SEJARAH

Sejarah Desa Pekuncen: Dari Pertapaan hingga Desa Mandiri di Kebumen

225
×

Sejarah Desa Pekuncen: Dari Pertapaan hingga Desa Mandiri di Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pekuncen, yang terletak di Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang dan menarik. Wilayah ini dikenal karena keindahan alamnya, berupa bukit kecil yang bersebelahan dengan sawah subur Dukuh Aglik, mata air yang mengalir sepanjang tahun di Pacor, serta hutan lebat di Watu Barut dan Alas Kasan. Keindahan tersebut menciptakan harmonisasi alam yang menarik pengunjung dan penduduk untuk tinggal dan menyatu dengan alam.

Sejarah Pekuncen berawal dari seorang pertapa bernama Ki Aglik, yang menetap di lereng selatan hutan Watu Barut. Ki Aglik menikah dan memiliki keturunan yang menyebar hingga timur, membentuk sembilan dusun: Ngaglik, Kali Abang, Jurangjero, Meton Sitiris, Pesantren, Yentek, Pekuncen, Sapanyana, dan Rawabeyen. Setiap dusun dipimpin oleh tokoh atau lurah yang dihormati, yang semuanya merupakan keturunan Ki Aglik.

Dukuh Pekuncen mengalami perkembangan pesat, bahkan banyak pejabat kerajaan Yogyakarta, termasuk Pangeran Ontowiryo yang dikenal sebagai Pangeran Diponegoro, pernah berkunjung. Beberapa pejabat kerajaan juga dimakamkan di Pemakaman Pekuncen, termasuk keluarga Raden Adipati Mangkuprojo, bupati dari Kadipaten Kebumen dan Banyumas, serta Bupati pertama Kebumen era Republik, Sukadis.

Selain itu, Pekuncen memiliki situs sejarah religi penting, Masjid Saka Tunggal, yang menjadi pusat ibadah dan transit bagi para peziarah. Tokoh besar Pekuncen, Mbah Langgeng Adipuro, berhasil menyatukan sembilan dusun menjadi satu desa setingkat pademangan bernama Pekuncen. Beliau dikenal sebagai ulama dan negarawan yang dihormati, bahkan dikeramatkan, serta konon memelihara macan putih.

Sejak masa Republik, pemerintahan desa mengalami transformasi dari struktur tradisional Lurah–Carik–Polisi Desa–Kebayan menjadi Kades–Sakdes–Jaur–Kadus. Pada era 1980-an, terbentuk pula RW dan RT. Di bidang pendidikan dan infrastruktur, SD Inpres berdiri tahun 1975, sedangkan Balai Desa dibangun pada 1987–1988.

Pekuncen juga mengalami perubahan ekonomi signifikan. Pada 1985, dibukanya pertambangan pasir di Sungai Luereng mengubah sebagian penduduk dari petani menjadi penambang. Pertanian pun berkembang dengan adanya sawah irigasi teknis seluas 14 hektar, memungkinkan panen dua kali setahun.

Pada 1995–1996, Pekuncen mulai dikenal luas berkat Masjid Saka Tunggal dan Perumnas Pekuncen Permai, komplek perumahan pertama di Kulon Kali Lukulo. Pemerintahan desa juga diperkuat dengan berdirinya Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang mewakili sembilan dusun, dengan ketua BPD dari masa ke masa antara lain Ir. Muhartono (2001–2006), Suprapto S.Pd. (2006–2011), dan Imin Supriyanto (2011–2017).

Seiring bertambahnya penduduk, RW dan RT di Pekuncen mengalami pemekaran. Saat ini, desa memiliki 4 RW dan 18 RT, membagi wilayah sebagai berikut:

  1. RW 01: Dukuh Pekuncen (RT 01–05)
  2. RW 02: Pesantren, Meton Sitiris, Yentek (RT 01–04)
  3. RW 03: Kali Abang, Aglik, Jurangjero (RT 01–05)
  4. RW 04: Sapanyana, Rawabeyen (RT 01–04)

Perjalanan panjang Pekuncen dari wilayah pertapaan hingga menjadi desa yang mandiri dan berkembang kini menjadi bagian penting sejarah dan identitas Kabupaten Kebumen.

Sumber: Profil Desa Pekuncen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com