KEBUMEN, Kebumen24.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, kemampuan menggunakan internet secara bijak menjadi bekal penting bagi generasi muda. Berangkat dari semangat tersebut, SMK Mutiara Kebumen menghadirkan materi Literasi Digital, Etika Bermedia Sosial, Hoaks, dan Cyberbullying dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun 2026, Selasa (14/7/2026).
Materi tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kebumen sekaligus Jurnalis Kebumen24.com, M. Tohri, yang mengajak para peserta didik baru menjadi generasi digital yang cerdas, kritis, santun, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Dalam pemaparannya, M. Tohri menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan telepon pintar atau menggunakan media sosial, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menjaga etika berkomunikasi, hingga bertanggung jawab atas setiap aktivitas di ruang digital.
“Teknologi bukan musuh kita. Yang berbahaya adalah ketika kita tidak mampu mengendalikan cara menggunakannya,” ujarnya saat membuka sesi penyampaian materi.
Suasana berlangsung hangat dan interaktif. Sebelum memasuki materi utama, narasumber mengajak siswa mengikuti sesi ice breaking dengan berdiskusi mengenai kebiasaan menggunakan gawai sehari-hari. Mulai dari membuka WhatsApp, Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, Telegram hingga X, para siswa diajak merefleksikan apakah teknologi lebih banyak dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, atau justru sekadar hiburan.
Mengacu pada pengertian dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, literasi digital dijelaskan sebagai kemampuan menggunakan teknologi digital secara cerdas, aman, kritis, dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut meliputi mengakses informasi, memahami isi informasi, memverifikasi kebenaran sumber, berkomunikasi secara santun, menciptakan konten positif, serta menjaga keamanan data pribadi.
Selain membuka berbagai peluang untuk belajar, berkomunikasi, berkarya, hingga berwirausaha, internet juga memiliki berbagai risiko yang perlu diwaspadai. Di antaranya penyebaran hoaks, penipuan daring, perjudian online, pornografi, pencurian akun, hingga kebocoran data pribadi.
Dalam sesi etika bermedia sosial, M. Tohri mengingatkan bahwa setiap komentar, unggahan maupun pesan yang dikirim di dunia maya memiliki konsekuensi dan dapat berdampak luas terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Ia juga menekankan pentingnya memahami jejak digital. Menurutnya, setiap aktivitas di internet akan meninggalkan rekam jejak yang sulit dihapus sepenuhnya.
“Foto, video, komentar, chat, status, bahkan tanda suka maupun unggahan ulang dapat menjadi jejak digital. Meskipun sudah dihapus, bukan berarti benar-benar hilang karena sangat mungkin telah disimpan atau diabadikan orang lain,” jelasnya.
Karena itu, para siswa diajak membiasakan menerapkan prinsip THINK sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, yaitu memastikan informasi yang dibagikan benar (True), bermanfaat (Helpful), menginspirasi (Inspiring), diperlukan (Necessary), dan disampaikan dengan santun (Kind).
Narasumber juga mengingatkan berbagai perilaku yang masih sering dilakukan remaja di media sosial, seperti menghina teman, melakukan body shaming, menyebarkan foto tanpa izin, membuat akun palsu, membocorkan data pribadi, hingga menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Materi mengenai hoaks menjadi salah satu pembahasan utama. Para peserta diajak mengenali ciri-ciri informasi palsu, seperti penggunaan judul bombastis, huruf kapital berlebihan, narasi yang memancing emosi, tidak mencantumkan sumber yang jelas, hingga penggunaan foto yang tidak sesuai konteks.
Untuk mencegah penyebaran informasi palsu, siswa diimbau membiasakan membaca berita secara utuh, memeriksa tanggal publikasi, mengecek alamat situs, membandingkan dengan media terpercaya, memastikan sumber resmi, menggunakan logika, serta tidak tergesa-gesa membagikan informasi.
“Saring sebelum sharing harus menjadi kebiasaan setiap pengguna media sosial,” tegasnya.
Tak kalah penting, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai bahaya cyberbullying, yaitu tindakan menyakiti, mengintimidasi, mempermalukan, atau mengancam seseorang melalui media digital. Bentuknya dapat berupa ejekan, body shaming, penyebaran rumor, hingga mempermalukan seseorang di media sosial.
Menurut M. Tohri, cyberbullying bukan sekadar candaan karena dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental korban, mulai dari stres, kehilangan rasa percaya diri, depresi, trauma, hingga menurunnya prestasi belajar.
Ia mengimbau siswa yang menjadi korban cyberbullying agar tidak membalas tindakan pelaku, menyimpan bukti percakapan, melakukan tangkapan layar, memblokir akun pelaku, dan segera melaporkannya kepada orang tua, guru, wali kelas, maupun aparat penegak hukum apabila diperlukan.
Selain itu, siswa juga dibekali materi mengenai keamanan digital, seperti pentingnya menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), menjaga kerahasiaan kode OTP, tidak mudah mengklik tautan mencurigakan, serta membatasi informasi pribadi yang dibagikan di media sosial.
Pada sesi penutup, M. Tohri mengingatkan bahwa media sosial bukanlah ruang bebas tanpa aturan. Setiap pengguna memiliki tanggung jawab moral maupun hukum atas setiap unggahan yang dibuat, termasuk terkait penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, penyebaran data pribadi tanpa izin, hingga pelanggaran hak cipta.
Ia mengajak seluruh siswa memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar, berkarya, mengembangkan keterampilan, memperluas jejaring, serta menyebarkan inspirasi positif.
“Jari kita memang kecil, tetapi setiap kata yang kita ketik dapat membawa manfaat besar atau justru menimbulkan kerugian bagi banyak orang. Karena itu, berpikirlah sebelum mengetik, saring sebelum berbagi, dan jadilah teladan dalam setiap jejak digital yang kita tinggalkan,” pesannya.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta diajak mengingat tiga prinsip utama dalam bermedia digital, yakni Berpikir Sebelum Mengetik, Saring Sebelum Berbagi, dan Bijak Sebelum Viral sebagai bekal menjadi generasi digital yang cerdas, santun, bertanggung jawab, serta mampu menciptakan ruang digital yang sehat dan positif. (K24)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















