SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Klegenwonosari Klirong: Dari Babad Alas Kyai Bagus Dawud hingga Lahirnya Pasar Wedi

425
×

Jejak Sejarah Desa Klegenwonosari Klirong: Dari Babad Alas Kyai Bagus Dawud hingga Lahirnya Pasar Wedi

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Klegenwonosari di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang sarat nilai budaya, perjuangan, dan perkembangan peradaban masyarakat desa. Berdirinya desa ini tidak dapat dilepaskan dari kisah tokoh legendaris Kyai Bagus Dawud, yang dipercaya sebagai sosok pertama yang melakukan babad alas atau membuka wilayah yang kemudian berkembang menjadi Desa Klegenwonosari.

Makam Kyai Bagus Dawud hingga kini masih berada di Dukuh Wonosari Lor, sekitar 600 meter ke utara dari lokasi pasar lama. Keberadaan makam tersebut menjadi penanda sejarah sekaligus simbol awal terbentuknya komunitas masyarakat di wilayah tersebut.

Awal Mula Wilayah Desa

Sebelum resmi menjadi Desa Klegenwonosari, wilayah ini terdiri dari beberapa pedukuhan atau desa kecil, yaitu Karangturi, Plumbon, Jarak, Juru Tengah, dan Keputihan.

Di wilayah Keputihan, konon telah berdiri sebuah masjid yang menjadi pusat penyebaran agama Islam pada masa itu. Menurut cerita turun-temurun, masjid tersebut berada sekitar 150 meter di selatan Balai Desa saat ini.

Menariknya, legenda masyarakat menyebutkan bahwa masjid tersebut dibangun pada masa yang tidak jauh berbeda dengan pembangunan Masjid Agung Demak sekitar abad ke-15. Bahkan, salah satu saka guru masjid di Klegenwonosari konon berasal dari pucuk pohon jati dari Desa Jatimalang, sementara bagian pangkalnya digunakan sebagai salah satu tiang penyangga Masjid Agung Demak.

Pada masa kepemimpinan Ky. Soleman sekitar tahun 1857, masjid tersebut kemudian dipindahkan ke arah timur. Kini lokasinya berada di selatan Kantor KUA Klirong dan dikenal sebagai Masjid Jami Abul Faid.

Penyatuan Wilayah Menjadi Desa Klegenwonosari

Sebelum menjadi satu kesatuan desa, wilayah-wilayah tersebut dipimpin oleh para lurah masing-masing, di antaranya:

  • Karangturi dipimpin Lurah Ratta Secca
  • Plumbon dipimpin Lurah Marta Sentana
  • Jarak dipimpin Lurah Dul Hamid
  • Juru Tengah dipimpin Lurah Partareja
  • Keputihan dipimpin Lurah Karto Suhodo

Kelima wilayah tersebut kemudian digabung menjadi Klegen Kauman, lalu disatukan dengan Dukuh Wonosari menjadi Desa Klegenwonosari pada tahun 1923.

Penyatuan ini terjadi pada masa kepemimpinan Eyang Saimun (Mangunharjo) yang menjabat sebagai kepala desa pertama pada periode 1923–1946. Tahun tersebut kemudian ditetapkan sebagai tahun kelahiran Desa Klegenwonosari.

Pada masa yang sama, ketika kebijakan politik etis Belanda mulai berjalan, pemerintah kolonial juga mendirikan Sekolah Rakyat (SR) di desa tersebut, yang kemudian berkembang menjadi SD Negeri Klegenwonosari.

Tokoh dan Ulama yang Berperan

Sejarah desa juga diwarnai oleh berbagai tokoh dan ulama yang berpengaruh, di antaranya:

  • Kanjeng Pangeran Haryokusumo
  • R. Adipati Tumenggung Kabirodin
  • Kyai R. Nur Ngalim
  • Kyai Moeh Kasan (1800–1819)
  • Kyai Nuryabesari (1819–1828)
  • Kyai Hasan Mukibat (1828–1839)
  • Kyai Soleman (1839–1862)
  • Kyai Nurtama (1862–1902)
  • Kyai H. Dulatip (1902–1920)
  • H. Saleh (1920–1923)
  • Eyang Saimun (1923–1946)

Catatan Peristiwa Penting Desa

Seiring perjalanan waktu, Desa Klegenwonosari mengalami berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun tantangan bagi masyarakat.

Beberapa peristiwa penting antara lain:

  • 1857 – Berdirinya Masjid Abul Faid
  • 1923 – Berdirinya Desa Klegenwonosari dan Sekolah Rakyat
  • 1942 – Masa penjajahan Jepang, warga banyak terserang penyakit Hongerudin atau beri-beri
  • 1964–1965 – Dampak situasi politik nasional terkait peristiwa G30S
  • 1976 – Dibangunnya SD Negeri Inpres
  • 1977 – Berdirinya Balai Desa Klegenwonosari
  • 1992 – Pembangunan Balai Desa baru
  • 2004 – Berdirinya PAUD Desa Klegenwonosari
  • 2008 – Program PNPM-MD masuk ke desa
  • 2009 – Rehabilitasi gedung TK dan PAUD

Sejarah Pasar Wedi

Sejarah ekonomi desa juga tak lepas dari keberadaan Pasar Wedi yang menjadi pusat aktivitas perdagangan masyarakat.

Pada masa awal, pasar berada di perempatan perbatasan Desa Klegenwonosari dan Bendogarap, dikenal dengan nama Pasar Therok. Seiring perkembangan penduduk, sekitar tahun 1923 pasar terpecah menjadi dua, yaitu:

  • Pasar Dagarap (yang kemudian dikenal sebagai Pasar Rendeng)
  • Pasar Wonosari yang lebih populer dengan sebutan Pasar Wedi, karena lokasinya berada di atas tanah berpasir.

Sekitar tahun 1945, pasar dipindahkan ke wilayah Keputihan yang kemudian dikenal sebagai Pasar Lama.

Namun pada tahun 2014, karena keterbatasan lahan dan sebagian masih merupakan tanah milik pribadi, pasar kembali dipindahkan ke lokasi baru di bekas lapangan sepak bola Desa Klegenwonosari. Perpindahan ini membuat seluruh area pasar berada di atas tanah desa dan tetap mempertahankan nama Pasar Wedi.

Kini Pasar Wedi menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa sekaligus saksi perjalanan panjang sejarah Klegenwonosari.

Urutan Kepala Desa Klegenwonosari

Berikut daftar kepala desa yang pernah memimpin Klegenwonosari:

  • 1923–1946: Saimun (Mangunharjo)
  • 1946–1973: Madjidin
  • 1973–1989: Djasirun Wonodiharjo
  • 1990–1999: Sumedi
  • 1999–2007: Sumarno
  • 2007–2013: dr. Puji Santoso
  • 2013–2019: Giyono
  • 2019–sekarang: dr. Puji Santoso

Sumber:Website Resmi Desa Klegenwonosari


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.