Wisata

Hormati Kebijakan Bupati, Biro Wisata Kebumen: Jangan Hanya Bicara Larangan, Tapi Solusi, Study Tour Bagian Promosi Geopark UNESCO

×

Hormati Kebijakan Bupati, Biro Wisata Kebumen: Jangan Hanya Bicara Larangan, Tapi Solusi, Study Tour Bagian Promosi Geopark UNESCO

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Himpunan Biro Wisata Kabupaten Kebumen menghormati kebijakan Bupati Kebumen terkait pelaksanaan study tour atau outing class. Namun, mereka berharap pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pembatasan perjalanan, melainkan juga menyiapkan solusi agar kegiatan pembelajaran di luar kelas tetap berjalan aman, terjangkau, dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.

Kejelasan aturan dinilai penting agar sekolah memiliki pedoman yang pasti dalam merencanakan kegiatan edukasi, sementara pelaku usaha pariwisata dapat menyesuaikan layanan tanpa harus menghadapi ketidakpastian yang berpotensi menimbulkan kerugian.

Penasehat Himpunan Biro Wisata Kebumen, Eko Yulianto, mengatakan pihaknya memahami perhatian Bupati terhadap keselamatan siswa dan kemampuan ekonomi orang tua. Menurutnya, upaya melindungi peserta didik merupakan hal penting yang patut diapresiasi.

Meski demikian, ia berharap aspek pendidikan, pengenalan budaya, serta promosi potensi daerah juga menjadi bagian dari pertimbangan dalam merumuskan kebijakan.

“Kami menghormati dan mengapresiasi perhatian Bupati terhadap kepentingan siswa dan orang tua. Namun, aspek pendidikan dan pengenalan wisata juga perlu dipertimbangkan. Kami berharap ada penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan yang berlaku agar sekolah dan pelaku usaha memiliki kepastian,” kata Eko dalam jumpa pers di Mexolie Hotel, Senin (12/10/2026).

Menurut Eko, berdasarkan pemahamannya, surat edaran Bupati yang selama ini menjadi pedoman memuat panduan pelaksanaan outing class, baik di dalam maupun di luar Kabupaten Kebumen. Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan penegasan mengenai ruang lingkup kebijakan, termasuk dasar aturan dan petunjuk teknis pelaksanaannya.

Ia menyebut ketidakpastian tersebut membuat sejumlah sekolah memilih menunda keputusan terkait kegiatan yang telah direncanakan. Padahal, sebagian biro perjalanan sudah melakukan persiapan, memesan layanan pendukung, hingga menerima pembayaran dari pihak sekolah.

Ketika perjalanan dibatalkan atau ditunda, pelaku usaha harus menghadapi konsekuensi biaya yang telanjur dikeluarkan, termasuk kemungkinan pengembalian uang muka maupun pembayaran lainnya.

“Kami tidak bermaksud mempertentangkan kepentingan pemerintah dengan pelaku usaha. Jika memang ada pembatasan, tentu kami akan menghormatinya. Namun, dasar kebijakan, ruang lingkup, dan petunjuk teknisnya perlu dijelaskan agar semua pihak bisa menyesuaikan diri,” ujarnya.

Eko menambahkan, pihaknya telah mengajukan permohonan audiensi dengan Bupati Kebumen untuk menyampaikan aspirasi dan mencari jalan keluar bersama. Hingga saat ditemui, menurutnya, mereka masih menunggu tindak lanjut atas permohonan tersebut.

Sebelumnya, Himpunan Biro Wisata Kebumen bersama Asosiasi Pelaku Perjalanan Wisata Indonesia (Asperwi) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) telah diundang untuk bertemu dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen.

Dalam pertemuan itu, disampaikan bahwa surat edaran Bupati tetap diberlakukan dan akan dilengkapi dengan petunjuk teknis serta daftar periksa atau checklist sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan.

Meski demikian, Eko mengatakan sejumlah sekolah masih memilih menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum memutuskan pelaksanaan outing class ke luar daerah.

Ia berharap petunjuk teknis segera diterbitkan agar sekolah dapat menyusun kegiatan berdasarkan ketentuan yang jelas, termasuk mengenai keselamatan, pembiayaan, tujuan pembelajaran, dan mekanisme pelaksanaannya.

Menurutnya, kejelasan aturan juga akan membantu menghindari perbedaan penafsiran di lapangan sehingga kebijakan dapat diterapkan secara konsisten.

