SEJARAH

Asal usul Nama Desa Padureso Kebumen: Ternyata dari Kata ‘’Padu dan Rasa’’

408
×

Asal usul Nama Desa Padureso Kebumen: Ternyata dari Kata ‘’Padu dan Rasa’’

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki cerita masa lalu yang membentuk identitas masyarakatnya. Begitu pula dengan Desa Padureso, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen. Desa ini menyimpan legenda panjang tentang permusuhan dua kelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi simbol persatuan.

Kisah ini bermula pada abad ke-18. Pada masa itu, wilayah yang kini menjadi Desa Padureso dihuni oleh dua kelompok masyarakat yang tinggal di bagian barat dan timur. Kedua kelompok tersebut dikenal selalu berselisih paham dan tidak pernah akur, baik dalam menjalankan tradisi adat maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Permusuhan yang berlangsung lama membuat para pemimpin kedua kelompok mengambil keputusan tegas. Mereka melarang para pemuda dari masing-masing kelompok untuk menikahi gadis dari kelompok yang berseberangan. Larangan itu bahkan disertai kutukan: siapa pun yang melanggar diyakini tidak akan hidup tenteram dan sejahtera dalam rumah tangganya.

Konflik pun terus berlanjut hingga suatu hari terjadi pertikaian besar antara kedua kelompok tersebut. Saat kedua pemimpin tengah bertarung menunjukkan kekuatan fisik, datanglah seorang pengembara dari kerabat Keraton Mataram bernama R. Tjitro Menggolo.

Melihat pertarungan tersebut, R. Tjitro Menggolo segera turun tangan. Ia berusaha mencari tahu akar persoalan yang menyebabkan permusuhan berkepanjangan itu. Dengan pendekatan bijaksana dan penuh kearifan, ia memberikan pemahaman kepada kedua belah pihak tentang pentingnya persatuan dan hidup rukun.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kedua pemimpin kelompok bersedia berdamai dan sepakat menghentikan permusuhan yang selama ini terjadi.

Sebagai bentuk penghormatan atas peran besarnya, masyarakat dari kedua kelompok meminta R. Tjitro Menggolo untuk menjadi pemimpin mereka. Setelah menerima amanah tersebut, wilayah itu kemudian diberi nama Desa Padurasa.

Nama Padurasa berasal dari kata “Padu” yang berarti permusuhan dan “Rasa” yang menggambarkan pengalaman atau perasaan. Nama itu menjadi simbol lahirnya persatuan dari konflik yang pernah terjadi.

Dalam perkembangan wilayahnya, daerah bagian timur kemudian dikenal sebagai Dukuh Kemulan, karena lokasinya yang dikelilingi pegunungan atau “dikemuli gunung”. Sementara wilayah barat dinamakan Dukuh Krajan, tempat tinggal R. Tjitro Menggolo sebagai lurah atau kepala desa.

Namun, perjalanan menuju persatuan tidak selalu berjalan mulus. Setelah beberapa tahun, gesekan kecil masih sering terjadi antara masyarakat Dukuh Kemulan dan Dukuh Krajan.

Melihat kondisi tersebut, R. Tjitro Menggolo kembali mengundang para tokoh masyarakat untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk mengganti nama desa agar menjadi pengingat bagi generasi selanjutnya.

Akhirnya, nama Desa Padurasa diubah menjadi Desa Padureso.

Nama Padureso memiliki makna mendalam. Kata “Padu” berarti permusuhan, sedangkan “Reso” berasal dari kata ngrekso yang berarti menjaga. Maknanya, masyarakat diharapkan selalu menjaga kerukunan dan tidak mengulangi permusuhan di masa mendatang.

Sejak perubahan nama tersebut, masyarakat Dukuh Kemulan dan Dukuh Krajan hidup rukun dan damai. Permusuhan yang dulu sempat memecah belah kini hanya tinggal cerita legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat pentingnya persatuan.

Legenda ini menjadi bagian dari sejarah lokal yang memperkaya identitas Desa Padureso, sekaligus mengajarkan bahwa konflik dapat diselesaikan melalui kebijaksanaan, musyawarah, dan semangat persaudaraan.

Sumber: Website Desa Padureso Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.