KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, menyimpan perjalanan sejarah panjang yang bermula sejak masa penjajahan Belanda. Dahulu, wilayah ini terdiri dari dua desa terpisah, yakni Desa Ubil di bagian barat dan Desa Baling di bagian timur.
Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1922, Pemerintah Hindia Belanda melakukan penggabungan kedua desa tersebut menjadi satu wilayah administratif dengan nama Tegalretno. Nama ini diambil oleh tokoh masyarakat sekaligus kepala desa saat itu, Sura Semita.
Secara etimologis, Tegalretno berasal dari dua kata, yaitu “tegal” yang berarti lahan, dan “retno” yang berarti intan. Dengan demikian, Tegalretno dimaknai sebagai “lahan yang berharga”, mencerminkan potensi dan nilai penting wilayah tersebut bagi masyarakatnya.
Pada masa kepemimpinan Sura Semita (1900–1922), sistem pemerintahan masih sangat sederhana. Pemilihan kepala desa dilakukan dengan cara unik yang disebut sistem dodokan, yaitu warga memilih dengan jongkok di depan calon yang didukungnya. Pusat pemerintahan saat itu masih berada di rumah kepala desa dan belum memiliki kantor resmi.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Cakra Wardaya (1922–1933), dengan sistem pemerintahan yang masih serupa. Struktur perangkat desa mulai terbentuk, seperti congkog (wakil kepala desa), carik (administrasi), kaum (urusan kemasyarakatan), pulisi (keamanan), dan kebayan (wilayah/dusun). Sistem penggajian dilakukan melalui pemberian tanah bengkok dari kas desa.
Memasuki masa kepemimpinan Sugeng (1933–1966), sistem pemilihan kepala desa mulai berkembang menjadi lebih demokratis melalui metode “gitingan” atau “bumbungan”, yakni menggunakan lidi yang dimasukkan ke dalam bambu sebagai bentuk suara. Pada masa ini, Desa Tegalretno juga menjadi salah satu basis kegiatan para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Kondisi tersebut sempat memengaruhi keuangan desa hingga akhirnya masyarakat sepakat menjual sebagian tanah kas desa untuk mendukung logistik para pejuang.
Perkembangan signifikan terjadi pada masa kepemimpinan Slamet Khusnudin (1966–1988). Pemerintahan desa mulai tertata lebih baik, termasuk administrasi kependudukan dan pembagian tugas perangkat desa. Pada periode ini pula, Desa Tegalretno mulai memiliki kantor desa yang representatif, hasil tukar guling tanah dengan masyarakat.
Selain itu, roda perekonomian mulai bergerak dengan masuknya investor, seperti dari Pabrik Gula Madukismo yang mengembangkan perkebunan tebu di wilayah tersebut. Kegiatan ekonomi lain seperti penanaman kapas dan rosella juga turut membuka lapangan kerja bagi warga.
Pembangunan infrastruktur juga mulai dirasakan, di antaranya pembangunan sekolah dasar melalui dana Inpres pada tahun 1978, serta pembangunan kantor dan balai desa pada tahun 1979. Program bantuan bibit kelapa pada tahun 1988 turut memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Pasca kepemimpinan Slamet Khusnudin, Desa Tegalretno dipimpin oleh beberapa kepala desa, mulai dari Abu Khamdi (1988–1998), Moh. Mukhrodin (1998–2007), Anwar Fajrin (2007–2013), hingga Supriyanto yang menjabat sejak 2013 dan berlanjut hingga saat ini.
Sejarah panjang Desa Tegalretno menjadi cerminan semangat perjuangan, gotong royong, dan kemandirian masyarakat dalam membangun desa. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi penerus demi mewujudkan desa yang semakin maju dan sejahtera.
Sumber:Website Resmi Desa Tegalretno – Desa Tegalretno Kebumen https://tegalretno.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/96
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















