KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Candiwulan di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Tidak hanya berkaitan dengan perkembangan desa, tetapi juga erat dengan jejak dakwah Islam di wilayah Kebumen sejak abad ke-15.
Berdasarkan literatur kuno yang tersimpan di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, Sumberadi, Kebumen, sejarah awal wilayah ini tidak lepas dari kedatangan seorang ulama besar dari Jazirah Arab, yakni Syech Al Kahfi.
Sekitar tahun 851 Hijriah atau 1447 Masehi, Syech Al Kahfi disebut mendarat di kawasan Pantai Karangbolong. Dari sana, beliau menelusuri aliran sungai hingga tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Candi, Kecamatan Karanganyar.
Di tempat tersebut, Syech Al Kahfi berdakwah dan mengajak seorang tokoh setempat bernama Resi Dara Pundi untuk memeluk agama Islam. Setelah itu, perjalanan dakwahnya berlanjut ke arah timur hingga tiba di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Desa Candiwulan.
Di daerah ini, Syech Al Kahfi berhadapan dengan tokoh setempat bernama Resi Candra Tirto. Sementara itu, saudara Resi Candra Tirto yakni Resi Danu Tirto berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Candimulyo.
Melalui proses dakwah yang panjang, kedua wilayah tersebut akhirnya memeluk agama Islam sekitar 852 Hijriah atau 1448 Masehi. Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih diyakini masyarakat dengan adanya petilasan berupa batu di kedua desa tersebut.
Gabungan Tiga Desa
Dalam perkembangannya, Desa Candiwulan terbentuk dari penggabungan tiga desa lama, yakni Desa Karang, Desa Kemancan, dan Desa Karangcangkring. Proses penggabungan atau dalam istilah Jawa disebut blengketan ini terjadi pada masa penjajahan Belanda.
Penggabungan tersebut kemudian membentuk satu wilayah administratif yang kini dikenal sebagai Desa Candiwulan.
Tradisi Pemilihan Kepala Desa yang Unik
Salah satu bagian sejarah menarik Desa Candiwulan adalah sistem pemilihan kepala desa pada masa lampau. Sebelum tahun 1924, pemilihan kepala desa dilakukan dengan metode unik yang dikenal dengan istilah “dhodhokan”.
Dalam sistem ini, masyarakat yang datang untuk memberikan dukungan kepada calon kepala desa diwajibkan jongkok (dhodhok) di halaman rumah calon tersebut. Semakin banyak tamu yang datang dan ikut jongkok, maka semakin besar peluang calon tersebut untuk terpilih.
Jumlah tamu yang hadir kemudian dihitung sebagai bentuk dukungan masyarakat. Calon yang memiliki jumlah pendukung terbanyak akan ditetapkan sebagai kepala desa.
Melalui sistem tersebut, H. Isa Abdul Karim tercatat sebagai kepala desa pertama Candiwulan dengan masa jabatan hingga tahun 1924.
Periodisasi Kepala Desa Candiwulan
Seiring perjalanan waktu, kepemimpinan desa terus berganti dari generasi ke generasi. Berikut daftar kepala desa yang pernah memimpin Candiwulan:
- H. Isa Abdul Karim (… – 1924)
- H. Pekih (1924 – 1929)
- Madmurja (1929 – 1946)
- Sudarso (1946 – 1986)
- HM. Danuri Nur (1986 – 1994)
- Mahfudin Iskandar (1994 – 2002)
- Agus Muhyidin (2002 – 2007)
- Agus Muhyidin (2007 – 2013)
- Sofyan Dwi Purwanto (2013 – 2017)
- Ahmad Zahrudin Syauqi (2019 – sekarang)
Kondisi Wilayah dan Kependudukan
Saat ini Desa Candiwulan terbagi menjadi tiga dusun, yaitu Dusun Karang, Dusun Kemancan, dan Dusun Krajan. Nama-nama tersebut merupakan jejak dari desa-desa lama yang pernah bergabung.
Hingga 8 Februari 2023, Desa Candiwulan memiliki 3 RW dan 10 RT dengan jumlah penduduk mencapai 2.711 jiwa. Rinciannya terdiri dari 1.385 laki-laki dan 1.326 perempuan, dengan total 819 kepala keluarga (KK).
Secara geografis, Desa Candiwulan berada di bagian timur Kecamatan Kebumen dengan luas wilayah sekitar 94 hektare dan berada pada ketinggian sekitar 21 meter di atas permukaan laut.
Adapun batas wilayahnya meliputi:
- Barat: Desa Kembaran
- Utara: Desa Kalijirek
- Timur: Desa Candimulyo
- Selatan: Desa Candimulyo dan Desa Sumberadi
Komposisi lahan desa didominasi oleh lahan persawahan sekitar 68 persen, sedangkan 32 persen merupakan tanah kering. Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari sektor pertanian, meskipun sebagian juga bekerja di sektor industri.
Dengan potensi sumber daya yang dimiliki, Desa Candiwulan kini terus berkembang dan berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat agar mampu bersaing dengan desa-desa lain di wilayah Kecamatan Kebumen.
Sejarah panjang ini menjadi bukti bahwa Desa Candiwulan tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menyimpan warisan budaya dan perjalanan dakwah Islam yang penting bagi masyarakat Kebumen.
Sumber: Website resmi Desa Candiwulan & keterangan Sahri Nurwahab (mantan Sekretaris Desa Candiwulan).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















