EkonomiInspirasi

Dibalik Produsksi Genteng di Kebumen, ada Tangan Terampil Kaum Ibu

2506
×

Dibalik Produsksi Genteng di Kebumen, ada Tangan Terampil Kaum Ibu

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com ,-  Produk genteng di Kebumen sudah dikenal luas dan paling dicari untuk kebutuhan bangunan. Kualitas yang baik menjadi alasan masyarakat memilih menggunakan produk genteng Kebumen. Salah satunya Genteng yang di produksi Riyanto warga Desa Wonosari Kecamatan Kebumen.

Namun siapa sangka, dibelik Produksi genteng tersebut sebagian besar justri dikerjakan tangan tangan terampail perempuan khususnya kaum ibu yang usianya tidak muda lagi. Mereka bekerja seperti halnya yang dikerjakan kaum laki-laki. Mulai dari penggilingan bahan baku tanah liat, pengeringan sampai percetakan. Namun untuk pembakaran biasanya tetap dilakukan oleh laki-laki.

Salah satu pekerja Sri Mulyani (55) mengaku bekerja membuat genteng sudah ia lakukan sejak 15 tahun yang lalu. Meski hasil yang didapat tak seberapa, namun ini ia tetap bersyukur karna dapat membantu pendapatan ekonomi keluarga dan sekaligus mengisi waktu luang.

Sri Mulyani mengatakan, pekerjaan ini ia lakukan bersama 5 orang temannya, mulai dari Pukul 7:00 wib pagi hingga Pukul 15;00 wib sore hari. Kendati begitu, tak ada target khusus berapa genteng yang ia produksi. Ia bekerja layaknya buruh harian lepas dengan upah 23 ribu perhari.

‘’ Saya sudah 15 tahun bekerja di sini. Kerja dari Pukul 7 pagi sampai 15 sore, kita tidak ditarget harus dapat berapa genteng, dan untuk upah yang kita dapat 23 ribu perhari,’’ucapnya kepada Wartawan, Minggu 13 Juni 2021.

Sementara itu, menurut Perajin Genteng Riyanto mengatakan proses pembuatan gentang disini memang banyak dilakukan oleh kaum perempuan sejak jaman dulu. Meski begitu, untuk pekerjaan yang dinilai berat tetap dilakukan oleh laki-laki. Ia mengakui, membuat genteng tidaklah mudah dan butuh tenaga ekstra. Mulai dari menggiling tanah, mencetak, mengeringkan sampai proses pembakaran.

“Berat, mas. Itu tanah kan harus dilembutkan lebih dulu, baru bisa dicetak. Kalau kasar hasilnya tidak bagus. Setelah kering dibersihkan atau dirapikan baru kemudian dibakar. Waktu pembakaran membutuhkan 6 hari baru bisa dibongkar dan dipasarkan,’’jelasnya.

Riyanto yang seudah 27 tahun menjadi perajin genteng ini mengaku, sebelum ada pandemi covid, biasanya dalam sehari mampu memproduksi sampai 1000 buah genteng. Namun saat ini hanya ratusan. Pesanan yang biasanya datang silih berganti, kini hanya seadanya. Belum lagi sekarang banyak perajin genteng tanah liat juga harus bersaing dengan genteng modern.

‘’ Dulu awalnya bisa mencapai ribuan genteng diproduksi perharinya kini hanya bisa memproduksi ratusan. Ditambah menurunnya minat generasi muda bekerja memproduksi genteng, ditambah cuaca yang juga tidak menentu. Ini sangat berpengaruh sekali,’’ujarnya.(K24/IMAM).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.