PERISTIWA

Warga Karanganyar Turut Amati Gerhana Matahari Cincin

1453
×

Warga Karanganyar Turut Amati Gerhana Matahari Cincin

Sebarkan artikel ini
Foto Karanganyar 26/12/019

KARANGANYAR, Kebumen24.com- Gerhana matahari cincin sebagai peristiwa langit yang tergolong langka senantiasa mengundang perhatian publik. Tak terkecuali bagi warga Karanganyar yang begitu antusias menyaksikan fenomena alam tahunan ini.
Pemantauan gerhana matahari yang digelar oleh Lajnah Falakiyah Al Kawakib Pondok Pesantren Mambaul Ihsan Karanganyar bersama Lajnah Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kebumen dipusatkan di halaman masjid Kauman Karanganyar, Kamis (26/12). Sontak warga setempat berdatangan memanfaatkan momen itu karena disediakan dua jenis teleskop serta kacamata matahari guna memudahkan pemantauan.
Seperti halnya salah satu warga Aris Budiman (24) yang rela mendatangi lokasi karena merasa penasaran dengan fenomena langka itu.

“Saya dengar didepan kauman ada teleskop untuk melihat gerhana, kebetulan anak juga libur sekolah saya ajak kesini,” ucapnya.

Foto Karanganyar 26/12/019

Ketua Panitia Observasi Gerhana Matahari Cincin PCNU Kebumen dan Lajnah Falakiyah Al Kawakib, Abdul Haris mengungkapkan gerhana matahari yang terakhir terjadi pada 9 Maret 2016 mendapatkan perhatian besar. Sedangkan gerhana matahari sebelumnya terjadi pada 5 Mei 2013 cukup sulit diamati karena sudah terjadi sebelum matahari terbit dan berakhir hanya dalam durasi waktu satu jam dengan persentase penutupan matahari hanya sebesar 41%.

  “Biasanya masyarakat lebih perhatian menyaksikan gerhana matahari daripada gerhana bulan. Kesempatan ini kita sediakan teleskop untuk bisa menyaksikan langsung,” katanya.

Dari pantauan kebumen24.com, karena keterbatasan jumlah teleskop, tampak warga bergantian menggunakan teleskop seri Astromaster 400 manual serta Cube E-R80 semi robotik yang terhubung langsung dengan kamera dan komputer. Masih kata Haris, seminggu sebelum gerhana ini, tepatnya pada 19 Desember 2019 pukul 04.31 WIB. Bulan menempati titik terdekat bulan ke bumi. Pada saat itu, bulan berjarak 370.200 kilometer dari bumi, atau lebih kecil dibanding jarak rata-rata 384.400 kilometer.
Lebih lanjut, ia menjelaskan gerhana matahari cincin ketiga yang menghampiri segenap wilayah di Indonesia pada abad 21 itu tercakup dalam zona penumbra. Dimana persentase penutupan cakram matahari saat puncak gerhana dalam zona penumbra bervariasi antara 41% di Merauke hingga 98% di zona antumbra yang meliputi Sumatra Barat, Batam dan Kalimantan Barat.

“Di Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kebumen ini persentase penutupan cakram matahari saat puncak gerhana mencapai 74%,” ungkap Haris.
 

Disebutkan, gerhana matahari di Kebumen memasuki kontak awal gerhana pada pukul 10.54 WIB. Saat kontak awal ini terjadi, matahari sedang berada diketinggian 70 derajat dari ufuk timur. Selanjutnya berangsur cakram bulan yang gelap mulai menutupi cakram matahari. Sehingga puncak gerhana terjadi sekitar pukul 12.46 WIB, saat itu matahari telah tergelincir dan berada pada ketinggian 68 derajat dari ufuk barat.

“Cakram bulan meninggalkan cakram matahari hingga kontak akhir sekitar pukul 14.28 WIB. Secara keseluruhan gerhana matahari yang nampak sebagian di Kebumen memiliki durasi 214 menit,” imbuhnya.

Sementara Ketua Umum MUI Kebumen, KH Nur Shodik mengutarakan, dalam ranah religius gerhana matahari dikenang umat islam sebagai saat diperintahnya untuk melaksanakan ibadah shalat sunah gerhana dan agar tidak mengaitkan dengan peristiwa hidup dan matinya seseorang. Dalam hal ini peristiwa meninggalnya Ibrahim putra Rasulullah SAW.

“Hikmah adanya gerhana yaitu ada rahasia alam masih banyak sekali yang harus kita gali. Kemudian membuktikan bahwa manusia semakin kecil dihadapan tuhan,” terangnya.
 

Selain itu, gerhana matahari memberikan kesempatan mempelajari dinamika lapisan atmoser dan benda langit belum dikenal yang berdekatan dengan matahari. Menurutnya, gerhana pun memberikan kesempatan langka kepada umat manusia pengguna sistem kalender bulan untuk menyaksikan fenomena konjungsi yang bisa dilihat.

“Bisa dimanfaatkan oleh umat islam dan konghucu yang totalnya mencakup sekitar 2,3 miliar penduduk dunia,” pungkasnya. (K24/HFD)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.