![]() |
| FOTO SELASA 31/12/019 PETANAHAN |
PETANAHAN, Kebumen24.com- Setiap kali pergantian Kepala Desa Nampudadi Kecamatan Petanahan, ada satu tradisi menarik yang selalu dilakukan, yakni pemindahan benda keramat yang sebelumnya berada di sekitar rumah mantan kepala desa kemudian diboyong ke rumah kepala desa baru.
Lawang Kori, begitulah masyarakat setempat menyebutnya sebagai benda keramat. Lawang yang berarti pintu sedangkan Kori adalah pembuka, merupakan sebuah pintu berusia ratusan tahun yang berasal dari Kerajaan Mataram. Secara kasat mata, benda berbahan kayu jati dengan panjang sekitar tiga meter itu terdapat ukiran bertuliskan aksara jawa kuno serta gambar binatang.
Masyarakat nampak berjubel begitu antusias menyaksikan boyongan benda keramat yang diselimuti beberapa lapisan kain jarik. Tabuhan gamelan kuda lumping pun mengiringi kedatangan Lawang Kori yang ditempatkan di sebelah kiri rumah kepala desa. Aroma kembang serta kemenyan tercium saat sebagian masyarakat mendirikan rumah kayu berukuran 2×3 meter persegi sebagai penyangga.
Tokoh Spiritual Desa Nampudadi, Budiantoro menjelaskan awal mula tradisi pemindahan Lawang Kori tidak ada yang tahu. Bahkan orang tertua di desa sekalipun. Namun, dirinya menganggap hal tersebut telah berlangsung secara turun temurun hingga saat ini.
“Sudah dari nenek moyang, saya kecil sudah ada seperti ini. Kita sebagai penerus tinggal melanjutkan,” ucapnya, (31/12).
Dia bercerita, Lawang Kori dulunya hendak dibawa oleh prajurit dari Mataram ke Pajajaran. Namun ditengah perjalanan atau tepatnya mendekati Desa Nampudadi, para prajurit meninggal hingga akhirnya ditempatkan di rumah kepala desa Nampudadi.
“Lebih lengkap harusnya dari abdi dalem. Sedikit cerita saja, dulu dari keraton Jogja, Lawang Kori ini harus sampai ke Pajajaran sebelum matahari terbit, prajurit itu istirahat ternyata kesiangan dan tidak diteruskan perjalanannya. Kemudian ditentukan tempat dirumah lurah,” tuturnya.
Kepala Desa Nampudadi, Rohmat mengatakan, sebagai wujud melestarikan tradisi peninggalan leluhur. Pihaknya tetap mempertahankan boyongan Lawang Kori yang dinilai menjadi salah satu kekayaan tradisi lokal. “Supaya tidak lupa dengan luluhur kita, hal seperti ini tidak bisa ditinggalkan,” tandasnya.
Lebih lanjut, menurut kepercayaan masyarakat setempat. Setelah prosesi boyongan ini berlangsung, Lawang Kori akan diberikan sesaji berupa makanan yang juga dikonsumsi kepala desa setiap hari.
“Sudah jadi bagian, ada sesaji berupa makanan dan minuman yang saya masak,” imbuhnya.
Sementara, Camat Petanahan Sri Kuntarti mengapresiasi masyarakat Nampudadi yang begitu peduli terhadap tradisi. Selain itu, dirinya juga mendorong agar pihak desa kedepan dapat merangkum penggalan cerita Lawang Kori untuk dituangkan dalam sebuah buku sejarah.
“Tentunya perlu penggalian cerita sejarah untuk jadi bahan edukasi, baiknya desa memiliki buku sejarah dengan narasumber yang berkompeten,” ujarnya saat ditemui Kebumen24.com disela kegiatan. (K24/Hfd)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















