PEJAGOAN, Kebumen24.com,- Selain dikenal dengan potensi pembuatan Genteng, masyarakat Desa Logede ternyata juga memiliki usaha pembuatan tempe. Dimana produk pangan tersebut sangat digemari oleh masyarakat Indonesia terutamanya Kebumen.
Salah seorang pengrajin Tempe di desa tersebut Muhammad Kholidun mengaku sudah 12 tahun menjadi pengrajin tempe. Dalam sehari rata rata mampu memproduksi 1,7 kwintal kedelai, atau sekitar 3300 buah tempe. Namun, seiring banyaknya permintaan masyarakat, saat ini meningkat dua kali lipat. Apalagi saat musim hajatan.
Adapun proses pembuatanya, yakni mulai dari perebusan bahan baku berupa kedelai hingga matang, mencuci hingga merendam kedelai hingga satu malam. Kemudian dikukus, proses peragian dan dibungkus plastik.
‘’Untuk jenis tempe ada dua macam, tempe biasa dan tempe tipis untuk bahan tempe mendoan. ” ucapnya saat ditemui Selasa, 30 November 2021
Sedangkan untuk harganya, yakni Rp 1000,- per buahnya. Pemasaran hanya wilaayah pasar Sruweng dan Pasar Klirong. Kendati begitu, saat ini harga kedelai belum setabil dan cenderung tinggi. Bahkan pernah menyentuh harga Rp 10.400,-/ Kilogram nya.
‘’ Ini disebabkan adanya wabah covid 19 sehingga impor kedelai ditutup. Akan tetapi, kini harga kedelai di pasaran sudah mulai setabil yakni di angka Rp 9.850,-/ kilogram nya.’’imbuhnya.(k24/imam)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















