Pendidikan

Apel Pagi, Siswa SMK Ma’arif 1 Kebumen Diajak Jadi Pengguna Digital Cerdas

×

Apel Pagi, Siswa SMK Ma’arif 1 Kebumen Diajak Jadi Pengguna Digital Cerdas

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat mendorong generasi muda untuk tidak sekadar mahir menggunakan gawai dan media sosial. Mereka juga dituntut mampu berpikir kritis, menjaga etika, memeriksa informasi, serta bertanggung jawab atas setiap aktivitas di ruang digital.

Pesan tersebut disampaikan Pimpinan Media Kebumen24.com, M Tohri, saat menjadi pembicara dalam apel pagi yang diikuti siswa kelas X SMK Ma’arif 1 Kebumen, Jumat (25/9/2026).

Mengusung tema “Menjadi Pengguna Digital: Cerdas atau Sekadar Aktif?”, M Tohri mengajak para siswa mengevaluasi kembali kebiasaan mereka dalam menggunakan handphone dan berbagai platform media sosial.

Dalam penyampaiannya, ia mengawali dengan sejumlah pertanyaan sederhana. Mulai dari siapa yang memiliki handphone, aktif menggunakan WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube hingga Facebook, sampai siapa yang pernah menyesal setelah mengirim pesan, menulis komentar atau mengunggah sesuatu di media sosial.

Menurut M Tohri, kebiasaan menggunakan media sosial secara spontan harus diimbangi kesadaran bahwa setiap aktivitas digital dapat meninggalkan jejak.

“Kalau sebuah postingan bisa memengaruhi masa depan kita, apakah kita masih akan asal posting?” katanya di hadapan para siswa.

M Tohri menjelaskan literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi. Literasi digital mencakup kemampuan mencari dan memahami informasi, memeriksa kebenaran, berkomunikasi secara etis, menjaga keamanan diri, serta bertanggung jawab terhadap konten yang dibuat maupun dibagikan.

Ia mengingatkan konten yang sudah berada di ruang digital tidak selalu mudah dihapus sepenuhnya.

Foto dapat di-screenshot, video dapat disimpan kembali, sedangkan komentar bisa diteruskan kepada orang lain. Bahkan, unggahan yang telah dihapus pun belum tentu benar-benar hilang.

Karena itu, siswa diminta mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengunggah konten, antara lain kebenaran informasi, manfaat, kebutuhan untuk membagikannya, serta dampaknya terhadap orang lain.

“Kalau postingan saya ini dibaca orang tua, guru, teman, atau calon pemberi kerja lima tahun lagi, apakah saya masih merasa nyaman?” ujarnya.

Persoalan hoaks juga menjadi bagian penting dalam materi tersebut. M Tohri mengingatkan siswa agar tidak menjadikan viralnya sebuah informasi sebagai ukuran kebenaran.

Informasi dengan judul provokatif, menakutkan atau memancing kemarahan, kata dia, sering kali membuat seseorang langsung membagikannya tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Ia kemudian mengenalkan pola sederhana sebelum membagikan informasi, yakni “Baca, Cek, Bandingkan, Verifikasi, Baru Bagikan.”

“Saring sebelum sharing. Jangan menjadi orang yang paling cepat membagikan berita. Jadilah orang yang paling bertanggung jawab ketika membagikan informasi,” pesannya.

M Tohri juga mengingatkan siswa mengenai bahaya perundungan di dunia digital atau cyberbullying.

Menurutnya, tindakan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti penghinaan, body shaming, penyebaran aib atau rumor, pembuatan akun palsu, penyebaran data pribadi, hingga mengucilkan seseorang melalui grup digital.

Ia meminta siswa tidak menjadikan alasan “hanya bercanda” untuk membenarkan tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain.

“Bercanda itu harus sama-sama tertawa. Kalau hanya satu pihak yang tertawa sementara pihak lain terluka, itu bukan lagi candaan yang sehat,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus mengajak siswa menjaga ucapan dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga jari ketika berinteraksi di dunia maya.

Dalam kesempatan tersebut, M Tohri juga memberikan gambaran mengenai tantangan jurnalistik di tengah derasnya arus media sosial.

