KEBUMEN, Kebumen24.com – Pengusaha peternakan puyuh asal Kabupaten Kebumen, Juniadi Prasetiyo, mendorong agar telur puyuh dapat dimasukkan sebagai menu rutin dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program nasional tersebut memiliki potensi besar untuk menyerap hasil produksi peternak lokal sekaligus meningkatkan asupan gizi masyarakat.
Juniadi menilai, hingga kini penyerapan telur puyuh di Kebumen masih belum optimal. Salah satu penyebabnya karena belum semua dapur MBG menjadikan telur puyuh sebagai menu harian yang terjadwal.
“Di Kebumen sebenarnya peluangnya besar, tetapi penyerapan masih terbatas. Salah satunya karena belum semua dapur MBG memasukkan telur puyuh sebagai menu rutin. Padahal, jika dijadwalkan merata, ini bisa sangat membantu peternak lokal,” ujar Juniadi kepada media, di sela-sela kesibukannya, Kamis (18/12/2025).
Menurutnya, telur puyuh memiliki kandungan gizi tinggi, mudah diolah, serta relatif terjangkau. Karena itu, telur puyuh sangat layak menjadi salah satu sumber protein hewani dalam program MBG yang menyasar anak-anak dan kelompok rentan gizi.
Selain berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, kebijakan tersebut juga diyakini mampu menggerakkan roda perekonomian daerah. Dengan adanya kepastian pasar melalui dapur MBG, peternak puyuh lokal akan lebih bersemangat meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga keberlanjutan usaha.
“Saya berharap pemerintah pusat dan daerah bisa mendorong agar telur puyuh masuk dalam agenda menu rutin di seluruh dapur MBG, sebagaimana yang pernah disampaikan Presiden. Ini akan menjadi solusi gizi sekaligus solusi ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen, Juniadi Prasetiyo membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang untuk berwirausaha. Dengan manajemen yang matang dan ketekunan tinggi, ia sukses mengembangkan usaha peternakan telur puyuh yang kini berproduksi hingga 1,5 kuintal per hari.
Usaha peternakan tersebut berlokasi di Desa Kambangsari, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Dirintis hampir satu tahun terakhir, peternakan ini terus menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah ternak maupun kapasitas produksi.
“Saat ini di kandang ada sekitar 15 ribu ekor puyuh petelur. Awalnya saya mulai dari 5 ribu ekor, lalu berkembang menjadi 10 ribu, dan sekarang 15 ribu ekor. Ke depan, saya berencana membuka kandang baru di lokasi lain dengan tambahan 15 ribu ekor lagi,” jelasnya.
Ketertarikan Juniadi pada dunia peternakan bermula dari hobi. Sebelumnya, ia juga berpengalaman mengelola peternakan ayam broiler dengan kapasitas hingga 40 ribu ekor. Melihat tingginya permintaan telur puyuh, terutama dari luar daerah, ia pun mantap mengembangkan usaha tersebut.
“Permintaan telur puyuh cukup tinggi, terutama dari luar daerah. Dari situ saya mulai mencoba, dan ternyata prospeknya sangat menjanjikan,” ungkapnya.
Dari total 15 ribu ekor puyuh petelur, produksi telur mencapai 1 hingga 1,5 kuintal per hari atau sekitar 150 kilogram. Dengan harga pasaran mencapai Rp30 ribu per kilogram untuk pengambilan langsung di kandang, omzet kotor per bulan mampu menembus lebih dari Rp100 juta.
“Setelah dikurangi biaya pakan, operasional, dan gaji dua karyawan tetap, keuntungan bersihnya sekitar Rp30 juta per bulan,” terangnya.
Untuk kebutuhan pakan, setiap pekan peternakan tersebut menghabiskan sekitar 46 sak pakan, masing-masing seberat 50 kilogram. Hasil produksi sebagian besar dipasarkan melalui pengepul ke luar daerah, khususnya Jawa Barat, sementara potensi pasar lokal Kebumen dinilai masih sangat terbuka.
Meski berstatus ASN, Juniadi mengaku tetap mampu membagi waktu antara tugas kedinasan dan usaha. Ia menerapkan sistem manajemen dengan menunjuk orang-orang kepercayaan untuk mengelola operasional harian.
“Saya pantau lewat telepon dan video call. Saat hari libur, saya manfaatkan untuk turun langsung ke kandang dan mengevaluasi perkembangan usaha,” ujarnya.
Baginya, berwirausaha bukan sekadar menambah penghasilan, tetapi juga sebagai sarana menyalurkan hobi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Walaupun ASN, saya ingin terus belajar dan mencoba peluang usaha. Ini untuk masa depan dan meningkatkan taraf hidup keluarga,” pungkasnya.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















