SEJARAH

Legenda Desa Jladri Buayan: Dari Hamparan Lumpur hingga Menjadi Kampung Kehidupan

674
×

Legenda Desa Jladri Buayan: Dari Hamparan Lumpur hingga Menjadi Kampung Kehidupan

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul sebuah desa yang lahir dari perpaduan legenda, perjuangan, dan semangat kebersamaan masyarakat. Desa itu adalah Jladri, sebuah wilayah yang konon dahulu hanyalah hamparan lumpur luas hasil endapan laut selama ribuan tahun.

Cerita turun-temurun masyarakat menyebutkan, sebelum menjadi permukiman seperti sekarang, wilayah Jladri merupakan kawasan rawa dan hutan lebat yang sulit dihuni. Tanahnya berlumpur dan sering tergenang air karena berada di jalur pasang surut Samudera Hindia.

Dari Laut Menjadi Daratan

Seiring berjalannya waktu, endapan tanah perlahan membentuk daratan. Namun kondisi alam yang masih liar membuat wilayah tersebut belum tersentuh kehidupan manusia.

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, perubahan mulai terjadi ketika datang seorang tokoh sakti bernama Suryanegara. Ia dikenal sebagai abdi dalem keraton yang memilih meninggalkan lingkungan istana karena tidak sejalan dengan kekuasaan kolonial Belanda.

Dalam pelariannya dari kejaran tentara kompeni, Suryanegara mengembara ke arah barat daya hingga tiba di wilayah yang saat itu masih berupa hutan berlumpur. Untuk menyamarkan identitasnya, ia kemudian mengganti nama menjadi Mbah Dipayasa.

Melihat kondisi wilayah tersebut, masyarakat kemudian menyebutnya Jladren, yang berarti tanah berlumpur. Lama-kelamaan sebutan itu berubah menjadi Jladri, nama yang digunakan hingga sekarang.

Para Pelarian yang Membangun Permukiman

Kisah tentang Mbah Dipayasa menyebar dan menarik sejumlah tokoh lain yang juga melarikan diri dari kekuasaan kolonial. Mereka di antaranya Mbah Kyai Bule, Mbah Rujak Beling, serta Syah Agung Alim.

Para tokoh tersebut kemudian menetap dan membuka wilayah yang kini menjadi bagian dari Desa Jladri.

  • Mbah Rujak Beling menetap di Dusun Londeng
  • Syah Agung Alim tinggal di Dusun Tlahab
  • Mbah Kyai Bule berada di wilayah Jladri Kidul

Bersama-sama mereka membuka hutan, mengolah tanah, dan mengubah kawasan berlumpur itu menjadi lahan pertanian serta permukiman yang layak dihuni.

Perlahan masyarakat mulai berdatangan dan kehidupan desa pun tumbuh.

Awal Terbentuknya Desa

Dalam kisah lain, Suryanegara juga dikenal dengan nama Nayawaskita. Bersama para pengikutnya, ia mulai mengajarkan bercocok tanam dan mengajak masyarakat menetap di wilayah tersebut.

Wilayah yang semula sepi kemudian berkembang menjadi sebuah desa. Setelah terbentuk, daerah Jladri dibagi dalam beberapa bagian yang dikelola oleh para tokoh perintisnya, antara lain Kyai Bule, Rujak Beling, Kyai Kabeh, dan Syah Agung Alim.

Para tokoh ini diyakini menjadi cikal bakal masyarakat Jladri yang kemudian berkembang dari generasi ke generasi.

Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa

Seiring perjalanan waktu, para tokoh pendiri tersebut wafat dan dimakamkan di wilayah Jladri. Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Tokoh yang tercatat sebagai kepala desa awal adalah Kartodiharjo, yang memimpin wilayah Jladri Londeng pada tahun 1913 hingga 1933.

Setelah masa kepemimpinannya berakhir, masyarakat sepakat menyatukan wilayah Jladri menjadi satu pemerintahan desa. Dalam pemilihan yang digelar saat itu, Yawiredja terpilih sebagai kepala desa.

Yawiredja dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan dekat dengan rakyat. Ia memimpin cukup lama, yakni dari 1933 hingga 1972.

Pada masa kepemimpinannya, masyarakat bergotong royong membeli tanah sekitar 19 hektare yang sebelumnya merupakan milik pejabat kolonial Belanda. Tanah tersebut kemudian dinamai Ciptamulya, yang dimaknai sebagai tanah untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Hasil dari tanah itu dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, mulai dari kebutuhan adat, membantu warga kurang mampu, hingga lahan pertanian masyarakat.

Masa Pembangunan Desa

Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh putra Yawiredja, Turisman Siswodiharjo, yang menjabat selama dua periode dari 1972 hingga 1998. Pada masa ini pembangunan desa mulai berkembang, baik dari segi infrastruktur, ekonomi, maupun kehidupan sosial masyarakat.

Pemilihan kepala desa berikutnya digelar pada tahun 1999, dan dimenangkan oleh Sukimin Suhardjo. Pada era ini Desa Jladri mulai mendapatkan berbagai program pembangunan pemerintah seperti DKP, PPK, serta program sertifikasi tanah bagi masyarakat.

Selanjutnya kepemimpinan desa diteruskan oleh Sudi. Pada masa pemerintahannya berbagai program pembangunan desa terus berjalan, termasuk PNPM, ADD, hingga bantuan dari pemerintah provinsi.

Salah satu bantuan yang tercatat datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 sebesar Rp100 juta melalui program Bali Ndeso Mbangun Ndeso untuk mendorong perekonomian masyarakat desa.

Tradisi Merdi Dusun yang Tetap Hidup

Selain memiliki sejarah panjang, Desa Jladri juga dikenal dengan tradisi budaya yang masih dijaga hingga kini, yaitu Merdi Dusun atau selamatan dusun.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah musim panen sebagai bentuk rasa syukur masyarakat. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh warga desa.

Setiap dusun memiliki cara tersendiri dalam merayakannya, di antaranya:

  • Penyembelihan kambing atau kerbau sebagai simbol rasa syukur
  • Kenduri atau makan bersama warga
  • Pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang sarat doa dan harapan agar desa dijauhkan dari bencana serta diberi hasil panen yang melimpah.

Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga mempererat persatuan masyarakat.

Desa yang Tumbuh dari Sejarah

Kini Desa Jladri telah berkembang menjadi desa yang hidup dan dinamis. Dari wilayah yang dahulu hanya berupa lumpur dan hutan, Jladri tumbuh menjadi kampung yang menyimpan nilai sejarah, budaya, serta semangat gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Legenda para tokoh perintisnya masih hidup dalam cerita masyarakat, menjadi pengingat bahwa sebuah desa besar sering kali lahir dari perjuangan panjang dan kebersamaan warganya.

Suumber: Website desa Jladri


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.