Saat ini, sebuah peristiwa dapat direkam dalam hitungan menit dan langsung tersebar luas. Namun, kecepatan tersebut tidak boleh menghilangkan proses verifikasi dan pemeriksaan fakta.

Dalam kerja jurnalistik, informasi harus diperiksa sumbernya, fakta dan opini dibedakan, pihak terkait dikonfirmasi, serta unsur 5W+1H diperhatikan.

“Cepat bukan alasan untuk ceroboh,” katanya.

Ia menambahkan, kualitas pemberitaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang pertama kali menyampaikan informasi, tetapi juga oleh ketepatan, akurasi, keberimbangan dan tanggung jawab dalam menyajikannya.

Jika terjadi kesalahan, media perlu melakukan koreksi atau ralat serta memberikan ruang hak jawab kepada pihak yang dirugikan.

M Tohri menjelaskan bahwa AI dapat membantu berbagai pekerjaan, mulai dari mencari ide, membuat transkrip, mengolah data hingga menyusun draf. Namun, hasil yang diberikan AI tetap harus diperiksa oleh manusia.

Ia mengingatkan siswa agar tidak menerapkan pola “copy, paste, publish” tanpa melakukan verifikasi. Sebaliknya, ia mendorong pola “cek, verifikasi, edit, cek lagi, kemudian publish.”

“AI bisa membantu pekerjaan manusia, tetapi AI tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia,” jelasnya.

Menurutnya, apabila informasi yang dihasilkan AI ternyata keliru kemudian dipublikasikan tanpa pemeriksaan, tanggung jawab tetap berada pada orang yang menggunakan dan menyebarkan informasi tersebut.

Etika pemberitaan juga menjadi perhatian. M Tohri mengingatkan bahwa kepentingan publik tidak selalu sama dengan rasa ingin tahu publik.

Karena itu, pemberitaan yang menyangkut anak, korban kekerasan maupun penyandang disabilitas harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

“Anak bukan konten. Korban bukan alat untuk menaikkan jumlah klik. Penyandang disabilitas bukan objek belas kasihan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa praktik jurnalistik harus memperhatikan akurasi, empati, inklusivitas serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam pemberitaan mengenai kekerasan dan isu sensitif lainnya, media juga dituntut berhati-hati dalam menggunakan bahasa dan istilah hukum.

M Tohri mengingatkan istilah terduga, tersangka, terdakwa dan terpidana memiliki makna yang berbeda sehingga penggunaannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

“Media bukan lembaga yang bertugas menentukan seseorang bersalah atau tidak. Tugas media adalah menyampaikan informasi yang benar kepada publik dengan tetap menjaga etika dan hukum,” ujarnya.

Sebagai penutup, M Tohri mengajak para siswa membangun kebiasaan sederhana sebelum mengunggah foto, video, komentar maupun informasi.

Ia menyebut kebiasaan tersebut sebagai “sepuluh detik sebelum publish”. Dalam jeda singkat itu, pengguna diminta kembali memeriksa fakta, sumber, verifikasi, akurasi, keberimbangan, etika, privasi, inklusivitas, penggunaan AI serta kesiapan untuk bertanggung jawab.

Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi benteng agar generasi muda tidak sekadar aktif di dunia digital, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang bijak dan bertanggung jawab.

“Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin pintar dan media sosial akan semakin cepat. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kalah cepat, yaitu pikiran kita,” pesannya.

Ia pun mengajak siswa memanfaatkan handphone sebagai sarana belajar, menggunakan media sosial sebagai ruang berkarya, membangun jejaring secara positif, serta memanfaatkan AI sebagai alat bantu secara bijak.

Tiga pesan utama kemudian ditekankan kepada para siswa, yakni “Berpikir Sebelum Mengetik, Saring Sebelum Sharing, dan Bijak Sebelum Viral.”

Khusus bagi siswa yang tertarik pada dunia jurnalistik, M Tohri menegaskan teknologi dan AI memang dapat mempercepat proses kerja, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap kebenaran dan dampak dari setiap karya yang dihasilkan.

“Jadilah pengguna digital yang bukan hanya aktif, tetapi juga cerdas, kritis, etis, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.