KARANGSAMBUNG, Kebumen24.com – Di Kabupaten Kebumen, terdapat sebuah tradisi unik yang dilakukan sejumlah masyarakat umat muslim pada perayaan Isro Mi’roj atau dikenal dengan istilah Rajaban. Namun, sejak merebaknya pandemi covid 19 dalam waktu dua tahun terakhir ini, Tradisi yang disebut dengan ‘’Berkat Jumbo’’ itu sempat terhenti dan bahkan nyaris musnah.
Untuk itu, sebagai bentuk melestarikan tradisi tersebut agar tidak hilang, umat muslim khususnya di Dukuh Kalikemong Desa Wadasmalang Kecamatan Karangsambung, kini pun mulai kembali menyelenggarakannya.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penerapan prokes secara ketat, di Masjid Baiturrahman, Kamis 10 Februari 2022, kemarin. Hadir sebagai penceramah KH.Alimuin dari Petanahan.
Seperti pada perayaan Isra Miraj yang lainnya, masyarakat membuat berkat untuk oleh-oleh jamaah yang hadir dalam kegiatan. Namun, di wilayah ini masyarakat memiliki tradisi berkat yang lain daripada lainnya. Yakni berkat jumbo yang dimana harus dibawa dengan kendaraan roda empat atau dipikul beberapa orang.
Berkat jumbo ini dibuat dari anyaman bambu yang dirangkai sedemikian rupa. Didalamnya terdiri dari aneka makanan, minuman berbagai macam jenis. Tidak kurang ada puluhan berkat yang berukuran setinggi orang dewasa dan juga ratusan berkat lainnya yang ukurannya sedikit lebih kecil.
Salah seorang warga setempat Deni Tofianto mengatakan tradisi berkat jumbo ini telah dilakukan secara turun temurun oleh warga masyarakat. Menurutnya dengan tradisi tersebut peringatan Isra Mi’raj di desanya akan semakin meriah, terlebih banyak masyarakat yang datang dari luar desa.
Selain dapat keberkahan ketika mengikuti pengajian, para jamaah bisa mendapatkan hadiah berupa berkat jumbo tersebut. Dirinya menyebutkan, untuk membuat satu berkat berukuran raksasa masyrakat harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah.
Itu karena memang berkat dengan pembungkus dari bambu itu berisi berbagai macam makanan lengkap, mulai dari lauk pauk, jajanan hingga buah buahan dan hasil bumi. Bahkan sarung dan sajadah juga terlihat disematkan di dalam berkat tersebut. Meski begitu, dirinya pun mengaku tidak merasa keberatan dan dengan iklas membuatnya.
“Kalau berkat ada tingkatannya mas, jadi tingkatan yang paling besar itu sampai 4 kemungkinan itu bisa menghabiskan uang sekitar puluhan juta kalo yang dibawahnya itu sekitar Rp 5 juta dan dibawahnya lagi sekitar satu jutaan sih kalo yang paling kecil itu kisaran 100 ribu sampai 500 ribu,” ucapnya.
Dikatakan, satu kepala keluarga yang turut dalam peringatan Isra Mi’raj biasanya membuat 5 hingga 6 krendeng (sebutan bungkus berkat yang terbuat dari bambu). Bagi masyarakat, tidak ada yang merasa keberatan karena memang ini sudah tradisi sejak nenek moyang.
Untuk itu, dirinya berharap agar tradisi tersebut bisa terus lestari dan diturunkan hingga ke anak cucu nanti, dan membawa keberkahan bagi desa dan seluruh masyarakatnya. Terlebih pada momentum peringatan Isra Mi’raj ini, agar kemerihannya bisa terus terjaga.
“Harapannya tetap terjaga budaya budaya dimana yang dari dulu sudah ada dilestarikan sampai sekarang sampai ke cucu jadi emang disini itu kalo emang suidah tradisi itu harus dilestarikan jadi bagaimana caranya kita tetap sampai kapanpun bisa melaksanakan acara seperti ini,” katanya.
Sementara itu ketua panitia pringatan Isra Mi’raj Masjid Baiturrahman Salamun berharap dengan adanya peringatan ini bisa meneguhkan tali silaturahmi pada masyarakat Desa Wadasmalang khusunya dukuh Kalikemong. Termasuk meningkatkan iman dan taqwa.
Disamping itu, tradisi dan budaya yang kental dan syarat akan makna bisa terjaga, karena ini adalah warisan dari para leluhur. Ini sekaligus sebagai bentuk rasya syukur kepada sang pencipta.
“Semoga denga adanya tradisi ini tali silaturahmi bisa terjaga antar masyarakat dukuh Kalikemong, terlebih ada 10 santri yang berhasil Khatam Al Quran,” pugkasnya.(K24/IMAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















