ReligiSEJARAHSENI BUDAYA

Sejarah Berdirinya Masjid Saka Tunggal Sempor

4082
×

Sejarah Berdirinya Masjid Saka Tunggal Sempor

Sebarkan artikel ini

SEMPOR, Kebumen24.com – Masjid Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen merupakan salah satu masjid  tertua di Kebumen dan masuk sebagai Cagar Budaya sejak tahun 2015. Masjid ini didirikan sejak tahun 1722 masehi.

Sebagai tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah, suasana Masjid saka tunggal ini masih tetap terjaga keasliannya, meskipun pernah direnovasi sekitar tahun 1922. Meskipun ada beberapa bangunan tambahan untuk melengkapinya, namun tidak merubah bentuk dan ukuran bangunan aslinya.

Saka tunggal sebagai penopang utama bangunan ini berbentuk segi empat dengan ukuran 30 x 30 cm. Saka tunggal tersebut menjulang ke atas dengan tinggi sekitar 4 m tingginya.

Diujung atas saka tersebut terdapat 4 buah kayu melintang sebagai penyangga utama bangunan masjid. Sementara ditengah-tengah saka terdapat 4 buah danyang atau skur untuk membantu menyangga kayu-kayu yang ada di atasnya.

Sekretaris Desa setempat, Eko Prasetyo menjelaskan masjid ini merupakan bukti perjuangan masyarakat terhadap penjajahan belanda saat itu. Pembangunan masjid ini juga tidak terlepas dari sejarah Kabupaten Kebumen. Hingga kini masjid tersebut masih digunakan sebagai ibadah umat muslim.

‘’ Masjid ini merupakan peninggalan bukti sejarah syiar islam pada jaman dulu. Dan sampai kini masih difungsikan untuk tempat ibadah, terutama sholat 5 waktu,’’terangnya.

Berdasarkan catatan sejarah singkat, saat itu Kertowecono III yang menjabat sebagai adipati diminta kembali ke Kraton Surakarta untuk menjadi Patih dengan gelar Adipati Mangkuprojo sekitar tahun 1719 M.

Sebelum wafat Adipati Mangkuprojo sempat berwasiat, yakni meminta untuk dimakamkan di Pekuncen dan dibangunkan sebuah masjid. Dimana masjid tersebut adalah Saka Tunggal.

Saka Tunggal juga mengandung makna, sebagai tempat untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Tunggal atau Esa. Sedangkan dalam kaitannya dengan sejarah perjuangan, masjid itu juga sebagai simbol satu tekad untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

“Satu saka atau satu tiang penyangga ini melambangkan ke Esaan Allah SWT”, imbuhnya.

Sementara itu Kades Pekuncen, Hasto Nugroho megatakan, masjid ini merupakan peninggalan purbakala yang harus dijaga kelestariannya. Untuk mejaga peninggalan sejarah ini maka perlu adanya hubungan yang harmonis antara Ulama dan Umaro.

“Masjid ini merupakan peninggalan yang harus kita jaga dan lestarikan”,ungkapnya.(k24)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.