BUAYAN, Kebumen24.com – Di tengah tantangan kelangkaan energi dan meningkatnya harga bahan bakar, Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, menghadirkan solusi berbasis potensi lokal melalui Kawasan Biogas Terpadu atau Edupark Biogas. Di kawasan ini, kotoran sapi diolah menjadi biogas sebagai sumber energi alternatif sekaligus pupuk organik untuk pertanian.
Kawasan eduwisata tersebut dibangun sejak awal 2024 melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI Jakarta, dan masyarakat setempat. Berada di atas lahan sekitar 150 ubin atau 2.100 meter persegi, kawasan ini dikembangkan secara terpadu dengan menggabungkan sektor peternakan, pertanian, dan edukasi.
Kepala Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, Suprapto mengatakan, kawasan tersebut dikelola secara swadaya oleh masyarakat di lahan milik salah satu warga dengan pendampingan dan monitoring dari Unindra Jakarta melalui program pengabdian kepada masyarakat.
“Kawasan biogas Banyumudal merupakan kawasan yang dikelola secara terintegrasi. Di dalamnya terdapat peternakan, perkebunan hingga perikanan. Lahan pribadi milik salah satu warga ini dikelola secara swadaya dari masyarakat sekitar yang bekerja sama dan dimonitor oleh Unindra Jakarta melalui program pengabdian masyarakat,” ujar Suprapto, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, keberadaan kawasan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada bisnis, tetapi juga menjadi wadah edukasi dan sarana membantu masyarakat sekitar. Saat ini, pengelolaan kawasan didukung enam orang, terdiri atas empat tenaga lapangan, satu tenaga administrasi, dan satu pengawas.
Untuk sektor peternakan, terdapat sapi, kambing, dan ayam. Namun, sapi menjadi fokus utama karena kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas dan pupuk organik. Saat musim hujan, jumlah sapi yang dipelihara biasanya mencapai 12 ekor. Namun, jumlah tersebut dikurangi ketika musim kemarau karena keterbatasan pakan akibat kekeringan.
Dari 12 ekor sapi tersebut, sedikitnya dapat dihasilkan sekitar 50 kilogram kotoran setiap hari. Pengolahannya menggunakan konsep zero waste, sehingga limbah ternak tidak terbuang percuma. Kotoran yang masuk ke bak penampungan dipisahkan menjadi urin dan kotoran padat.
Urin sapi ditampung dan difermentasi untuk menghasilkan pupuk organik cair. Sementara kotoran padat dimasukkan ke dalam kubah digester untuk diolah menjadi biogas. Ampas yang tersisa dari proses produksi biogas kemudian kembali dimanfaatkan menjadi pupuk organik padat untuk kebutuhan pertanian.
“Dari hasil kotoran hewan ternak, masyarakat bisa meminta secara gratis berupa pupuk maupun biogas,” jelasnya.
Potensi biogas yang dihasilkan sebenarnya cukup besar. Dengan ketersediaan kotoran dari 12 ekor sapi setiap hari, biogas tersebut diperkirakan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak sekitar 50 rumah tangga secara bergiliran apabila didukung peralatan yang memadai.
Namun, pemanfaatannya saat ini belum maksimal karena biogas membutuhkan bantalan gas khusus. Peralatan tersebut cukup sulit ditemukan di Kebumen karena tidak menggunakan tabung gas seperti LPG dan alatnya harus didatangkan dari Korea.
“Satu bantalan gas bisa berisi lima kilogram biogas dan dapat bertahan sekitar dua minggu untuk memasak sehari-hari. Kalau sudah habis bisa mengisi lagi. Jadi seperti tambal sulam karena masyarakat yang mengambil stok tidak bersamaan,” ungkapnya.
Kawasan Biogas Terpadu Banyumudal juga masuk dalam kawasan Geopark Kebumen dan terbuka sebagai lokasi edukasi tanpa pungutan biaya. Dalam satu bulan, kawasan tersebut selalu mendapat kunjungan meski tidak setiap hari, terutama dari lembaga pendidikan mulai dari PAUD, TK hingga SD.
Para pengunjung dapat belajar secara langsung mengenai peternakan, pertanian, pengolahan limbah, hingga pemanfaatan energi terbarukan. Edupark Biogas Banyumudal diharapkan tidak hanya menjadi solusi pemanfaatan limbah ternak, tetapi juga mendorong ketahanan energi dan pertanian berbasis masyarakat. (K24/Ilham)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