Eko menilai perjalanan edukatif dapat menjadi pelengkap pembelajaran di sekolah. Melalui kegiatan di luar kelas, siswa berkesempatan mengenal lingkungan, sejarah, kebudayaan, kondisi sosial masyarakat, hingga kekayaan alam yang tidak seluruhnya dapat dipelajari hanya melalui buku atau pembelajaran di ruang kelas.

Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai study tour sebaiknya tidak berhenti pada persoalan boleh atau tidaknya perjalanan ke luar daerah. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kegiatan tersebut benar-benar memiliki tujuan pendidikan yang terukur dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

“Kami mengapresiasi langkah Bupati yang memperhatikan kepentingan siswa. Namun, jangan sampai kesempatan anak-anak memperoleh pengalaman belajar di luar kelas menjadi terbatas tanpa alternatif yang memadai. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman mengenal alam, budaya, dan potensi daerah,” jelasnya.

Ia menegaskan, kegiatan edukasi tidak harus dilakukan dengan perjalanan jauh ataupun biaya besar. Sekolah dapat menyusun program sesuai kemampuan ekonomi orang tua, dengan tetap mengutamakan keselamatan, kualitas pembelajaran, dan manfaat bagi siswa.

Biro wisata, lanjutnya, terbuka untuk mengembangkan paket perjalanan edukatif di dalam Kabupaten Kebumen sebagai alternatif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Lebih jauh, Eko menyoroti pentingnya mengenalkan potensi wisata Kebumen kepada generasi muda. Menurutnya, kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan lokal merupakan sumber pembelajaran yang dapat memperkuat pengetahuan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah sendiri.

Hal ini dinilai semakin relevan dengan keberadaan Geopark Kebumen yang telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai UNESCO Global Geopark.

Menurut Eko, status tersebut merupakan peluang bagi Kebumen untuk memperluas pengenalan potensi daerah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, pengakuan tersebut perlu diikuti upaya promosi yang berkelanjutan dan edukasi kepada masyarakat, termasuk para pelajar.

Generasi muda perlu memahami bahwa geopark bukan sekadar destinasi wisata, melainkan kawasan yang memiliki nilai penting dari sisi warisan geologi, keanekaragaman hayati, kebudayaan, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Pengenalan sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap kekayaan daerah serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Eko menilai sekolah, biro perjalanan, pengelola destinasi, dan pemerintah daerah dapat bekerja sama menyusun paket wisata edukasi yang menghubungkan materi pelajaran dengan kondisi nyata di lapangan.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan outing class tidak hanya menjadi perjalanan rekreasi, tetapi juga sarana memperkenalkan identitas dan keunggulan Kebumen kepada generasi penerus.

Eko menjelaskan, peran biro wisata lokal tidak sebatas memberangkatkan rombongan dari Kebumen menuju daerah lain. Pelaku usaha juga berupaya mendatangkan wisatawan dari luar daerah agar berkunjung dan menikmati destinasi wisata di Kebumen.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan paket perjalanan lintas daerah yang menghubungkan Kebumen dengan Yogyakarta.

Wisatawan dari wilayah Banyumas dan Cilacap, misalnya, ditawarkan perjalanan satu hari dengan mengunjungi kawasan Karangsambung, menikmati makan siang di Kebumen, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Sementara itu, wisatawan dari Boyolali, Klaten, dan sekitarnya ditawarkan paket perjalanan dua hari, dengan satu hari berkunjung ke Yogyakarta dan satu hari menjelajahi destinasi di Kebumen.

“Kami sudah berupaya membuat program untuk mendatangkan wisatawan dari luar daerah. Jadi, kegiatan biro wisata bukan hanya memberangkatkan rombongan dari Kebumen, tetapi juga ikut membantu memasarkan destinasi wisata Kebumen agar semakin dikenal luas,” ungkapnya.

Ia berharap promosi pariwisata daerah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dengan melibatkan biro perjalanan lokal, pengelola destinasi, pemandu wisata, pelaku UMKM, dan pemangku kepentingan lainnya.

Menurutnya, kolaborasi tersebut berpotensi memperluas jaringan pemasaran sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata.

Terkait kekhawatiran mengenai biaya study tour, Eko menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan program yang harus diikuti seluruh siswa. Pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kesepakatan sekolah, kemampuan ekonomi keluarga, dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.

