SEJARAH

Sejarah Desa Krandegan Puring, Dulu Bagian Wilayah Kadipaten Kaleng

4510
×

Sejarah Desa Krandegan Puring, Dulu Bagian Wilayah Kadipaten Kaleng

Sebarkan artikel ini
Foto : KANTOR DESA KRANDEGAN PURING (Dok: Desa Krandegan)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Krandegan adalah desa di kecamatan Puring, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Konon dulu merupakan bagian dari wilayah Kadipaten Kaleng.

Dikutip dari Website resmi Desa krandegan menerangkan, pada masa Kadipaten Kaleng belum difungsikan dengan Kadipaten Pucang, Kaleng dipimpin oleh Adipati Banyak Kumara/Banyak Gumarang keturunan dari Prabu Banyak Sasra, Adipati Pasir (Purwokerto) yang juga bernama Raden Kamandaka/Lutung Kasarung keturunan dari Raja Pajajaran.

Setelah difungsikan dengan Kadipaten Pucang disebelah utara menjadi Kadipaten Roma dengan pusat pemerintahannya di di Sidayu (Utara Gombong). Setelah itu oleh Sultan Pajang pada tahun 1543 M, Kaleng dijadikan setingkat kawedanan, sedangkan putra dari Bupati Kaleng diberi jabatan Ngabei (setingkat Wedana) di Kaleng dengan gelar Kyai Ngabei Wirokerti (makam dikompleks halaman MTsN 6 Kaleng).

Desa Krandegan bagian ibu kota kadipaten Kaleng, ini bisa dipahami karena letak desa Krandegan persis berbatasan langsung dengan desa Kaleng, yang dimungkinkan pusat dari Kadipaten Kaleng.

Konon menurut cerita sejarah, nama desa krandegan berasal dari nama seorang pangeran keraton Mataram (Yogyakarta) bernama Pangeran Krandegan. Pengeran Krandegan merupakan putra dari pangeran senopati adalah pejuang yang begitu gigih berani melawan penjajah belanda.

Belanda yang selalu campur tangan urusan kerajaan serta memecah belah keluarga kerajaan membuat banyak anggota keluarga kerajaan merasa tidak nyaman dan memilih untuk pergi dari kerajaan mataram untuk menenangkan diri dan belajar ilmu islam.

Salah satunya adalah Pangeran Krandegan yang pergi kearah barat menuju arah pesisir urut sewu. Pangeran Krandegan kemudian menetap disuatu tempat yang kemudian bernama Desa Krandegan.

Pangeran Krandegan memiliki anak yang kemudian menjadi seorang ulama terkenal dan berperan penting dalam penyebaran agama islam ditanah jawa yakni Syeh Rosyid. Petilasan dan makam dari Syech Rosyid saat ini bisa dilihat di komplek pemakaman di Dukuh Karangsari – Kauman.

Sementara dalam cerita lain, nama Krandegan berasal dari kata ndeg-ndegan (jawa) dalam bahasa Indonesia ndeg-ndegan berarti tempat pemberhentian. Dulu Krandegan merupakan tempat persinggahan dan tempat berhentinya para pengembara atau pelancong yang kemudian menetap menjadi penduduk setempat.

Krandegan terbagi atas 7 dukuh yaitu Dukuh Kebonagung, Kemenying, Kauman, Karangsari, Pekuncen, Kaligending dan Aglik. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, pedagang dan pegawai pemerintah.

Sebagian besar lainya penduduk usia produktif bekerja merantau ke kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta serta Kalimantan. Namun ada pula yang merantau ke luar negeri seperti Malaysia, Hongkong dan Arab Saudi.

Makam Auliya di Desa Krandegan

Di desa ini juga banyak ditemukan makam2 ulama masa lalu yang banyak diziarahi oleh wargą sekitar. Dikomplek miałam tua di selatan desa di wilayah dusun kauman dan karangsari, ada makam Syekh Kyai Abdullah Rosyid yang merupakan kakek dari syekh Syihabuddin Dongkelan Bantul Yogyakarta.

Ia merupakan seorang penghulu agama pada masa Sułtan Hamengku Buwono I. Salah satu keturunan dari Syekh Rosyid Krandegan adalah Kyai Muhammad Syafi’i seorang pembantu dari Pangeran Diponegoro pada saat bergerilya diwilayah panjer pada masa Perang Jawa.

Kyai Muhammad Syafi’i ini berkaitan dengan adanya keturunan dari bupati kaleng adipati Banyak Kumara/Gumarang dan Kyai Syekh Rosyid serta Kyai Mukhamad Isa Krandegan.

