EkonomiInspirasi

Gurihnya Sale Pisang Asap Khas Desa Karangpule

4059
×

Gurihnya Sale Pisang Asap Khas Desa Karangpule

Sebarkan artikel ini

SRUWENG, Kebumen24.com, – Pada umumnya, pembuatan keripik sale pisang biasanya melalui proses penjemuran hingga penggorengan, namun berbeda halnya yang dilakukan Nur Yadin (50), Warga Dukuh Bakung, RT 02 RW 01 Desa Desa Karangpule Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen. Sale pisang diproduksi dengan cara tradisional, yakni menggunakan asap bara api.

Proses pembuatan Sale Pisang ini tidaklah terlalu rumit. Pisang yang akan diolah harus dipastikan yang sudah benar-benar matang. Apabila masih mentah pisang akan didiamkan selama beberapa hari sampai pisang matang secara alami.

Setelah itu, pisang dikupas kulitnya kemudian dijemur dibawah terik sinar matahari hingga beberap jam. Selanjutnya proses pengasapan hingga pagi hari.

Pengasapan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam pisang. Termasuk juga agar tekstur pisang menjadi lembut. Sedangkan penjemuran agar pisang menjadi awet bahkan bisa tahan sampai lima bulan.

Untuk proses penjemuran dan pengasapan biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Produksi Sale Pisang dengan Brand “Le Mondo” ini dilakukan secara alami dan tidak menggunakan bahan pemanis maupun bahan pengawet.

Yadin menuturkan ide usahanya ini berawal saat melihat banyaknya pohon pisang yang ditanam Pemerintah Desa dilahan desa setempat. Dari situ ia berinisiatif untuk dijadikan peluang usaha. Pisang yang digunakan adalah jenis pisang uter atau yang terkenal memiliki cita rasa yang manis. Usahanya ini telah digeluti sejak 5 bulan terakhir.

“Awalnya saya ikut BUMDES untuk penanaman pohon pisang sebanyak 900 pohon dilahan desa. Dari situ saya berfikir bagaimana pisang ini agar bisa menjadi produk yang bernilai lebih dari pada kalau pisang dijual langsung setelah dipetik. Akhirnya muncul ide iseng-iseng membuat pisang asap.” ucapnya. Sabgu, 9 April 2022.

Adapun untuk harga, sale pisang asap dijual dengan harga Rp12.000 sampi Rp13.000 perbungkusnya. Dalam satu bulan ia mampu meproduksi 50 sampai 100 bungkus. Untuk pemasaran sementara hanya mengandalkan ke sejumlah warung dan toko sekitar.

“Untuk kedepan semoga produk saya dapat diminati masyarakat dan pemaran bisa lebih luas lagi tidak hanya diwarung manupun toko saja.” pungkasnya. (K24/ilham).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com