KEBUMEN, Kebumen24.com- Warga Dusun Kuwarisan, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen kembali menggelar Tradisi “Ingkungan”. Tradisi ini rutin digelar setiap bulan muharam atu syuro tiba, tepatnya hari Jumat Kliwon.
Menariknya, kegiatan di awali dengan kirab tumpeng yang dimulai dari halaman Kantor Kelurahan Panjer. Kemudian, menyusuri Jalan KH Hasyim Asy’ari menuju Masjid Banyumudal, Jumat 12 Agustus 2022. Setidaknya ada tujuh tumpeng ingkung yang dikirab dari Kelurahan Panjer.
Sesampai di masjid, masyarakat membaca tahlil dan doa bersama. Kegiatan ini sekaligus Haul Syaikh Ibrahim Asmoroqondi yang dikenal merupakan seorang ulama penyiar agama islam pada jaman dulu. Hadir secara langsung Bupati Kebumen Arif Sugiyanto beserta OPD terkait, para ulama, Fokropimcam Kebumen dan Pemerintah Kelurahan Panjer.
Pada kesempatan itu, Bupati turut membawa 20 ingkung ayam bersama istri dan keluarganya, dan dibagikan kepada para ketua RT dan RW di Dukuh Kuwarisan.
Bupati mengatakan, sebagai warga asli Kuwarisan, Panjer, pihaknya pun menyambut baik acara ini, yang setiap tahun diadakan. Menurutnya, tradisi ini sudah ada sejak ia kecil hingga sekarang.
“Ini tradisi dari sejak saya kecil, bahkan sebelum saya lahir ini sudah ada. Dan patut bersyukur sampai saat ini masih ada terus diwarisi oleh generasi selanjutnya,” ujarnya.
Bupati berharap, kegiatan tersebut dapat menjadi wahana memperkuat tekad dan semangat para penerus, keturunan, dan seluruh masyarakat Kuwarisan Kelurahan Panjer. Terutama dalam meneladani laku hidup Syaikh Ibrahim Asmorokondi.
“Insya Allah ini memberikan arti bagi upaya peningkatan keimanan dan ketakwaan umat Islam di Kabupaten Kebumen, kita semua bisa mengambil manfaat positif dari setiap kegiatan ini,” ujar Bupati.
Sementara itu, Tino Sidik Ketua RT 03/RW 10 mewakili warga Dukuh Kuwarisan menyatakan, kegiatan Ingkungan tidak pernah mandeg. Bahkan pada saat Covid-19 sedang berada pada titik puncak, kegiatan ini tetap diadakan.
“Tidak pernah mandeg. Dua tahun kemarin pada saat Covid-19 tetap diadakan oleh masyarakat. Ini sudah kaya menjadi kewajiban dimana pada Jumat Kliwon di bulan Muharam warga Kuwarisan setiap KK bikin ingkung,” tuturnya.
Ingkung merupakan ayam yang dimasak dengan bumbu yang komplit ditambah dengan kuah santan yang kental. Dalam tradisi ini juga disediakan nasi tumpeng, dan lengkap dengan sayuran dan lauk pauk yang lain, seperti telur, dan tempe.
‘’ Setiap keluarga atau keturunan asli Dusun Kuwarisan yang sudah berumah tangga, baik yang di Kebumen maupun yang di luar daerah wajib membuat tumpeng ingkung.’’jelasnya.
Bahkan, tak jarang dari mereka yang berada dari luar daerah mudik ke kampung halaman untuk ikut memperingati tradisi yang disakralkan itu. Jika tak sempat mudik, mereka menitipkan uang kepada sanak keluarga di kampung untuk membuatkan tumpeng ingkung atas nama dirinya.
‘’ Ingkung tidak boleh dimakan sebelum didoakan oleh imam masjid, setelah didoakan ingkung ayam dibawa pulang kembali ke rumah masing-masing untuk dimakan bersama sanak keluarga.’’ungkapnya.
Selain untuk memupuk kebersamaan, silaturahmi dan berbagi, warga percaya, tradisi ini sebagai ‘penolak bala’. Karenannya orang di sini masih percaya jika tidak membuat ingkung, bisa mendapat bahaya.
“Ya kalau soal percaya, ya percaya, memang dari dulu ada keyakinan kalau ada warga Kuwarisan yang tidak buat ingkung, nantinya bisa kena bahaya gitu. Itu menjadi tradisi kami yang patut dihargai sebagai bentuk kearifan lokal,” tandas Tino.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















