga dari yang awalnya manual dengan kampak oleh Ki Sapu Angin dan masyarakat menjadi lebih cepat karena dibantu perlengkapan senjata dari prajurit perang.

Semula tanah Jatimalang merupakan satu kesatuan dari sepanjang Alas Malang masyarakat yang ada, Jatimalang belum mengenal gerumbul atau pedukuhan. Seperti halnya Alas Malang, Kuwarasan, Jetis dan Dukuh. Mereka masih menjadi satu kesatuan semak belukar.

Dua Tokoh Besar

Menurut cerita turun temurun dari para leluhur dimulainya babad alas tanah Jatimalang adalah pada masa kerajaan Mataram Islam. Terdapat dua tokoh besar pelaku babad alas tanah Jatimalang yang kemudian dijadikan leluhur desa:

1. RMA Tedjokusumo Alias R. Tedjowoelan, Alias Tumenggung Malang Joedo dan alias Panembahan Malang Taruna. Dalam perkembanganya nama Malang Taruna lebih popular dibandingkan nama aslinya.

Hal ini dilakukan demi keamananya sebagai pejuang anti penjajah. RMA Tedjokusumo memiliki istri pertama yang bernama RA. Poespaningroem dan istri selir Nyai Gandawati.

Anak R.Malang Taruna Toemenggoeng Ranggadjati, Toemenggoeng Among djojo dan Demang Sosrowiguno  (demang Jatimalang sebelum adanya lurah). Untuk kekeluargaan dengan Ki Sapu Angin, Panembahan Malang Taruna memberikan pengikutnya Pawestri bernama Nyi Salindri sampai meninggalnya Ki Sapu Angin punya istri Nyi Dasilah.

Raja Sultan Agung  pada tahun 1627 menugaskan Pangeran Tedjokusumo melakukan penyerangan VOC Belanda yang menguasai Wirasaba Banyumas. Dalam perjalananya pulang ke Kasultanan Yogyakarta setelah melakukan penyerangan VOC Belanda dan menang singgah di Sumpyuh dan terakhir singgah di Alas Malang-Jatimalang.

Karena adanya situasi politik yang berubah di kesultanan Yogya dan mengancam nyawa dirinya maka Pangeran Tedjokusumo memutuskan  menetap tinggal ditanah di Alas Malang hingga akhir hidupnya.

Pada saat tinggal di Alas Malang RMA Tedjokusumo atau dengan nama lain Pangeran Tedjokusumo alias Panembahan Malang Taruna bertemu dengan Ki Sapu Angin (Ki Wongso Sudigdo) yang lebih awal tinggal di Alas Malang.

2-Ki Wongso Sudigdo yang dikanal dengan nama Ki Sapu Angin. Tokoh ini dikenal kesepuan, perdukunan serta kejawen. Selain itu Ki Sapu Angin dikenal masyarakat memiliki ilmu kanuragan yang disebut Sepi Angin. Hoby dari Ki Sapu Angin adalah bermain gambang.

Konon ada cerita Ki Sapu Angin bisa diatas pelepah daun pisang. Ki Wongso Soedigdo Alias Ki Sapu Angin, punya anak Ki Kertonojo, Ki Tjaleksono, Ki Asmangali, Ki Kartaredja. Yang terakhir adalah lurah pertama Jatimalang setelah adanya blengketan desa. Menjabat 22-6-1922 sampai dengan 10-12-1942.

Dari cerita masyarakat yang berkembang sosok sapu angin adalah supra natural yang memiliki keahlian pengobatan penyakit maupun gangguan mahluk halus. Sedangkan Pangeran Malang Taruna dikenal Pejuang kesatria dari Kesultanan Yogya yang anti penjajah. Saat ini kedua artefak makam kuburanya ada di kuburan alas malang.

Setelah kondisi tanah Jatimalang dapat ditempati untuk kehidupan manusia berkat jasa kedua tokoh babad alas Ki Sapu Angin dan Panembahan Malang Taruna maka seiring dengan waktu dan pertumbuhan jumlah penduduk, kawasan Jatimalang terbagi dalam 4 gerumbul desa yakni Alas Malang, Kuwarasan, Jetis dan Dukuh (nama gerumbul desa).

Asal Usul Desa Jatimalang

Pengertian desa secara etimologi bahasa berasal dari istilah yang diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tanah tumpah darah. Pada saat awal pembentukan desa oleh pemerintah Hindia Belanda desa merupakan kumpulan dari beberapa pemukiman kecil area pedesaan atau rural area baik berupa grumbul atau dukuh yang dipimpin oleh lurah.

