KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah Berdirinya Desa Karangsari Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen, tidak lepas dari Legenda atau Cerita Rakyat dari beberapa Dukuh. Diantaranya Dukuh Karangasem, Kewangen, KLepubener, Ampel dan Kesambi.
Dikutip dari Situs Laman Resmi Desa Karangsari menyebutkan secara ringkas legenda masing-masing dusun di Desa Karangsari Kecamatan Kebumen.
Legenda Dukuh Karangasem
Konon menurut sejarah, trukah babat alas pertama kali di Dukuh Karangasem bernama Ki Supodriyo, seorang prajurit Mataram yang membantu Pangeran Trunojoyo dalam perlawanan melawan Kompeni Belanda.
Ki Supodriyo mempunyai anak laki-laki bernama Ki Jayadipa, Ki Jayadipa mempunyai anak bernama Ki Karyadipa dan Ki Karyadipa mempunyai anak bernama Ki Dipareja. Secara turun menurun merupakan cikal bakal yang mengelola babad Karangasem.
Di tengah gerumbul yang masih berupa hutan lebat terdapat “Beji” yang airnya tidak pernah kering walaupun musim kemarau panjang. Air ini kerap disebut sebagai sumber kehidupan warga setempat.
Beji tersebut sekarang tinggal petilasan, dan beji saat sekarang diabadikan sebagai nama sebuah Jalan Desa yang pada tahun 2018-2019 dibangun merupakan jalan tembus yang menghubungkan antara Dusun Karangasem dan Dusun Ampel.
Jaman dahulu kala di gerumbul tersebut terdapat pohon asem yang berukuran besar dan rimbun, letaknya di Jalan Cemara sebelah utara MI Ma’arif dan Kantor Desa Karangsari sekarang.
Pohon asem yang besar yang konon terkenal “angker” tersebut diabadikan sebagai nama pedukuhan/dusun yaitu Karang Asem.
Legenda Dukuh/Dusun Kewangen Alkisah
Menurut cerita dari mulut ke mulut para sesepuh, konon di gerumbul tersebut masih berupa hutan belantara. Kemudian singgah seorang musafir yang berasal dari Turki.
Bukti adanya musafir tersebut adanya petilasan yang diyakini sebagai makam/cungkub Mbah Turki. Oleh pihak cungkub tersebut pada hari-hari tertentu (khususnya Selasa dan Jumat Kliwon) dijadikan tempat ritual, berdoa kepada Tuhan YME.
Salah satu perlengkapan ritual yang digunakan para peziarah adalah minyak wangi, disamping bunga dan dupa/kemenyan. Bau wangi/harum yang menyengat dari minyak wangi yang digunakan untuk ritual, semerbak di sekitar cungkub.
Karena bau wangi yang sangat menyengat tersebut (“Kewangen”) istilah Jawa lokal, sehingga nama gerumbul tersebut diberi nama Dukuh/Dusun Kewangen sampai sekarang.
Legenda Dukuh/Dusun Klepubener
Menurut cerita, suatu ketika sesepuh Dukuh Karangasem Nyi Kebayan mengajak seorang bernama Rebawa. Ia merupakan seorang emuda berbadan besar, kekar, gagah dan tampan berjalan-jalan menyusuri hutan di gerumbul paling kidul/selatan.
Ditengah-tengah hutan Nyi Kebayan melihat sebatang pohon yang besar, yang belum tau namanya. Kemudian Nyi Kebayan bertanya kepada pemuda Rebawa, ini pohon apa kisanak? dijawab oleh Rebawa, pohon Klepu Nyi.
Singkat cerita akhirnya pemuda Rebawa ditunjuk Nyi kebayan sebagai Penguasa Blok Si Klepu, dan bergelar Ki Singa Rebawa.
Pada perkembangannya Blok Si Klepu berubah menjadi dukuh/dusun dan diberi nama Klepu Bener.
Legenda Dukuh/Dusun Ampel
Asal usul nama Dukuh/Dusun Ampel, menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat sebagai berikut. Pada kala itu ada seorang pemuka masyarakat yang berkemauan keras untuk memajukan desa.
Kemudian dia bersemedi dan dalam semedinya menemukan keajaiban. Sebatang pohon aur kuning (ampel) tiba-tiba muncul dihadapannya.
Sejak itulah dukuh ini bernama Pedukuhan Ampel. Letak persemediannya kurang lebih 300 m kearah barat dari Soka Wera perbatasan Desa Jemur saat ini, sekarang dikenal dengan Makam Ampel Jembluk.
Nama yang cukup keren “Ampel Jembluk”, kemungkinan kata Ampel Jembluk dipisahkan menjadi kata Ampel dan Jembluk. Ampel menjadi nama Pedukuhan dan kata Jembluk menjadi nama Makam hingga sekarang.
Legenda Dukuh/Dusun Kesambi
Menurut cerita bahwa sebelum Kesambi berdiri sebagai sebuah Dukuh/Dusun tersendiri, konon pernah menjadi bagian dari Dukuh Kewangen brang wetan.
Adapun cerita rakyat yang berkembang tentang asal usul Dukuh/Dusun Kesambi sebagai berikut: Pada jaman dahulu kala, dulu berupa huta lebat, didalam hutan tersebut terdapat pohon yang berukuran sangat besar, tinggi dan berdaun sangat lebat.
Penduduk setempat tidak mengetahui itu pohon jenis apa. Entah karena diterjang angin kencang atau karena ditebang seseorang, tiba-tiba pohon itu tumbang kearah sebelah barat.
Akarnya ada di sebelah timur dan batangnya ada di sebelah barat. Karena penduduk merasa penasaran, maka mereka pun menelusuri pohon tersebut dari dari akar sampai ke ujung batangnya.

Tatkala sampai ke ujung batang terlihatlah ada seorang nenek-nenek sudah tua, “ngendiko” (bilang): Wit Kesambi iki wis rubuh, tegese minongko syarat yen wewengkon alas kene wis bisa diwiwiti olehe podo trukah. Namung aku mung weling, mbesuk ana rejaning jaman, wewengkon kene jenengi “Kesambi”.
Seteleh bicara demikian nenek-nenek tersebut mukso atau menghilang. Sekitar tempat menghilangnya nenek-nenek tersebut dijadikan tempat pemakaman umum yang bernama Makam Nyi Syarat.
Blengketnya/menyatunya Dukuh/Dusun Karangasem, Kewangen, Klepubener, Ampel dan Kesambi menjadi satu wilayah dengan nama “Desa Karangsari”. Ini tepat pada hari Minggu Pon tanggal 10 Muharam 1354 H, bertepatan dengan Tanggal 14 April 1935.
Kepala Desa yang menjabat pertama kali adalah Wangsa Dimeja. Kemudian dilanjutkan secara berturut-turut sebagai berkut: Prawiro Wardoyo (Saikho), Solehan Afandi, Selo KS (Pjs. Kepala Desa), H.A.S Soewirjo, R. Soeratmo, Masngidah, S,Pd.I, Hj. Ailafdijah dan Endrata (saat sekarang jabatan periode kedua).
Demikian secara singkat sejarah berdirinya Desa Karangsari Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















