SEJARAH

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Indrosari Kebumen: Dari Legenda Patrayuda hingga Lahirnya Tiga Pedukuhan

436
×

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Indrosari Kebumen: Dari Legenda Patrayuda hingga Lahirnya Tiga Pedukuhan

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Indrosari di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang berakar dari legenda para leluhur. Cerita turun-temurun ini tidak hanya menjadi identitas desa, tetapi juga menggambarkan perjalanan masyarakat dalam membangun peradaban sejak masa lampau.

Menurut sumber sejarah lokal, kisah Desa Indrosari bermula dari kedatangan seorang bangsawan dari Solo bernama Pambayun ke sebuah wilayah yang telah dihuni masyarakat. Dari garis keturunan Pambayun lahir tokoh-tokoh penting yang menjadi cikal bakal terbentuknya beberapa wilayah pemukiman di daerah tersebut.

Pambayun memiliki anak bernama Maduseno, yang kemudian menurunkan Cokromijoyo. Dari Cokromijoyo lahir Wirasana, yang dikenal sebagai cikal bakal wilayah Ampih. Wirasana kemudian memiliki anak bernama Patrayuda, seorang tokoh yang dikenal memiliki kemampuan dan pengetahuan luas.

Patrayuda menetap di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Remang. Ia dikenal sering membagikan ilmu kepada masyarakat sekitar sehingga warga menjadi semakin cerdas dan terampil. Dalam pepatah Jawa disebutkan, meskipun “merem” atau terpejam, masyarakatnya tetap tidak ragu atau “ora mamang”. Dari istilah tersebut kemudian lahir nama Pedukuhan Remang.

Perjalanan Patrayuda berlanjut ke arah selatan hingga menemukan wilayah tegalan yang luas dan subur. Tempat tersebut kemudian diberi nama Karangreja, yang mencerminkan kondisi wilayah yang makmur dan berkembang. Sementara di arah barat laut, Patrayuda juga menemukan wilayah lain yang kemudian dinamakan Banjaran, karena masyarakatnya dikenal kuat dan tangguh seperti baja.

Patrayuda kemudian memiliki seorang anak bernama Ditalaksana, yang tercatat sebagai lurah atau kepala desa pertama di wilayah tersebut. Ditalaksana menyatukan tiga pedukuhan yang telah berkembang, yaitu Remang, Banjaran, dan Karangreja.

Karena memiliki banyak kesamaan budaya dan kehidupan masyarakat, Ditalaksana menyebut wilayah gabungan tersebut sebagai “panggonan sari rasa”, yang kemudian berkembang menjadi nama Endrosari. Seiring waktu, nama itu berubah menjadi Indrosari, yang hingga kini digunakan sebagai nama desa.

Balai Desa Berdiri Tahun 1977

Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Indrosari awalnya belum memiliki kantor desa tetap. Pusat pemerintahan desa saat itu berpindah-pindah dan berada di rumah kepala desa yang sedang menjabat.

Baru pada era tahun 1970-an, tepatnya saat desa dipimpin oleh Penjabat Kepala Desa Djaelani, masyarakat bersama perangkat desa berinisiatif membangun pusat pemerintahan desa. Dengan semangat gotong royong, berdirilah Balai Desa Indrosari pada tahun 1977 di wilayah Dusun Remang.

Balai desa tersebut juga dilengkapi dengan rumah dinas kepala desa yang digunakan oleh pejabat kepala desa pada masa itu. Djaelani menjabat sebagai Pj Kepala Desa dari tahun 1977 hingga 1979, kemudian dilanjutkan oleh Djati Asmoro Krisno yang memimpin desa hingga tahun 1990.

Seiring waktu, bangunan balai desa terus mengalami penyesuaian dan hingga kini tetap menjadi pusat pelayanan masyarakat serta tempat musyawarah warga Desa Indrosari.

Daftar Kepala Desa Indrosari dari Masa ke Masa

Berikut beberapa kepala desa yang pernah memimpin Desa Indrosari:

  • Rolin Wongso Atmodjo – Era 1950-an
  • Moegiyono – Era 1960-an
  • Djaelani – 1977–1979 (Pj Kepala Desa)
  • Djati Asmoro Krisno – 1979–1990
  • Sutono – 1990–1998
  • Mokh Habib – 1998–2007
  • Slamet – 2007–2013
  • Muslih, S.Sos.I – 2013–2019
  • Chosin, A.Ma. – 2019–2025

Letak Geografis Desa Indrosari

Secara geografis, Desa Indrosari merupakan salah satu dari 449 desa di Kabupaten Kebumen dan termasuk dalam 21 desa di Kecamatan Buluspesantren. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 179 hektare dengan ketinggian rata-rata 7,8 meter di atas permukaan laut.

Wilayah Desa Indrosari berbatasan dengan:

  • Sebelah Barat: Desa Arjowinangun
  • Sebelah Timur: Desa Gondanglegi, Kecamatan Ambal
  • Sebelah Selatan: Desa Banjurpasar
  • Sebelah Utara: Desa Ampih

Sebagian besar wilayah desa merupakan lahan sawah tadah hujan seluas sekitar 140 hektare, sedangkan 39 hektare lainnya berupa lahan kering yang digunakan sebagai permukiman dan pekarangan warga.

Dengan sejarah panjang yang berawal dari legenda para leluhur hingga berkembang menjadi desa yang tertata saat ini, Indrosari menjadi salah satu wilayah yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan semangat kebersamaan masyarakat di Kabupaten Kebumen.

Sumber: Website Desa Indrosari


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.