PEJAGOAN, Kebumen24.com- Kabupaten Kebumen kaya akan potensi kulinernya, salah satunya Golak dan Kue Serabi. Golak terbuat dari Pathi atau tepung singkong, sedangkan kue serabi dibuat berbahan baku tepung beras, dan parutan kelapa.
Seperti yang diproduksi Warga Desa Logede Kecamatan Pejagoan, Selasa 7 Desember 2021. Kedua makanan ini dibuat dengan tangan tangan terampil sejak puluhan tahun lalu. Tak khayal, Golak dan Serabi kini menjadi makanan ciri khas warga setempat.
Pembuat makanan Golak Yatmi (68) mengaku sudah sekitar 30 tahun lebih menekuni usaha ini. Untuk proses pembuatanya, ia dibantu oleh suami dan anak anaknya. Mulai dari membuat adonan hingga memasarkanya.
‘’ Saya dibantu suami dan anak mulai dari membuat hingga penjualan, namun terkadang ada juga pembeli yang datang langsung ke dapur rumah,’’tuturnya.
Yatmi mengatakan, untuk membuat Golak agar memiliki rasa yang enak tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, diperlukan tenaga ekstra saat membuat adonan karna harus merata dengan bumbunya. Tak hanya sampai disitu, golak juga harus dibentuk angka 8 agar terlihat menarik.
‘’ Setelah itu Golak ini kemudian digoreng dan disajikan hangat hangat.’’imbuhnya.
Menurutnya, kebanyakan para pembeli memilih Golak yang baru digoreng, namun ada juga yang mentah untuk digoreng sendiri dirumah. Untuk harga tergolong murah, yakni Rp 5.000, dalam setiap 10 bijinya.
‘’ Golak yang masih mentah atau belum digoreng bisa bertahan hingga 2 sampai 3 hari. Itupun disimpan di dalam suhu ruangan’’pungkasnya.
Sementara itu Sriyanti penjual kue serabi mengatakan sudah ada 10 tahun lebih berjualan di warung depan rumahnya. Untuk menjajakan dagangannya, mulai usai subuh hingga jam 7 pagi. Ini dikarnakan kebanyakan pembeli menikmati kue serabi di pagi hari.
‘’ Kebanykan pembeli ketika usai berolahraga dan juga akan berangkat kerja. Katanya untuk sarapan,’’ungkapnya.
Serabi dibuat dengan beraneka macam rasa, mulai dari rasa coklat, susu, Gula Jawa, Gula Pasir dan juga serabi original. Sedangkan untuk harag dijula rata rata Rp 1.000,- untuk rasa original dan Rp 1.500,- untuk penambahan toping.
Selama berjualan Serabi, ia mengaku dalam sehari rata rata mampu menghabiskan bahan sekitar 5 sampai 7 kilo tepung beras. Bahkan ketika hari libur bisa menghabiskan 2 kali lipat.
Menurutnya, pembuatan kue ini tidaklah sulit, hanya dibutuhkan kesabaran, karena bahan bahan seperti kelapa harus diparut terlebih dahulu. Kemudian diaduk dengan tepung beras secara merata, agar memiliki cita rasa yang lezat.
Dirinya berharap, agar makanan khas yakni serabi ini bisa terus lestari, dan bisa dinikmati hingga ke anak cucu nanti. Meski begitu ia sempat khawatir saat awal pendemi covid 19 karna sepi pembeli.
” Harapannya hanya selalu rame yang beli, karena di awal covid 19 waktu itu cukup terdampak dan jarang ada yang beli,”ucapnya. (k24/imam/arta).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















