KLIRONG, Kebumen24.com – Bagi sebagian orang, hobi terkadang justru bisa menjadi mendatangkan pengahsilan. Tak terkecuali bagi Ahmad Habib Musafa, warga Desa Bendogarap RT/RW 02/04, Kecamatan Klirong, Kebumen. Berawal dari hobi kelinci, kini jadi ladang bisnis.
Pria berusia 28 tahun ini mengaku awalnya hanya memelihara beberapa ekor kelinci saja. Namun karena melihat peluang pasaran yang cukup menjanjikan, kelinci pedaging jenis New Zeland ini mulai dikembangkan sejak tahun 2018 lalu.
Kelinci New Zealand ini mungkin tidak dikenal oleh pecinta kelinci hias. Kelinci New Zealand ini sangat terkenal bagi para peternak kelinci pedaging. Kelinci ini mempunyai bobot yang di atas rata-rata kelinci lain . Walaupun ada juga yang memelihara kelinci ini sebagai kelinci hias karena mempunyai keunikan sendiri .
Kelinci New Zealand ini sangat terkenal dengan bulu yang berwarna putih dan juga warna mata yang berwarna merah. Hal tersebut yang menjadikan kelinci New Zealand ini banyak juga untuk dipelihara sebagai kelinci hias .
Walaupun kelinci ini bernama kelinci New Zealand, namun bukanlah kelinci yang berasal dari New Zealand tetapi kelinci ini berasal dari Amerika. Kelinci New Zealand ini merupakan persilangan antara Flemish Giant dan Belgian Hare di tahun 1900-an dan menghasilkan beberapa jenis kelinci New Zealand yang berdasarkan warna dari bulu kelinci New Zealand ini.
Kelinci New Zealand ini hanya mempunyai 4 warna yang diakui oleh ARBA yakni putih, merah , hitam, dan broken. Walaupun persilangan dari 3 pigmen warna yang berbeda dapat juga menghasilkan banyak variasi warna.
Hanya ada 3 kelinci New Zealand yang terkenal di indonesia yaitu kelinci New Zealand Red, kelinci New Zealand Black , dan kelinci New Zealand White. Semuanya mempunyai ciri yang sama hanya saja akan berbeda di bagian warna mata dan juga warna bulu .
Karena populasinya cepat dan terus bertambah kini tak kurang dari 80 ekor ada dikandang miliknya dengan jumlah indukan 20 sampai 25 ekor. Masa kehamilan kelinci jenis Nz ini juga cukup singkat yaitu sekitar 30 hari. Sedangkan untuk siap dipotong butuh waktu 90-100 hari dengan bobot minimal 2 kg.
“Saya sejak kecil memang sudah hobi dengan kelinci. Setelah pulang merantau dari Solo saya bingung mau ngapain, saya coba pelihara dan beli indukan kelimci akhirnya ketemu dengan komunitas perkelincian di kebumen tahun 2018, sekarang hampir 3 tahun,” ucapnya.
Untuk harga, daging kelinci karkas atau daging beserta tulangnya dijual dengan harga Rp60.000-Rp70.000. Sedangkan daging kelinci fillet atau daging tanpa tulang dijual dengan harga Rp100.000-Rp110.000. Dari hasil ternaknya ia bisa meraup untung sekitar Rp1500.000-Rp2000.000 tiap perbulannya.
Untuk pemasarannya Musafa mengatakan di Kebumen sudah ada wadah yang menyerap daging kelinci salah satunya adalah Asosiasi Peternak Kelinci Kebumen (APKK). Bulan ini saja APKK sudah menyerap 6,5 kuintal daging kelinci tapi sebagian besar masih menyerap dari wilayah lain. Untuk pemasarannya APKK sudah mengirimkan ke kota-kita besar seperti Bandung, Jakarta hingga Pulau Bali.
“Pasarnya sangat jelas, meskipun keuntungan secara financial belum begitu besar khususnya kelinci pedaging namun potensi pasar cukup besar. Kemudian ada gerakan dari balai karantina Cilacap yang bekerjasama dengan Asosiasi yaitu potensi pasar ke luar negeri, itu kisaran 20 ton ke luar negeri tiap bulan. Kemudian ada potensi ekspor kelinci hidup, disana 1 kelinci hidup dijual dengan harga 80 sampai 200 dolar per ekor harganya hampir sama seperti kambing itu kan sangat luar biasa padahal sekali beranak bisa 6 ekor,” imbuhnya.(K24/ILHAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