Sebelum adanya lurah kepemimpinan ditingkat desa, gerumbul dipimpin oleh demang, yakni kepala distrik: wedana pada zaman pemerintah Hindia Belanda.

Asal usul terbentuknya Desa Jatimalang pada dasarnya merupakan satu kesatuan teritorial wilayah meliputi gerumbul Alas Malang, Kuwarasan, Jetis dan Dukuh. Dalam perkembanganya gerumbul gerumbul tersebut kemudian diblengket dan terbagi dalam dua pedukuhan yakni Alas Malang dan Karangjati.

Dukuh itu sendiri pada dasarnya sama dengan sebutan dusun atau lingkungan wilayah administrasi yang berkedudukan dibawah kelurahan atau desa sebagaimana umunya ada di Indonesia.

Pedukuhan Alas malang merupakan penggabungan grumbul Alasmalang dan Grumbul Kuwarasan. Sedangkan pedukuhan Karang Jati merupakan istilah baru setelah menyatunya Grumbul Jetis dan Dukuh.

Sebelum adanya penyatuan menjadi pedukuhan dan penghapusan nama gerumbul desa oleh Pemerintah Hindia Belanda, masyarakat masing masing gerumbul telah memiliki ekologi dan ekosistem tersendiri.

Hal ini dapat dilihat dari adanya makam (kuburan) dimasing masing gerumbul. Alas Malang artefak kuburanya di utara perbatasan Tambakagung, kuwarasan makam kuburanya di Karangjati yang saat ini aktif digunakan.

Dukuh makam di Plumbon Wanasari dan Jetis makam di Balai Desa yang saat ini ditempati. Setiap masing masing gerumbul desa juga telah memiliki kepemimpinan sendiri.

Khusus grumbul desa Jetis kepemimpinan atau lurah sampai saat ini belum ditemukan. Sehingga saat memungkinkan gerumbul Jetis kelurahanya mengkikuti grumbul dukuh.

Kepemimpinan Desa Jatimalang Sebelum Pemblengketan

Desa sebagai unit paling rendah tingkatanya dalam struktur pemerintah telah ada sejak dulu dan bukan terbentuk oleh belanda. Awalnya sejarah terbentuknya desa diawali dengan terbentuknya kelompok masyarakat akibat sifat manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki dorongan kodrat atau kepentingan yang sama dari bahaya luar.

Pada zaman dulu pengelolaan dan penyelenggaraan desa menggunakan hukum adat. Setelah Belanda menjajah Indonesia dan membentuk Undang-Undang pemerintah di Hindia Belanda (Regeling Reglemen) maka desa diberi kedudukan hukum.

Ada tiga unsur jika ingin menjadi desa yang harus ada yakni Kepala desa, pamong desa dan rapat desa. Dengan demikian gerumbul gerumbul yang ada di desa Jatimalang pada saat itu juga termasuk sebutan desa.

Demikian ketentuan dari pemerintah Desa pada zaman itu dengan mengacu pada aturan Hindia Belanda.Sekecil apapun tentang pengelolaan komunitas atau ekosistem maka layak disebut desa. Demikian pula halnya yang terjadi pada pemerintahan di gerumbul Jatimalang pada saat itu.

Sebelum adanya lurah sebagai pemimpin disatuan masyarakat gerumbul, Jatimalang dipimpin oleh seorang demang. Demang Sosrowiguna bertugas membawaih gerumbul gerumbul Jatimalang dari tahun 12-10-1778 sampai dengan 9-11-1853. Setelah berakhirnya system kademangan maka pada periode berikutnya gerumbul dipimpin oleh lurah.

Berikut ini akan diraikan kepemimpinan desa Jatimalang dari periode ke periode.

  1. Raden Mas Kartasemito 1887-1922

Dengan dihapuskanya sistem kademangan, yang awalnya menjadi pemimpin disatuan wilayah tertentu maka di digantilah dengan sebutan lurah. Sebagai lurah pertama yang berada diwilayah gerumbul Alasmalang adalah RM. Kartosemito yang merupakan putra dari Demang RM.Sosro Wiguno.

Berdasarkan catatan sejarah Kartasemito madeg atau diangkat jadi lurah Alas Malang 12 Agustus 1887. Beliau lahir jumat pon 7 agustus 1956 dan wafat 11 Mei 1926. Istrinya bernama Soedjinah, lahir senin manis 8-10-1870, meninggal 31-12-1938.

