SRUWENG, Kebumen24.com – Berbekal dari pengalaman yang didapat selama menjadi seorang karyawan atau kenet di salah satu perusahaan sablon, Bayu Ahmad Ghozali (24) warga RT/01/02 Desa Trikarso, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, kini sukses memiliki usaha Sablon sendiri. Ditempat usahanya yang bernama ‘’Codeath Clotting Production‘’ ini, bisnis jasa penyablonan nya berkembang pesat.
Pemuda yang akrap disapa Codet ini mengaku tak menyangka usaha yang dirintis sejak tahun 2014 bisa maju dan bertahan sampai sekarang. Meski begitu Bayu mengatakan, usaha yang dijalaninya pun tidak serta merta berjalan mulus. Berbagai rintangan dan kendala telah ia lalui tahap demi tahap. Terutama dalam segi permodalan dan sulitnya mendapatkan komposisi sablon dan bahan yang berkualitas. Mengingat, sampai saat ini ia harus membeli di Daerah Kota Bandung.
‘’ Awalnya, sekitar tahun 2013 saya berkerja sebagai kenet sablon di tempat orang, dan tahun 2014 saya memilih untuk membuka jasa menyablonan sendiri. Karna minimnya modal untuk beli peralatan saya nyicil bahkan sempat juga menjual handphone untuk membeli alat sablon,’’ungkapnya, Rabu 8 Juli 2020 saat di temui di tempat usahanya.
Lebih jauh Bayu menceritakan, diawal memulai usahanya, dirinya hanya memproduksi sekitar satu lusin sablonan dalam perharinya atau sesuai dengan jumlah pesanan yang didapat. Namun seiring berjalannya waktu, usaha jasa sablon miliknya ini mampu mampu memproduksi 100 kaos Sablon per harinya. Bahkan, pesanan dalam satu bulan saat ini bisa mencapai sekitar 500-1000 kaos. Sedangkan untuk proses pengerjaannya, ia tidak sendiri, melainkan dibatu oleh dua temanya.
‘’ Awalnya kita dapat pesanan masih bijian dan paling banyak satu lusin. Tapi sekarang sudah ratusan, dan bahkan kita sudah tidak melayani pesanan dalam jumlah satuan,’’ujarnya.

Adapun untuk pemasaran masih sekitar wilayah Kebumen dan bekerja sama dengan beberapa outlet distro di Kebumen. Sedangkan untuk jenis pesanan yang sering diterima, yaitu sperti kaos, hoodie atau zipper, jaket dan baju kemeja. Sementara untuk harganya, baju atau kaos yang sudah di sablon, terbilang masih cukup murah, yakni sekitar Rp 45.000. Meski begitu, harga bisa menyesuaikan bahan dan desain serta kerumitan saat porduksi.
‘’ Harga itu relative, tergantung model, jenis bahan dan kerumitanya,’’imbuh Bayu.
Bayu menjelaskan, biasanya menjelang tahun baru dan idul fitri, dirinya menerima banyak pesanan. Namun, adanya pandemi ini, pesanan turun hingga 50%. Meski begitu, Dirnya tetap berharap pandemi corona bisa segera berlalu, dan usahanya ini dapt terus berjalan sehingga bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
“Semoga corona segera berlalu, usaha saya bisa terus berjalan, sehingga bisa tetap mempekerjakan masyarakat sekitar. Terutama muda mudi agar jangan menganggur,’’pungkasnya. (K24/ARTA/ZETTY PKL)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















