SEJARAH

Mengutip Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama

1067
×

Mengutip Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama

Sebarkan artikel ini
FOTO ISTIMEWA

KEBUMEN,Kebumen24.com – Berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama didahului oleh beberapa peristiwa yang menjadi prolog sebagai cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama, di antaranya:

  1. Berdirinya Lembaga Keuangan yg diberi nama Syirkatul Inan lii Murobathil Tujar yang dirintis oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk menggalanh kekuatan ekonomi . Melalui Lembaga tersebut Kiyai Hasyim Asy’ari melancarkan fatwa-fatwa agar umat Islam menabung untuk pemberdayaan ekonomi dan modal berjuang untuk kemerdekaan .

Kemudian Kiyai Hasym Asy’ari mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Tujjar dengan menggandeng dua murid kesayangannya , yaitu KH. Wahab Hasbulloh dan KH. Bisri Syamsuri untuk bertekad jam’iyyah yang diharapkan mampu membangkitkan kesadaran umat atas keterjajahan , keterbelakangan dan kemunduran .

  1. Berdirinya Group Diskusi di Surabaya pada tahun 1914 dengan nama Taswirul Afkar yang dipimpin oleh KH.Wahab Hasbulloh dan KH.Mas Mansyur , dan juga ada Islam Studi Club untuk diskusi masalah agama.
  2. Berdirinya Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916 yang banyak mengelola madrasah dengan nama Madrasah Nahdlatul Wathon yang berbadab hukum dengan pengurus KH.Kohar sebagai Direktur , KH.Wahab Hasbulloh sebagai Pimpinan Guru, KH.Mas Mansyur sebagai Kepala Sekolah yang dibantu oleh KH.Ridlwan Abdullah.
  3. Dalam perkembangannya Nahdlatul Wathon berubah menjadi Subanul Wathon pada tahun 1925 yang bermarkas di Jalan Onderling Blang Surabaya yang merupakan cikal bakal Gerakan Pemuda ANSOR .

Sesungguhnya yang melatar belakangi lahirnya NU adalah ketika Raja Ibnu Saud hendak menciptakan azas tunggal yakni Madzhab Wahabi di Mekkah serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra – Islam dengan dalih memberantas bid’ah, karena tempat-tempat tersebut banyak diziarah.

GagasanKaum  Wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan maupun PSII di bawah pimpinan HOS Cokroaminoto. Sebaliknya dari kalangan pesantren yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman , menolak keras pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Berangkat dari sikap yang berbeda tersebut lalu kalangan pesantren dikeluarkan dari Anggota Konggres Al-Islam di Yogyakarta pada tahun 1925 yang akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi pada Mu’tamar  ‘Alam Islam (Konggres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan  keputusan untuk menciptakan azas tunggal  Madzhab Wahabi dan penghancuran semua peninggalan sejarah Islam maupun pra – Islam dengan alasan memeberantas bid’ah.

Nah… karena didorong oleh tekadnya untuk menciptakan kebebasan bermadzhan dan kepeduliannya untuk melestarikan  situs-situs sejarah warisan peradaban akhirnya kalangan pesantren membentuk delegasi sendiri dengan nama Komite Hijaz yg diketuai oleh KH. Wahab Hasbulloh.

,Atas desakan dari kalangan pesantren  yang dihimpun dalam Komite Hijaz  dan penentangan dari umat Islam di berbagai penjuru dunia akhirnya Raja Saud mengurungkan niatkan untuk mengesahkan keputusan tersebut di atas, yang hasilnya hingga saat ini di Mekkah dibebaskannya umat Islam dalam beribadah mengikuti madzhabnya masingmasing dan berhasil menyelamatkan beberapa peninggalan peradaban yang sangat berharga.

Berangkat dari Komite Hijaz dan berbagai oraganisasi yg bersifat embrional di atas maka untuk kelanjutannya dianggap perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih tersetruktur untuk mengantipasi perkembangan zaman , maka setelah berkoordinasi dengan berbagai Kiyai dari berbagai daerah , akhirnya melahirkan kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama “NAHDLATUL ULAMA” pada tanggal 16 Rojab 1344 Hijriyah yang bertepan dengan tanggal 31 Januari 1926, yang pembentukannya dihadiri oleh :

  1. Hadlrotus Syaikh KH.Muhammad Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng)
  2. KH. Wahab Hasbulloh
  3. KH. Bisyri Syamsuri (Denanyar Jombang)
  4. KHR.Asnawi (Kudus)
  5. KH.Ma’shum (Lasem)
  6. KH.Ridlwan (Semarang)
  7. KH.Nawai (Malang)
  8. KH.Ridlwan (Surabaya)
  9. KH.Abdul Halim (Leuwimuding Majalengka)
  10. KH.Doro Muntoha (Menantu KH.Cholil Bangkalan Madura)
  11. KH.Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
  12. KH.Dahlan Abdul Qohar (Kertosono)
  13. KH. Abdul Faqih (Gresik)

Organisasi Nahdlatul Ulama dipimpin oleh KH.Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar

Demikian sejarah berdirinya NU secara ringkas. Semoga bermanfaat.

CATATAN:

Tidak ada satupun nama habib terlibat di dalam proses dan pembentukan berdirinya NU

Sumber : Berita NU Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com