Kartasemito punya anak Ki Yudho Prayitno alias Ki Juru Sabdo (lahir 18-10-1899 dan meninggal 17-12 1978). Ki Yudho punya beristri Nyi Djoemiranti Endaningroem (lahir 19-12-1920 dan meninggal 5-6-1982).

Rumah Kartasemita sekaligus sebagai tempat bertugas sebagai lurah. Jika digambarkan saat ini bertempat didepan Mushola Al Hidayah Alas Malang. Tidak jauh dari tempat tinggal RM.Kartasemita terdapat tempat petilasan pertapa Pangeran MalangTaruna yang disebut Tabat.

Sedangkan disebelahnya lagi adalah makam kuburan penduduk Alas Malang.  RM Kartasemita wafat dan dimakamkan di pemakaman Alas Malang satu komplek dengan Pangeran Malang Taruna, Ki Sapu Angin, RO. Sosro Wiguna ayahnya. Tumenggung Kartasemita yang merupakan keturunan ke-4 (empat) Pangeran Malang Taruna. Gambaran wilayah kelurahan Alas Malang jika digambarkan saat ini meliputi RT 2, 4 dan 5 RW III Desa Jatimalang.

  1. Ki Pandi atau Jayanurya 1890-1922

Berdasarkan catatan sejarah Dukuh pernah dipimpin oleh seorang  lurah yang bernama Ki Pandi yang berprofesi sebagai tukan nderes gula kelapa. Konon cerita Ki Pandi ditunjuk oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjadu lurah digrumbul Dukuh.

Setelah menjadi lurah di Dukuh kemudian berubah nama menjadi Jayanurya. Artefak makam  Ki Pandi berada di Jerukagung Jetak. Gerumbul dukuh jika digambarkan kondisi saat ini berada di Karangjati bagian selatan tepatnya  meliputi wilayah RT 1, 2, 3, 4 RW I dan sebagian RT 1, 2 RW II.

Terkait dengan kelurahan Dukuh ini terdapat cerita bahwa Ki Wongsigati II yang merupakan cucu dari Wongsogati I berasal dari daerah Gringging Klaten mengikuti Pengeran Kajoran karena telah membantu menyembuhkan warganya yang dilanda wabah penyakit. Untuk membalas budi, Ki Wongsogati II membantu Pangeran Kajoran untuk mengejar Amangkurat I sampai ke wilayah Panjer.

Ki Wongsogati II yang merupakan seorang ulama yang konon menurut cerita telah menyiarkan agama Islam di wilayah Dukuh. Salah satu artefak makam keturunan Ki Wongsogai II yang bernama Ki Bandakerti berada di pemakaman Dukuh (saat ini pemakaman umum Karangjati).

  1. R. Kasan Sastromiharjo bin “Umar bin Nur Salim (1890-1922)`

Pada grumbul Kuwarasan menurut cerita telah memiliki lurah yang bernama Ki Kasan Sastromiharjo putra dari Haji ‘Umar bin Nur Salim dan cucu Bandakerti keturunan Ki wongsogati II. Oleh warga masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan mbah Dongkol (Manten Lurah) hingga saat ini. Wilayah Kuwarasan jika digambarkan saat ini meliputi RT 1 dan sebagian RT 3 RW III.

Pendopo kelurahan saat itu berada di sebelah selatan Masjid Nurul Huda Alas Malang-Jatimalang. Sebutan nama grumbul Kuwarasan menurut leluhur merupakan nama dari istri Haji ‘Umar atau ibu Kandung R. Sastromiharjo.

Pada saat itu istri H. ‘Umar dikenal dengan sebutan mbah putri kuwarasan. Dalam legenda cerita mbah putri kuwarasan di kenal memiliki kesaktian. Dari situlah kemudian menjadi nama grumbul desa. R Kasan Sastromiharjo wafat pada tahun 1949, artefak makam terletak di pekuburan Dukuh Karangjati saat ini, satu makam dengan H. ‘Umar dan Bandakerti. Nyi Kuwarasan merupakan anak dari Bandakerti. Pemakaman Nyi Kuwarasan di pemakaman Karangjati.

Pada gerumbul Jetis yang merupakan bagian dari Gerumbul gerumbul Jatimalang, sampai saat ini belum ditemukanya data yang menunjukan di Jetis terdapat pemimpin atau lurah. Untuk itu dalam pembahasan ini tidak diuraikan lebih lanjut. Wilayah jetis jika digambarkan saat ini meliputi RT,3 sebagian RT 1 dan 2 RW II. Adapun makam jetis terletak di komplek Balai desa Jatimalang. Pada wilayah Jetis inilah pohon Jati bersejarah yang menjadi inspirasi nama Desa Jatimalang.

