SENI BUDAYA

Hidupkan Seni Tradisional, Mahasiswa KKN IAINU Kebumen Gelar Festival Jamjaneng

3166
×

Hidupkan Seni Tradisional, Mahasiswa KKN IAINU Kebumen Gelar Festival Jamjaneng

Sebarkan artikel ini

KARANGSAMBUNG, Kebumen24.com- Kesenian tradisional Jamjaneng begitu melekat dihati masyarakat Kebumen khususnya bagi masyarakat Kecamatan Karangsambung. Terbukti, salah satu kesenian peninggalan leluhur yang memadukan iringan tabuhan alat musik tradisional dengan tembang sholawat khas jawa tetap lestari hingga kini.
Hal tersebut tidak terlepas berbagai kompetisi yang dilaksanakan guna membumikan kesenian jamjaneng. Seperti Festival Jamjaneng yang digelar oleh Mahasiswa KKN IAINU Kebumen, Desa Kedungwaru Kecamatan Karangsambung dengan bekerjasama lembaga organisasi Nahdlatul Ulama baik tingkat ranting maupun cabang.
Sedikitnya delapan grup jamjaneng se-Kecamatan Karangsambung turut berkompetisi dalam festival yang merupakan program kegiatan KKN IAINU tersebut.
Panitia Festival Jamjaneng Muhammad Khasbi menyampaikan, maksud diadakannya festival dalam rangka melestarikan kesenian jamjaneng ditengah kemajuan zaman saat ini. Dilain sisi, kesenian lokal yang dimiliki Kebumen ini agar lebih dekat dan dikenali generasi muda yang dinilai lebih cenderung menyukai dunia kesenian lain.

  “Kita tidak bisa memungkiri generasi usia muda sudah jarang yang mengenal apa itu namanya jamjaneng. Maka tugas kita bersama untuk mendekatkan itu,” ucapnya disela kegiatan, Rabu 22 Januari 2020.

 
Menanggapi hal tersebut, Camat Karangsambung R. Nurdin Santoso menyampaikan, bahwa kesenian jamjaneng merupakan kesenian yang harus tetap lestari. Sebab menurutnya, kesenian yang dulu sebagai media pendekatan dakwah islam adalah kesenian asli yang lahir dari Kebumen.

 “Saya apresiasi upaya ini karena jamjaneng salah satu kekayaan yang dimiliki Kebumen,” terangnya.

Dalam sambutan pembukaan festival, Nurdin berpesan dihadapan para peserta agar para pemain jamjaneng hendaknya mengekspresikan kesenian jamjaneng secara lahir batin. Menurutnya, cara tersebut lebih mengena dan diterima masyarakat.

“Misalnya jika sudah masuk waktu jam 12 siang, waktunya sholat ya harus sholat. Jangan malah tidak sholat,” jelasnya.

 
Sementara, salah satu peserta Festival Jamjaneng dari Desa Widoro, Mudjahid  mengapresiasi kegiatan ini. Selain sebagai ajang silaturahmi antar grup jamjaneng, juga sebagai arena menuangkan kreatifitas grup janeng yang berada di Kecamatan Karangsambung.

“Kami sangat mendukung dan berterimakasih atas kepedulian generasi muda terhadap budaya dan seni islami asli Kebumen ini. Kami Komunitas Jamjaneng sangat bangga atas event kali ini,” katanya yang juga sebagai Ketua Paguyuban Kesenian Tradisional Shalawat Jamjaneng Kebumen (Pastrajakeb).
 

Para peserta lomba dari perwakilan tim masing-masing desa tampak antusias dengan menampilkan karakteristik yang dimiliki. Hingga berakhirnya kegiatan yang digelar di Gor Serbaguna Desa Kedungwaru, muncul sang juara pada festival yang baru kali pertama digelar yakni sebagai juara satu diraih oleh Desa Seling, juara dua Desa Banioro sedangkan juara tiga Desa Widoro.(K24/Hfd/arta)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.