SEJARAHWisata

Mengutip Jejak Sejarah Benteng Van Der Wijck Gombong, Tahun Berapa Dibangun?

4247
×

Mengutip Jejak Sejarah Benteng Van Der Wijck Gombong, Tahun Berapa Dibangun?

Sebarkan artikel ini
FOTO : BENTENG VANDER WIJCK

GOMBONG, Kenumen24.com – Sejak masa Kerajaan hingga Kolonial, beberapa daerah di Jawa Tengah merupakan pusat pemerintahan maupun perdagangan. Tak heran jika banyak peninggalan bersejarah berupa bangunan-bangunan yang masih dapat kita saksikan hingga saat ini, salah satunya benteng Van Der Wijck yang berlokasi di Kecamatan Gombong, sekitar 19 km dari pusat kota Kabupaten Kebumen.

Dikutip dari berbagai sumber website artikel sejarah menyebutkan, Benteng Van Der Wijck merupakan bukti peninggalan Kolonial Belanda yang memiliki keunikan. Keunikan benteng Van Der Wijck terletak pada bangunan yang seluruhnya terbuat dari batu bata. Bahkan atap benteng berbentuk segi delapan ini juga terbuat dari batu bata yang kokoh dan dibuat menyerupai bukit-bukit kecil, sehingga sangat ideal sebagai tempat pertahanan sekaligus pengintaian.

Usia benteng diperkirakan mencapai ratusan tahun karena dibangun pada masa perang Pangeran Diponegoro (1825-1830). Perkiraan ini dikaitkan dengan adanya petilasan Kyai Giyombong dan Kyai Gajahguling di Gombong. Keduanya adalah tokoh pendukung Pangeran Diponegoro di daerah Bagelen (Kedu Selatan).

Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van Der Wijck difungsikan sebagai tempat pelatihan anggota PETA (Pembela Tanah Air), sebuah organisasi tentara Indonesia bentukan Jepang untuk menghadapi sekutu. Pada masa ini, Jepang menutupi tulisan-tulisan Belanda dengan cat hitam.

Belanda kembali menguasai Gombong melalui Agresi Militer pada Juli 1947. Selanjutnya Belanda menciptakan garis demarkasi atau garis batas yang dikenal dikenal dengan nama garis Demarkasi Van Mook sebagai batas kekuasaan Belanda-Indonesia. Adapun Kompleks Benteng Van Der Wijck dijadikan sebagai markas pertahanan terdepan untuk menghadapi kekuatan RI yang berada di timur Sungai Kemit.

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, kompleks benteng dimanfaatkan oleh TNI Angkatan Darat. kerjasama dengan pihak swasta selaku investor, Benteng Van Der Wijck dikembangkan sebagai Daya Tarik Wisata sejak tahun 2000 silam. Kini kompleks Benteng Van Der Wijck telah dilengkapi dengan beragam fasilitas, antara lain permainan anak, gedung pertemuan, serta hotel wisata yang masih mempertahankan arsitektur asli bangunan.

Sementara itu, Dalam buku Benteng (2023) karya Teguh Purwantari, disebutkan bahwa bangunan ini berdiri sejak 1818, namun masih digunakan sebagai kantor VOC untuk kepentingan perdagangan. Baru pada masa Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-2830), kantor VOC itu difungsikan sebagai benteng pertahanan dan kantor militer Belanda.

Hal ini merupakan bagian dari sistem Benteng Stelsel yang sukses mempersempit pergerakan Pangeran Diponegoro, hingga akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkap. Peter Carey melalui catatan kakinya dalam buku Percakapan dengan Diponegoro (2022), menjelaskan Benteng Stelsel diperkenalkan De Kock sebagai strategi perang baru.

Benteng di Kebumen ini dipimpin oleh Frans David Cochius, sehingga kemudian dikenal dengan nama Fort Cochius atau Benteng Cochius. Benteng ini kemudian dimanfaatkan untuk Pupillen School atau sekolah militer khusus keturunan Belanda. Nama Benteng Cochius kemudian diubah menjadi Benteng Van der Wijck. Van der Wijck adalah jenderal militer Belanda yang menggantikan Frans Cochius sebagai Komandan KNIL.

Dikutip dari laman Pemkab Kebumen, saat Jepang mengambil alih kekuasaan di Indonesia, Benteng Van der Wijck digunakan sebagai tempat latihan tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Kemudian saat Agresi Militer Belanda usai kemerdekaan, Belanda kembali menguasai Benteng Van Der Wijck dan menjadikannya sebagai markas pertahanan. Baru pada tahun 2000, benteng ini dikembangkan bersama investor untuk dijadikan objek wisata dengan merevitalisasinya kembali.

Sebagai objek wisata sejarah, Benteng Van der Wijck memiliki fasilitas umum yang sudah lengkap. Adapun sejumlah daya tarik wisatanya antara lain sebagai berikut:

  1. Bangunan Ikonik

Benteng Van der Wijck memiliki bangunan dengan desain arsitektur khas Belanda. Dikutip dari laman Kemenparekraf, benteng ini memiliki luas 7.168 meter persegi dan terdiri dari 2 lantai. Tinggi bangunan ini mencapai 10 meter dengan ketebalan dinding 1,4 meter.

Bangunan berwarna merah bata ini berbentuk segi delapan mirip dengan Masjidil Haram. Ada puluhan ruangan di dalam bangunan, antara lain 16 ruangan besar dan 50-an ruangan dengan berbagai ukuran. Karena keunikannya, Benteng Van der Wijck pernah digunakan sebagai lokasi syuting film The Raid 2: Berandal dan video klip Slank.

  1. Kereta di Atas Benteng

Daya tarik kedua yakni adanya kereta mini yang bisa ditumpangi oleh wisatawan. Uniknya kereta ini berada di atas benteng, jadi kamu bisa menikmati pemandangan dari atas. Jika kamu takut, kamu bisa naik kereta mini yang ada di bawah.

  1. Wahana Permainan

Selain wahana kereta, ada juga berbagai wahana wisata yang sengaja dibuat untuk menarik wisatawan. Wahana ini misalnya kolam renang, permainan anak, hingga spot foto bersama dinosaurus.

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka

Harga tiket masuk di sini adalah Rp 25 ribu per orang. Tiket ini sudah termasuk wisata sejarah benteng, naik kereta, dan masuk kolam renang. Biaya parkirnya Rp 3 ribu per motor dan Rp 5 ribu per mobil.

Jam buka Benteng Van der Wijck adalah mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB setiap hari.

Lokasi dan Rute

Lokasi Benteng Van der Wijck berada di Sidayutengah, Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dari pusat kota Kebumen, jaraknya sekitar 20 km atau sekitar 40 menit.

Wisatawan juga bisa melintasi Jalan Raya Sokka menuju Jalan Nasional III, kemudian masuk ke Jalan Yos Sudarso, Jalan Kartini, dan Jalan Gereja.

Di persimpangan akan terlihat petunjuk arah wisata benteng. Ada tempat parkir luas di sana. Kamu harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke benteng.

Itulah tadi informasi mengenai Benteng Van der Wijck yang berada di Gombong, Kebumen, mulai dari sejarah, daya tarik, harga tiket, hingga rutenya. Tertarik berkunjung?.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Mulai berlangganan untuk menerima artikel terbaru di email Anda.