GOMBONG, Kebumen24.com – Dosen Universitas Muhammadiyah Gombong (Unimugo) Prodi Keperawatan Program Sarjana, Putra Agina Widyaswara Suwaryo, memaparkan penelitian tentang perubahan gejala dan kualitas hidup pasien selama masa pemulihan setelah mengalami cedera otak traumatik. Paparan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pada Wisuda Periode II Tahun 2026 program Diploma, Sarjana, dan Profesi di Ruang Rektorat Lantai 3 Unimugo, Sabtu (10/10/2026).
Mengangkat tema “Perubahan Gejala dan Kualitas Hidup Selama Pemulihan Pasien Setelah Cedera Otak Traumatik”, orasi ilmiah ini menyoroti pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi pasien setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Pasalnya, pasien yang telah diperbolehkan pulang belum tentu sepenuhnya pulih dan masih dapat mengalami berbagai keluhan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Putra menjelaskan, cedera otak traumatik merupakan persoalan kesehatan yang dampaknya bisa berlangsung dalam jangka panjang. Pasien dapat mengalami sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, gangguan ingatan, hingga perubahan suasana hati. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga hubungan keluarga, kemandirian, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Karena itu, menurutnya, keberhasilan pemulihan tidak cukup dinilai dari kondisi pasien saat keluar dari rumah sakit. Pemantauan perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan gejala, kemampuan menjalani aktivitas, serta bantuan yang masih dibutuhkan pasien selama proses pemulihan.
Dalam orasi tersebut, Putra memaparkan penelitian terhadap 64 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri atas 32 pasien. Kelompok pertama mendapatkan pendampingan pemulihan terstruktur, sedangkan kelompok kedua menerima perawatan standar. Perkembangan kedua kelompok diamati pada awal penelitian, bulan pertama, dan bulan ketiga.
Penilaian dilakukan menggunakan Rivermead Post-Concussion Symptoms Questionnaire (RPQ) untuk mengukur gejala pascacedera dan Quality of Life after Brain Injury (QOLIBRI) untuk menilai kualitas hidup pasien. Melalui kedua instrumen tersebut, peneliti dapat melihat perkembangan pemulihan, baik dari berkurangnya keluhan maupun peningkatan kualitas hidup.
Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata skor gejala pada kelompok yang memperoleh pendampingan terstruktur turun dari 25,71 pada awal penelitian menjadi 21,34 pada bulan pertama dan 10,37 pada bulan ketiga. Sementara itu, pada kelompok pembanding, skor relatif tetap, yakni dari 22,53 pada awal penelitian menjadi 22,46 pada bulan ketiga.
Perubahan juga terlihat pada kualitas hidup pasien. Rata-rata skor QOLIBRI kelompok intervensi meningkat dari 116,12 pada awal penelitian menjadi 124,46 pada bulan pertama dan 133,75 pada bulan ketiga. Adapun kelompok pembanding mengalami perubahan yang lebih kecil, dari 120,71 menjadi 121,81 pada bulan ketiga.
Temuan tersebut menunjukkan adanya pola penurunan keluhan dan peningkatan kualitas hidup yang lebih besar pada kelompok dengan pendampingan terstruktur. Meski demikian, hasil rata-rata tersebut perlu dipahami sesuai rancangan penelitian dan analisis statistik, karena perkembangan setiap pasien dapat berbeda. Pemantauan secara berkala tetap diperlukan agar tenaga kesehatan dapat menyesuaikan pendampingan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Selain memaparkan hasil penelitian, Putra menjelaskan konsep neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan mengorganisasi kembali fungsinya. Latihan yang dilakukan secara berulang dan sesuai kebutuhan, dukungan keluarga, serta pelayanan yang tepat dapat mendukung proses pemulihan. Namun, ia menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak mengukur neuroplastisitas secara langsung.
Ia juga menekankan bahwa pemulihan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga, hingga lingkungan sosial. Edukasi sebelum pasien pulang dari rumah sakit, pemantauan lanjutan di rumah, serta akses terhadap bantuan yang sesuai menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan pelayanan.
Menutup orasinya, Putra mengajak para wisudawan dan wisudawati Unimugo untuk menjadikan ilmu yang diperoleh selama kuliah sebagai bekal dalam memahami kebutuhan manusia dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia berpesan agar para lulusan terus belajar, menggunakan bukti ilmiah secara jujur, serta mengutamakan kepedulian dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.
“Ketika menghadapi persoalan masyarakat, mulailah dengan mendengarkan, lalu gunakan keahlian Saudara untuk menghadirkan bantuan yang tepat. Di situlah pendidikan tinggi menemukan manfaatnya bagi kehidupan,” pesannya.
Orasi ilmiah tersebut menegaskan bahwa pemulihan pasien cedera otak traumatik merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan pemantauan, pendampingan, dan kerja sama berbagai pihak agar pasien dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik. (K24/Ilham)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.














