SEJARAH

Jejak Sejarah dan Tradisi Luhur Desa Sumberjati Ambal, Dari Penggabungan Desa hingga Warisan Budaya yang Terjaga

399
×

Jejak Sejarah dan Tradisi Luhur Desa Sumberjati Ambal, Dari Penggabungan Desa hingga Warisan Budaya yang Terjaga

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sumberjati di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang sekaligus kekayaan adat istiadat yang masih lestari hingga kini. Terletak di wilayah paling ujung selatan dan timur Kecamatan Ambal, desa ini memiliki latar belakang unik yang berawal dari penggabungan dua desa pada awal abad ke-20.

Secara historis, sebelum tahun 1921 wilayah Sumberjati terdiri dari dua desa terpisah. Bagian timur dikenal sebagai Desa Juru Tengah yang dipimpin oleh Kepala Desa Tirto Wijoyo. Sementara di sebelah barat terdapat Desa Tanggulangin yang pernah dipimpin oleh beberapa tokoh, yakni Piti, Nuradi, dan Nurkasihan.

Pada tahun 1921, kedua desa tersebut resmi dilebur menjadi satu dengan nama Desa Sumberjati. Nama ini memiliki makna filosofis yang diambil dari dua punden desa, yakni Mbah Datuk Sumur (Datuk Sumber) dan Amung Sari. Awalnya, nama yang direncanakan adalah “Sumbersari”, namun karena kesalahan penulisan oleh carik kabupaten kala itu, nama tersebut berubah menjadi “Sumberjati” dan kemudian ditetapkan oleh Bupati Arumbinang.

Perjalanan administrasi desa juga mengalami perubahan. Pada tahun 1933, Desa Sumberjati resmi masuk dalam wilayah Kecamatan Ambal bersama Desa Blengorwetan dan Blengorkulon.

Dalam perjalanan kepemimpinannya, Desa Sumberjati telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, mulai dari Nurkasihan (1921–1933) hingga saat ini dipimpin oleh Nurhamim sejak tahun 2019.

Tak hanya kaya sejarah, Desa Sumberjati juga dikenal dengan adat istiadatnya yang masih dijaga oleh masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan adalah “Memetri Bumi”, yakni kegiatan tahunan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi. Tradisi ini biasanya digelar pada bulan Muharram (Suro) dengan menyembelih kambing dan sapi, lalu dagingnya dibagikan kepada warga.

Selain itu, terdapat tradisi “Sadranan” yang dilakukan pada bulan Sya’ban atau Ruwah. Kegiatan ini berupa ziarah dan bersih-bersih makam leluhur, disertai penyembelihan kambing di setiap kadus sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

Berbagai tradisi lainnya juga masih dilestarikan, seperti Ngayu (persiapan kayu bakar untuk hajatan), Kebe atau tujuh bulanan, Kupat (empat bulanan kehamilan), Kenduren, Midodareni, Tedak Siti, hingga tradisi unik Nempur yang dilakukan menjelang pernikahan anak pertama atau terakhir.

Kekayaan sejarah dan adat istiadat ini menjadi identitas kuat masyarakat Desa Sumberjati dalam menjaga nilai-nilai budaya sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

Sumber: https://sumberjati.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/116


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.