Foto ; Petas Desa Jatimalang Klirong Kebumen (Dok: Desa Jatimalang Klirong)

Kepemimpinan Desa Setelah Masa Blengketan Sampai Sekarang

Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan penggabungan grumbul, dukuh dan desa dengan kebijakan blengketan. Hal ini dilakukan guna memudahkan pengawasan dan pengendalian desa khususnya di Jawa dan Madura.

Dengan adanya kebijakan blengketan tersebut maka dilakukanlah blengketan disemua desa termasuk Jatimalang. Setelah blengketan yang semula masing-masing memiliki kepemipinan lurah digrumbul desa maka kemudian disatukan menjadi satu dengan nama desa Jatimalang.

Terhitung adanya blengketan maka Kelurahan Alas Malang, Kuwarasan, Jetis, dan Dukuh kembali menjadi satu seperti halnya pada saman kademangan atau zaman awal babad alas. Desa Jatimalang membawaih dua dukuh yakni Alas Malang dan Karangjati. Blengketan di Jatimalang dilakukan pada tahun 1922.

1.Ki Kartareja (1922 – 1942)

Setelah dilaksanakan blengketan, Pemerintah Kolonial Belanda menunjuk Ki Kartareja yang merupakan keturunan Ki Sapu Angin anak yang keempat untuk menjadi Lurah Desa Jatimalang pertama dan membentuk pemerintahannya. Kantor kelurahan saat itu berada di rumah Ki Kartareja. Menjabat 22-6-1922 sampai dengan 10-12 -1942.

Tahun 1942 setelah Belanda kalah perang dengan Kekaisaran Jepang, Pemerintah Jepang mulai menjajah Indonesia dan sampai ke Desa Jatimalang dengan memberhentikan Ki Kartareja dari jabatannya sebagai Lurah. Setelah kemerdekaan, rumah beliau dijadikan Kantor Kecamatan Klirong dari sekitar tahun 1945 sampai 1968.

2.R. Soetarmo (1942 – 1945)

Pada awal Pemerintahan Jepang diadakan pemilihan lurah dengan calon berjumlah tiga orang diantarnya Djoyo Soeparto, Sanmukhidi, dan R. Soetarmo dengan cara dodokan, dimana R. Soetarmo mendapat dodokan terbanyak sehingga menjadi Lurah Desa Jatimalang yang ke-2 (dua). Kantor kelurahan pada saat itu berada di selatan rumah Ki Kartareja.

Tahun 1945 setelah kekalahan Jepang dari Sekutu dan Negara Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Pemerintah Indonesia mulai membangun Pemerintahan dari pusat sampai wilayah Desa dan mengganti pemimpin wilayah di masa Pemerintahan Kekaisaran Jepang. Lurah Desa Jatimalang yang pada saat itu  R. Soetarmo diberhentikan.

 3. Djoyo Soeparto (1945 – 1986)

Setelah kemerdekaan, Desa Jatimalang mengadakan pemilihan kembali dengan calon berjumlah tiga orang yaitu Djoyo Soeparto, Soejono Adi Wardoyo, dan R. Soetarmo yang kembali mencalonkan diri sebagai Lurah.

Saat itu proses pemilihan dilaksanakan dengan metode gitingan. Pada pemilihan tersebut Djoyo Soeparto terpilih menjadi Lurah dengan perolehan giting terbanyak. Beliau juga menjabat sebagai Glondong atau Lurah yang membawahi lima desa yaitu Jatimalang, Kaliwungu, Sitirejo, Tambakagung, dan Karangglonggong.

Awal pemerintahan Djoyo Soeparto, kantor kelurahan berada di rumah beliau. Pada tahun 1976, pemerintah desa mulai membangun kantor kelurahan di lokasi yang sampai saat ini menjadi kantor balai desa Jatimalang.

Pada Tahun 1979 penamaan Lurah Desa berganti menjadi Kepala Desa. Djoyo Soeparto menjadi Kepala Desa terlama sepanjang sejarah Desa Jatimalang dengan masa jabatan 41 tahun terhitung sejak tahun 1945 sampai dengan tahun 1986.

4.Wiyoto Krido Sanyoto (1986 – 2002)

Setelah selesai jabatan Kepala Desa  Djoyo Soeparto, pada tahun 1986 Desa Jatimalang mengadakan pemilihan Kepala Desa kembali. Pemilihan dilaksanakan dengan metode mencoblos simbol gambar hasil bumi.

