SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Sadangwetan: Dari Kampung Loning yang Terpencil hingga Menjadi Desa yang Berkembang

261
×

Jejak Sejarah Desa Sadangwetan: Dari Kampung Loning yang Terpencil hingga Menjadi Desa yang Berkembang

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik perkembangan sebuah desa, tersimpan cerita panjang tentang asal-usul, perjuangan, hingga perubahan zaman. Hal itu juga melekat pada sejarah Desa Sadangwetan, sebuah desa yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo.

Desa Sadangwetan dulunya dikenal sebagai sebuah dusun terpencil bernama Loning. Wilayah ini berada di perbatasan dengan Desa Kalidadap, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Meski saat ini telah berkembang menjadi desa yang lebih terbuka, dahulu kawasan ini dikenal cukup terisolasi.

Nama Loning sendiri memiliki makna yang erat kaitannya dengan kondisi alam setempat pada masa lalu. Kata “Lo” merujuk pada banyaknya pohon lo yang tumbuh rindang di tepi sungai. Sementara kata “Ning” menggambarkan kondisi air sungai yang jernih dan bening.

Kondisi alam yang asri dengan pepohonan di sepanjang sungai tersebut kemudian melahirkan nama Loning sebagai identitas wilayah kala itu.

Perubahan nama menjadi Sadangwetan terjadi sekitar tahun 1944, ketika terjadi peristiwa kebakaran yang melanda kantor asistenan kecamatan yang sebelumnya berada di Desa Sadangkulon. Akibat kejadian tersebut, kantor asistenan kecamatan dipindahkan ke Desa Loning.

Sejak saat itu, nama desa kemudian diubah menjadi Sadangwetan oleh pemimpin wilayah pada masa itu sebagai bagian dari penataan administratif. Nama tersebut kemudian diabadikan oleh demang atau kuwu setempat sebagai nama resmi desa hingga sekarang.

Meski berganti nama, jejak sejarah kampung Loning tetap dikenang sebagai bagian penting dari asal-usul Desa Sadangwetan.

Saat ini Desa Sadangwetan terdiri dari empat dukuh, yakni Dukuh Krajan, Karangtengah, Legok, dan Tungku.

Pergantian Kepemimpinan Desa

Sejak awal abad ke-20, Desa Sadangwetan telah dipimpin oleh sejumlah tokoh yang membawa perubahan di setiap zamannya. Kepala desa pertama tercatat bernama Kuwu, yang memimpin dari tahun 1912 hingga 1924.

Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Ketadrana pada tahun 1924–1930, disusul Glondong Minuh yang menjabat pada 1930–1936. Setelah itu, tongkat kepemimpinan dipegang oleh Kramadikara pada periode 1936–1942.

Pada masa berikutnya, desa dipimpin oleh Dulah Afandi (1942–1967). Setelah sistem pemilihan kepala desa mulai diterapkan, Cipto Miharjo terpilih memimpin desa pada periode 1967–1988.

Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Sutardjo pada tahun 1989–1999, kemudian Sugeng Suwarsono pada periode 1999–2007 dan kembali menjabat hingga 2013.

Sejak tahun 2013 hingga sekarang, kepemimpinan desa berada di tangan Eko Hadi Saputro, yang kembali dipercaya masyarakat untuk memimpin hingga periode 2019–2025.

Catatan Peristiwa Penting

Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Sadangwetan juga pernah mengalami berbagai peristiwa penting yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat.

Pada tahun 1943, desa ini pernah mengalami masa sulit akibat kelaparan dan wabah penyakit. Selanjutnya pada 1947–1948, masyarakat juga merasakan dampak dari Agresi Militer Belanda II.

Peristiwa lain yang tercatat adalah pemberontakan AOI pada 1950–1951, serta situasi nasional yang memanas saat peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Selain itu, pada tahun 1970, desa ini juga pernah dilanda wabah penyakit demam yang menyerang masyarakat.

Meski menghadapi berbagai tantangan sepanjang sejarahnya, masyarakat Desa Sadangwetan terus bertahan dan berkembang hingga menjadi desa yang lebih maju seperti saat ini.

Sejarah panjang tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan sebuah desa tidak lepas dari perjuangan masyarakatnya dalam menghadapi perubahan zaman.

Sumber : https://sadangwetan.kec-sadang.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/151/307


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.