KARANGANYAR, Kebumen24.com,- Nasib baik sepertinya belum didapatkan oleh para petani. Ini setelah diombang ambingkan dengan langka dan mahalnya pupuk kimia, kini hasil panen mereka dihargai murah di pasaran, yakni dihargai Rp 410 ribu hingga Rp 420 ribu per kuintal.
Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Sinar Mutiara Kelurahan Panjatan, Kecamatan Karanganyar Purnomo Singgih saat ditemui baru baru ini mengatakan, setiap tahun para petani, utamanya di Kebumen memang selalu dihadapkan dengan permasalahan klasik. Baik itu mahalnya pupuk maupun murahnya hasil panen di tingkat petani.
Kendati begitu, permasalahan tersebut sebenarnya bisa diatasi. Yakni dengan cara jika petani mau beralih ke pupuk organik. Pupuk ini dinilai lebih mudah dalam pembuatanya. Yaitu hanya dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita mulai dari daun daunan, pohon pisang yang telah mati, maupun kotoran hewan ternak yang dipelihara.
Menurutnya, dengan pertanian organik diharga gabah yang saat ini mencapai Rp 410 ribu per kuintal, para petani sudah bisa mendapatkan untung. Karena memang, biaya produksi bisa turun 30 sampai 40 persen.
” Saya tidak pake pupuk nggak ada keluar untuk biaya produksi pemupukan, pake penyemprotan hama saya nggak pake sehinga kalo pake organik jauh lebih murah haslinya sama, tapi pemasaran berbeda karena kita menciptakan pasar sendiri,” Ujarnya.
Dikatakan, petani yang menggunakan pupuk kimia paling tidak perhektar lahan menghabiskan pupuk urea sebanyak 150 kg, NPK 150 Kg. Yang kalo dihitung biaya satu hektarnya sekitar Rp 1.500.000,- itupun menggunakan pupuk subsidi dari pemerintah, dan apabila tidak menggunakan pupuk subsidi makan pengeluaran bisa mencapai 3 kali lipatnya, hanya untuk biaya pupuk.
” Satu hektar untuk biaya perawatan menggunakan pupuk kimia mencapai Rp 6 sampai Rp 7 juta modalnya. Satu hektar keluar 7 ton kalo itu diselip paling jadi 3,5 ton beras,” Ucapnya.
Dikatakan, untuk pembuatan pupuk organik cukup mudah dan bahan bahannya bisa ditemui di lingkungan. Namun, kebayakan petani tidak mau repot karena memang ada proses untuk pembuatannya.
Dan juga untuk beralih ke pupuk organik di awal awal memakan waktu cukup lama, karena harus membentuk unsur hara di dalam tanah. Yang paling tidak memakan waktu sekitar 1,5 tahun agar tanah kembali menjadi gembur, yang ditandai dengan dalamnya lumpur di areal pertanian.
Pemerintah juga memiliki program Climate, Smart and Agricultur (CSA) terkait dengan perubahan iklim. Sehingga petani diarahkan untuk pertanian yang ramah lingkungan.
” Berdasarkan kondisi alam saat ini bagaimana dia mengikuti beradaptasi dengan iklim, Kebumen paling besar,” Jelasnya.(k24/imam)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