Dalam pemilihan tersebut, Wiyoto Krido Sanyoto mendapat suara terbanyak. Wiyoto Krido Sanyoto merupakan putra dari Ki Yudoprayitno, cucu dari Ki Kartasemita, dan keturunan ke-6 dari Ki Malang Taruna. Beliau menjadi Kepala Desa Jatimalang selama 2 periode dengan total masa jabatan 16 tahun dari tahun 1986 sampai dengan 1994 dan tahun 1994 sampai dengan 2002.

5.Djalijo (2002 – 2007)

Pada Tahun 2002 Desa Jatimalang mengadakan Pemilihan Kepala Desa kembali dengan metode yang masih sama dengan sebelumnya, yaitu mencoblos simbol gambar hasil bumi.

Dalam pemilihan tersebut  Djalijo mendapat suara terbanyak dan terpilih sebagai Kepala Desa Jatimalang. Beliau menjadi Kepala Desa Jatimalang selama 1 periode dengan masa jabatan 5 tahun dari tahun 2002 sampai dengan 2007. Beliau merupakan kepala desa yang bukan putra desa Jatimalang (pendatang).

6.Parjono (2007 – sekarang)

Pada tahun 2007, tepatnya setelah selesai masa jabatan  Djalijo sebagai Kepala Desa Jatimalang, diadakan kembali Pemilihan Kepala Desa Jatimalang dengan metode yang sama, yaitu masih menggunakan simbol hasil bumi. Dalam pemilihan tersebut  Parjono mendapat suara terbanyak dan terpilih menjadi kepala desa sampai tahun 2013.

Pada tahun 2013,  Parjono mencalonkan kembali pada pemilihan Kepala Desa Jatimalang. Pemilihan dilaksanakan dengan metode mencoblos foto calon kepala desa dan terpilih kembali menjadi Kepala Desa Jatimalang sampai dengan tahun 2019.

Di tahun 2019,  Parjono terpilih kembali menjadi kepala desa dan menjabat sampai dengan sekarang. Beliau menjabat sebagai Kepala Desa Jatimalang selama 3 periode.

Penetapan Hari Jadi Desa Jatimalang berdasarkan kajian sejarah tersebut maka tim merekomendasikan 12 Agustus 1887 yakni diambil dari dimulainya Raden Mas Kartasemita menjabat sebagai lurah pertama setelah beralih dari demang.

Kesimpulan

Sejarah babad alas Jatimalang dimulai dari Alas Malang ke Selatan sampai Karangjati dipandegani oleh dua tokoh leluhur desa yakni diawali Ki Sapu Angin (Wongsosudigdo) dan dilanjutkan Panembahan Malang Taruna dari Kesultanan Yogyakarta.

Madeg lurah pertama di empat grumbul kelurahan; Alas Malang, Kuwarasan, Jetis dan Dukuh diwilayah Jatimalang dimulai dari lurah RM Kartosemito pada tahun 12 Agustus 1887 yang menjadi lurah di Alas Malang. Selanjutnya adanya lurah di grumbul Dukuh dan Kuwarasan. Sedangkan di grumbul Jetis sampai saat ini belum ditemukan literatur dan bukti sejarah adanya lurah. Sebelum adanya lurah dimasing masing grumbul kepemimpinan di ampu seorang Demang.

Kebijakan blengketan desa dari pemerintah Hindia Belanda menjadi awal dimulainya pemerintahan baru dengan nama Desa Jatimalang yang merupakan gabungan (blengketan) dari grumbul desa Alas Malang, Kuwarasan, Jetis dan Dukuh.

Nama desa “Jatimalang” diambil dari keadaan sebelum babad alas, dimana pada saat itu merupakan alas jati  yang malang melintang disepanjang Dukuh Karangjati sampai Dukuh Alas Malang penuh pohon jati. Hal ini didukung adanya legenda desa yang mashur tentang pohon jati yang besar dan tua yang terletak di tenggara Balai Desa saat ini yang konon dijadikan saka guru Masjid Demak yang didirikan Walisongo.

Didesa Jatimalang pada tahun 1945-1968 pernah menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Klirong dengan adanya Kantor Kecamatan, Koramil, Kantor Penerangan di area Rumah Dalem Romo Yudoprayitno tepatnya di bekas Kelurahan Kartareja. Sedangkan Polsek dipintu jalan masuk desa Jatimalang tepatnya SD Sitirejo.(K24/*).

Sumber Referensi Sejarah : Dr Imam Satibi (Rektor UMNU Kebumen).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.