Ia menyebut pelaku biro wisata juga berupaya memberikan dukungan sosial bagi siswa dari keluarga kurang mampu, anak yatim, dan piatu melalui koordinasi dengan pihak sekolah.

Bentuk dukungan tersebut antara lain pembebasan biaya bagi siswa tertentu, potongan harga bagi saudara kandung yang mengikuti perjalanan bersama, hingga pemberian uang saku bagi siswa dari keluarga yang masuk kategori miskin ekstrem.

Menurut Eko, bantuan tersebut merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) yang dapat dikembangkan oleh pelaku usaha.

Meski demikian, ia menilai setiap kegiatan tetap harus dirancang secara transparan dan tidak memaksakan keikutsertaan siswa. Anak-anak yang tidak mengikuti perjalanan karena keterbatasan ekonomi maupun pertimbangan keluarga juga perlu memperoleh perlakuan yang adil dan tidak merasa tersisih.

Dengan demikian, kegiatan edukasi di luar sekolah dapat dilaksanakan secara lebih inklusif tanpa menambah beban yang tidak semestinya bagi orang tua.

Selain persoalan outing class, Eko berharap Pemerintah Kabupaten Kebumen memberikan ruang partisipasi yang lebih luas kepada biro wisata lokal dalam program promosi pariwisata daerah.

Ia menyoroti kegiatan travel mart yang diselenggarakan pemerintah daerah beberapa waktu lalu di Gombong. Menurutnya, pelaku biro wisata lokal perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat karena memiliki pengalaman dalam menawarkan paket perjalanan, memahami pasar wisata, dan membangun jaringan dengan calon pengunjung.

“Kami menyayangkan apabila biro wisata lokal belum mendapatkan kesempatan untuk terlibat. Padahal, kami berada di Kebumen dan memiliki kepentingan langsung untuk ikut memasarkan potensi daerah. Harapannya, ke depan ada ruang kolaborasi yang lebih terbuka,” katanya.

Eko berharap pelibatan pelaku usaha lokal dapat menjadi bagian dari strategi promosi pariwisata yang berkelanjutan. Selain memperkenalkan destinasi, langkah tersebut juga dapat membuka peluang kerja sama dengan pelaku UMKM, pengelola objek wisata, pemandu lokal, dan sektor usaha pendukung lainnya.

Terlebih, keberadaan Geopark Kebumen sebagai UNESCO Global Geopark dinilai membuka peluang untuk memperluas jangkauan promosi sekaligus memperkuat posisi Kebumen sebagai tujuan wisata edukasi.

Sementara itu, Ketua Himpunan Biro Wisata Kabupaten Kebumen, Sarwo Edi Sulaksono, mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian hasil koordinasi dengan Dinas Pendidikan mengenai pelaksanaan outing class.

Menurut Sarwo, pihaknya belum mengetahui adanya surat atau peraturan resmi yang secara tegas menjadi dasar penghentian kegiatan outing class ke luar daerah.

“Banyak sekolah yang sebelumnya sudah melakukan pemesanan dan menentukan tanggal keberangkatan. Namun, sebagian akhirnya membatalkan atau menunda karena masih menunggu kepastian dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen,” ujarnya.

Himpunan Biro Wisata Kebumen menegaskan akan menghormati dan mengikuti ketentuan pemerintah. Namun, mereka berharap aturan tersebut segera diperjelas melalui petunjuk teknis yang mudah dipahami, memiliki dasar yang jelas, dan dapat diterapkan secara konsisten.

Pada akhirnya, pembahasan mengenai outing class diharapkan tidak hanya berpusat pada perjalanan ke dalam atau ke luar daerah. Lebih dari itu, diperlukan solusi bersama agar kegiatan pembelajaran di luar kelas tetap aman, terjangkau, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.

Perlindungan terhadap siswa dan perhatian terhadap kemampuan ekonomi keluarga dapat berjalan beriringan dengan penguatan pendidikan, kepastian usaha, serta promosi pariwisata daerah.

Dengan komunikasi yang terbuka antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan pelaku wisata, Kebumen memiliki peluang untuk mengembangkan model wisata edukasi yang tidak hanya mendukung proses belajar, tetapi juga memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan warisan geologi daerah kepada generasi muda.

Geopark Kebumen sebagai UNESCO Global Geopark pun diharapkan tidak hanya dikenal melalui status pengakuannya, tetapi juga semakin dipahami, dikunjungi, dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat, khususnya generasi penerus.(K24/Ilham)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.