PURING, Kebumen24.com,- Warga Desa Pasuruhan dan Desa Weton kulon terpaksa harus melewati Jembatan bambu yang rusak untuk beraktifitas sehari hari. Bahkan kondisinya cukup memprihatinkan, dengan tiang Jembatan yang semakin lama kian miring.
Hal tersebut terjadi akibat Jembatan sungai Telomoyo ambruk diterjang banjir beberapa waktu lalu. Untuk itu, warga membangun jembatan darurat untuk beraktifitas, namun karena material jembatan terbuat dari kayu dan bambu, kondisinya rawan roboh.
Warga juga mengeluhkan sulitnya untuk beraktifitas setiap harinya. Terlebih ketika hujan, maka kondisi jembatan darurat tersebut licin, dan rawan terjadinya kecelakaan.
Suroso, salah seorang warga mengatakan, setiap harinya melintas jembatan ini yang merupakan akses penghubung utama warga. Baik untuk kegiatan ekonomi dan siswa sekolah.
‘’Setiap pagi hari jembatan ini selalu ramai digunakan oleh warga untuk mengantarkan anak kesekolah, dan juga masyarakat yang akan pergi bekerja. Sehingga dibutuhkan kehati harian ekstra bagi warga yang melintas, karena biasanya di pagi hari jembatan tersebut licin.’’ungkapnya, Sabtu, 10 Desember 2022.
Menurutnya selama ini belum ada perhatian dari pemerintah untuk membangun kembali jembatan Telomoyo yang ambruk. Hanya saja beberapa waktu lalu, sudah ada kunjungan dari PU, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya.
Sementara itu Kepala Desa Pasuruhan Masnan mengatakan terkait kondisi jembatan tersebut, warga sudah melakukan audensi dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kebumen, untuk meminta kejelasan perbaikannya. Namun, hingga kini jembatan Telomoyo yang ambruk belum juga kembali di bangun.
Pihaknya berharap pada tahun 2024 mendatang, jembatan sungai Telomoyo ini sudah bisa dibangun. Karena jembatan tersebut merupakan akses utama ekonomi dan pendidikan warga.
” Untuk perhatian dari pemerintah selama ini saya rasa belum maksimal, dalam artian sempat waktu itu kita audensi sekitar tanggal 7 bukan Desember tahun 2022 bersama PU, kita minta kejelasan terkait penanganan bencana Jembatan yang rusak ini, harapan kami dari PU maksimal tahun 2024 harus sudah ada realisasi untuk pembangunan jembatan,” ujarnya.
Dijelaskannya, bahwa jembatan ini merupakan jalur alternatif yang cukup ramai, karena merupakan jalur penghubung dua desa dan dua kecamatan Puring dan Kecamatan Buayan. Menurutnya jembatan ini sangat dibutuhkan, karena apabila mencari jalur lain maka jaraknya akan lebih jauh.
“Jembatan yang rusak ini dibangun tahun 2010 kurang lebih, ini tahun 2022 rusak dari bulan Maret sampai sekarang sekitar 8 bulanan, jembatan ini menjadi penghubung ekonomi karena pedagang mayoritas juga lewat sini dan akses yang termasuk alternatif yang cukup ramai karena di lebaran pun merupakan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan dijalan disini juga cukup padat dalam artian beberapa tahun ini yang lewat sini sangat maksimal, ya mungkin pedagang kecil pedagang besar maupun petani merupakan akses yang sangat dibutuhkan karena tanpa jembatan ini, mereka akhirnya harus mencari jalan alternatif yang sangat jauh jaraknya,” pungkasnya.(k24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















