KEBUMEN, Kebumen24.com – Tragedi runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khozani, Sidoarjo, Jawa Timur, masih menyisakan duka mendalam. Musibah yang menelan korban jiwa tersebut bukan sekadar kisah kelalaian konstruksi, tetapi juga alarm keras bagi dunia teknik dan keinsinyuran di Indonesia.
Editorial WELL Architect Insight dalam edisi reflektifnya menegaskan, peristiwa ini harus menjadi momentum introspeksi kolektif: di mana posisi para insinyur ketika masyarakat kecil berjuang membangun sarana pendidikan dan ibadah dengan segala keterbatasan, namun tanpa pendampingan keahlian yang memadai?
“Teknologi tanpa nurani hanyalah beton tanpa fondasi,” tulis editorial, Senin 6 Oktober 2025.
Pesan ini menyoroti bahwa bangunan bukan sekadar wujud fisik, tetapi juga amanah sosial yang menyangkut keselamatan jiwa manusia.
Banyak lembaga pendidikan rakyat, pesantren, hingga sekolah swadaya, lahir dari gotong royong dan semangat kebersamaan. Tukang bekerja dengan naluri, mandor berbekal pengalaman, sementara santri ikut menyumbang tenaga. Meski berdiri dengan cepat dan murah, kenyataannya banyak bangunan yang rapuh dan rentan bahaya.
“Rancanglah ruang dengan pengetahuan, bukan hanya dengan harapan,” tulis WELL Architect.
Tragedi Al Khozani membuktikan bahwa masalah bukan pada niat baik masyarakat, melainkan absennya ilmu teknik di ruang sosial. Profesi insinyur seringkali hanya hadir di proyek besar: gedung pencakar langit, jembatan megah, atau kawasan industri. Padahal, di ruang-ruang sederhana seperti pesantren dan sekolah rakyat, peran keilmuan teknik justru sangat menentukan keselamatan.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)
Hadis ini, menurut WELL Architect, seharusnya menjadi pijakan dasar profesi teknik. Setiap bangunan, sekecil apa pun, selalu berhubungan dengan nyawa manusia. Seorang insinyur bukan hanya bekerja dengan angka dan alat ukur, tetapi juga dengan kesadaran bahwa setiap tiang, pondasi, dan atap yang dirancang adalah penjaga kehidupan.
Ilmu teknik pada hakikatnya bukan sekadar alat produksi, melainkan amanah sosial yang membawa konsekuensi moral dan spiritual.
Runtuhnya bangunan tidak hanya merobohkan dinding dan atap, tetapi juga mengguncang kepercayaan publik terhadap sains, profesionalisme, dan nurani keinsinyuran. Ironisnya, sering muncul komentar dingin: “Itu bukan proyek saya.”
Padahal, tanggung jawab insinyur sejati tidak berhenti pada kontrak kerja. Lebih dari itu, ia mencakup kepedulian terhadap keselamatan masyarakat luas. Profesi ini seharusnya bukan sekadar urusan spesifikasi dan laporan teknis, tetapi juga cermin tanggung jawab kemanusiaan.
Seperti halnya hukum memiliki Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bagi masyarakat kecil, dunia teknik pun dinilai perlu memiliki Lembaga Bantuan Teknik (LBT).
“Sudah saatnya dunia teknik membangun wadah sosialnya sendiri. Insinyur, arsitek, hingga mahasiswa teknik bisa bersatu membantu masyarakat membangun dengan aman dan bermartabat,” tulis WELL Architect.
LBT bukan hadir untuk mencari proyek, melainkan menjalankan misi pengabdian. Dari konsultasi sederhana, peninjauan desain, hingga memastikan pondasi kokoh dengan perhitungan tepat. Jika setiap kabupaten memiliki tim kecil ini, bukan hanya tragedi bisa dicegah, tetapi juga kepercayaan publik terhadap profesi insinyur dapat dipulihkan.
Keinsinyuran sejati sejatinya tidak berhenti pada proyek raksasa. Kebermanfaatan sosial adalah inti dari profesi ini. Insinyur seharusnya turun dari menara gading menuju tanah tempat masyarakat berpijak. Sebab, dalam setiap perencanaan ruang selalu ada nilai kemanusiaan yang wajib dijaga.
“Teknik adalah ibadah ketika digunakan untuk melindungi kehidupan,” tegas WELL Architect.
Tragedi Al Khozani harus menjadi cermin dan momentum refleksi. Ilmu teknik perlu hadir di pesantren, sekolah rakyat, hingga desa-desa yang selama ini membangun hanya berbekal semangat. Agar tak ada lagi bangunan yang roboh karena ketiadaan ahli, dan tak ada lagi nyawa yang melayang karena ilmu enggan membumi.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