Salah satu keturunan Kyai Wagerglagah (nama adipati banyak gumarang setelah masuk Islam) adalah Kyai Muhammad Safi’i. Ia adalah putra dari Kyai Muhammad Jafar (makam di Brangkal) bin Kyai Nuryadin/Nur Muhammad (makam di Jungkemureb Alang – alang Amba Karanganyar) bin Kyai Jubari (makam di Kedungbulus, utara Gombong) bin Kyai Wirokerti Ngabehi Kaleng (makam di Kaleng) bin Kyai Wagerglagah.

Kyai Muhammad Syafi’i diambil menantu oleh Kyai Muhammad Ngisa Krandegan (Puring) (?). Ia kemudian menuntut ilmu di Dongkelan Yogyakarta mengikuti Kyai Syahabudin (kakeknya; ayah dari Ibunya).

Pada suatu ketika, Sultan Hamengku Buwana II (Sinuwun Banguntapa) memerintahkan Kyai Syahabudin untuk menulis Quran. Berhubung ia sudah tua, pekerjaan itu ia serahkan kepada Kyai Muhammad Syafi’i cucunya. Alhasil Sultan Hamengku Buwana II puas sekali dengan karyanya tersebut.

Kyai Muhammad Syafi’i pun dipanggil menghadap dan ditanya berbagai macam hal. Selanjutnya, atas kepercayaan Sultan Hamengku Buwana II, Kyai Muhammad Syafi’i dinikahkan dengan salah satu cucu Sultan yang bernama BRA Maryam, (putri Sultan Hamengku Buwana III/ Sinuwun Raja), adik Pangeran Diponegoro. Dengan kata lain, Kyai Muhammad Syafi’i menjadi adik ipar Pangeran Diponegoro.

Kyai Muhammad Syafi’i yang meminta izin untuk kembali tinggal di kabupaten Roma diberi tanah lungguh (bengkok) di desa Brangkal dan diberi jabatan Mufti oleh Sultan Hemengku Buwana II. Ia juga diberi wewenang menikahkan orang dari desa Brangkal, Setanakunci, Kedunglo, Pucang, Prapag, Klapagada, Pekuncen, Kedungbulus, Kedungwringin, Pejaten dan Pohkumbang.

Kyai Muhammad Safi’i mengajarkan agama Islam di Brangkal dan mendirikan Masjid pada 1813. Brangkal masuk dalam wilayah Kabupaten Roma yang pada saat itu telah beribukota di Jatinegara utara Gombong.

Selain makam para aulia yang telah disebutkan di bagian tengah desa juga Ada makam Syekh Panggang di maqom Panggang dan Syekh Kunci di maqom kunci.

Pondok Pesantren di Desa Krandegan

Tahun 2021, berdiri Pondok Pesantren Al Qarawiyin yang diasuh Gus Rahmat BS, di dukuh Kauman, desa Krandegan. Pondok Pesantren ini berdiri berdasarkan program Lakpesdam PCNU Kab. Kebumen. Menurut kajian Lakpesdam PCNU Kebumen, di lokasi yang saat ini didirikan Pesantren Al-Qarawiyin, pada tahun 19 awal telah berdiri pesantren Darussalam yang kemudian punah.

Sejumlah alumni Pesantren Darussalam juga sebagian menjadi penduduk desa Krandegan serta ada yang saat ini masih hidup. Pendiri pesantren Darussalam merupakan buyut dari Gus Rahmat BS.

Desa Krandegan berbatasan dengan beberapa deka disekitarnya, yakni:

  • Sebelah Utara : Ds. Tambaharjo
  • Sebelah Timur: Ds. Arjowinangun dan Ds. Purwosari
  • Sebelah Selatan: Ds. Puliharjo
  • Sebelah Barat: Ds. Kaleng

Pejabat/Kepala Desa Krandegan

Kepala Desa :

  1. Kastubo,
  2. Moh Supyan,
  3. Mahrus Umar,
  4. Sairin Hadi Suroyo
  5. Zaenul Anwari
  6. Muhrojin Ragil Saputra (sekarang)

Sekdes :

  1. Karto Sujono Sumyar,
  2. Wongso Miharjo Basikun

Ulama :

  1. Syeh Rosyid,
  2. Mohamad Nur,
  3. Masduki,
  4. Saringun Abdul Aziz,
  5. Sururi,
  6. Asrori,
  7. Ahmad Naizur,
  8. Kusnan,
  9. Abdurohim,
  10. Moh Sopyan,
  11. Sunhaji,
  12. Muhsis,
  13. Yusuf Mustofa,
  14. Muhtarudin Muti,
  15. Muh Siswanto,
  16. Moh Sofan,
  17. Nur Kholis Somadi,
  18. Nur Kholik,
  19. Samsul Hadi

Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.